RPS FT12414 · Ganjil 2026/2027
Struktur Beton Bertulang I
Sifat beton dan baja tulangan, lalu analisis dan desain balok serta pelat satu arah terhadap lentur dan geser sesuai SNI 2847, sampai menyusun lembar kerja perhitungan sendiri.
Gedung kuliah dua lantai yang menjadi kasus berjalan semester ini. Seret untuk memutar, cubit atau gulir untuk memperbesar.
Cara belajar di kelas ini
Kasus berjalan: Gedung Kuliah Teknik, Meulaboh
Satu balok dan satu pelat dari gedung kuliah dua lantai dipakai sejak pertemuan 2 sampai 15. Mahasiswa melihat bagaimana satu elemen berkembang dari pembebanan, kapasitas lentur, geser, sampai lendutan, lalu diotomasi dalam lembar kerja.
| Elemen | Data | Dipakai di pertemuan |
|---|---|---|
| Balok B1, lantai 2 | Bentang 6 m tumpuan sederhana, 300 × 500 mm, qD = 18 kN/m, qL = 8 kN/m, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa | 2, 3, 4, 5, 10, 12, 13, 14, 15 |
| Pelat S1, ruang kelas | Bentang 3,5 m, beban mati tambahan 1,5 kN/m², beban hidup 1,92 kN/m² | 11, 15 |
Capaian pembelajaran
| Kode | Rumusan |
|---|---|
| CPL-2 | Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif serta memanfaatkan teknologi informasi dan perangkat digital dalam pengembangan dan penerapan ilmu teknik sipil. |
| CPL-4 | Mampu menerapkan pengetahuan matematika, sains alam, ilmu material, dan dasar-dasar rekayasa untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang prinsip teknik sipil. |
| CPL-5 | Mampu mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah rekayasa kompleks di bidang struktur, geoteknik, transportasi, sumber daya air, dan manajemen konstruksi. |
| CPMK-1 | Mahasiswa mampu menerapkan sifat mekanik beton dan baja tulangan serta konsep kekuatan batas pada penampang beton bertulang. |
| CPMK-2 | Mahasiswa mampu menganalisis dan mendesain balok serta pelat satu arah terhadap lentur dan geser sesuai SNI 2847. |
| CPMK-3 | Mahasiswa mampu menggunakan lembar kerja untuk menghitung kapasitas dan tulangan penampang secara sistematis. |
Rencana pembelajaran 16 minggu
| Mg | Materi | CPMK | Penilaian | Bobot |
|---|
Rencana evaluasi
| Unsur nilai | Metode | CPMK-1 | CPMK-2 | CPMK-3 | Total |
|---|---|---|---|---|---|
| Kuis | Kognitif – kuis | 12 | 4 | 0 | 16 |
| UTS | Kognitif – ujian tengah semester | 8 | 7 | 0 | 15 |
| UAS | Kognitif – ujian akhir semester | 10 | 8 | 2 | 20 |
| Partisipasi | Aktivitas partisipatif | 20 | 9 | 0 | 29 |
| Case method | Kognitif – tugas | 0 | 12 | 8 | 20 |
| Jumlah | 50 | 40 | 10 | 100 |
Pustaka
- Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 2847:2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung dan Penjelasan. BSN.
- McCormac, J. C., & Brown, R. H. (2015). Design of Reinforced Concrete (10th ed.). John Wiley & Sons.
- Wight, J. K. (2016). Reinforced Concrete: Mechanics and Design (7th ed.). Pearson.
- Pendukung: Setiawan, A. (2016). Perancangan Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SNI 2847:2013. Erlangga.
Satuan: gaya kN, momen kNm, dimensi mm, tegangan MPa (N/mm²), desimal memakai koma. Media: Microsoft Excel, laptop, layar, proyektor.
Minggu 1 · CPMK-1
Beton menahan tekan, baja menahan tarik
Beton bertulang adalah pembagian kerja: masing-masing material ditempatkan di tempat ia paling kuat, dan keduanya dipaksa bergerak bersama oleh lekatan.
Sebatang beton 15 × 15 cm patah bila ditekuk dengan tangan dan palu. Mengapa jembatan dari bahan yang sama bisa dilewati truk 30 ton?
Diskusikan berpasangan 3 menit sebelum melanjutkan.Benda uji silinder 150 × 300 mm untuk menentukan f'c, dan batang ulir dengan sirip yang mengunci batang ke beton.
Konsep inti mekanisme fisik
Beton adalah batuan buatan. Agregat kasar dan halus diikat oleh pasta semen yang mengeras melalui hidrasi. Bahkan sebelum dibebani, sudah ada retak mikro di bidang batas antara pasta dan agregat.
Mengapa lemah tarik. Saat ditekan, retak mikro cenderung merapat sehingga beton bisa menahan tegangan besar. Saat ditarik, retak mikro terbuka dan menjalar dengan cepat. Akibatnya kuat tarik beton hanya sekitar 10% kuat tekannya, dan keruntuhan tarik terjadi tiba-tiba.
Baja liat dan seragam. Baja meregang elastis sampai leleh, lalu memanjang jauh tanpa putus. Sifat ini memberi tanda peringatan sebelum runtuh.
Syarat komposit. Kedua material bisa bekerja sama karena tiga hal:
- Lekatan: sirip batang ulir mengunci batang ke beton, sehingga selama lekatan utuh, regangan baja sama dengan regangan beton di sekitarnya.
- Muai termal hampir sama: beton sekitar 10 × 10⁻⁶/°C dan baja sekitar 12 × 10⁻⁶/°C. Perbedaannya kecil, sehingga perubahan suhu sehari-hari tidak merusak lekatan.
- Selimut beton: lingkungan basa di dalam beton (pH sekitar 12,5–13) membentuk lapisan pelindung tipis di permukaan baja. Lapisan ini rusak bila klorida dari laut atau karbonasi menembus selimut, dan sejak itu baja mulai berkarat. Selimut juga menahan panas saat kebakaran.
Simulasi di atas menjawab pertanyaan pemantik. Balok polos runtuh begitu beton retak. Balok bertulang retak pada momen yang hampir sama (tulangan hanya menaikkannya sedikit), tetapi setelah retak baja mengambil alih gaya tarik dan balok masih memikul beban beberapa kali lipat.
Sifat mekanik dan rumus
Visualisasi material beton tiga simulasi
Tiga simulasi berikut memperlihatkan hal yang tidak terlihat dari luar: retak mikro di dalam beton, pori yang ditinggalkan air, dan kekuatan yang terus tumbuh selama semen masih berhidrasi.
1. Menyelami beton: retak mikro saat ditarik dan ditekan
Potongan beton diperbesar sekitar 10 kali. Butir abu-abu adalah agregat, latar terang adalah pasta semen. Bidang batas di antara keduanya (zona transisi antarmuka) adalah bagian terlemah. Naikkan tegangan dan bandingkan perilaku tarik dengan tekan.
2. Rasio air–semen dan pori kapiler
Semen hanya memerlukan air sekitar 0,25 kali beratnya untuk bereaksi penuh, dan sedikit air tambahan terperangkap di pori gel. Air di atas kebutuhan itu membuat beton mudah dicor, tetapi setelah menguap meninggalkan pori kapiler. Pori inilah yang menurunkan kekuatan dan menjadi jalan masuk air laut.
3. Kekuatan bertambah dengan umur dan perawatan
Beton tidak "kering lalu kuat". Beton menguat karena semen bereaksi dengan air, dan reaksi itu berhenti bila beton kehilangan air terlalu cepat. Karena itu f'c ditetapkan pada umur 28 hari dan beton harus dirawat basah setelah dicor.
Bedah soal 1: menerima atau menolak beton dari truk mixer
Beton untuk kolom gedung kuliah dipesan dengan f′c = 25 MPa. Tiga pasang silinder 150 × 300 mm umur 28 hari hancur pada beban 450 kN, 420 kN, dan 479 kN. Apakah beton diterima?
- Kuat tekan satu benda uji = beban/luas penampang silinder A = ¼π × 150² = 17.671 mm²
- f₁ = 450.000/17.671 = 25,5 MPa ; f₂ = 420.000/17.671 = 23,8 MPa ; f₃ = 479.000/17.671 = 27,1 MPa
- Syarat 1 (SNI 2847 Ps. 26.12.3): rata-rata tiga uji berurutan ≥ f′c (25,5 + 23,8 + 27,1)/3 = 25,5 MPa ≥ 25 MPa OK
- Syarat 2: tidak ada satu uji pun di bawah f′c − 3,5 MPa (untuk f′c ≤ 35 MPa) nilai terkecil 23,8 MPa ≥ 25 − 3,5 = 21,5 MPa OK
Beton diterima. Satu benda uji di bawah 25 MPa tidak otomatis berarti gagal: f′c adalah nilai yang diharapkan dilampaui sebagian besar benda uji, bukan batas mutlak setiap silinder.
Mengapa? Kekuatan beton selalu bervariasi karena air, pemadatan, dan perawatan tidak pernah persis sama. Itu sebabnya penerimaan memakai rata-rata dan batas bawah, dan perencana memakai faktor φ.
Bedah soal 2: sifat material dari f′c
Hitung modulus elastisitas, modulus runtuh, rasio modulus, dan regangan leleh untuk beton f′c = 30 MPa dan baja fy = 420 MPa.
- Modulus elastisitas beton normal Ec = 4.700√f′c = 4.700 × √30 = 25.743 MPa
- Modulus runtuh (kuat tarik lentur) fr = 0,62λ√f′c = 0,62 × √30 = 3,40 MPa
- Rasio modulus n = Es/Ec = 200.000/25.743 = 7,77
- Regangan leleh baja εy = fy/Es = 420/200.000 = 0,0021
Kuat tarik beton hanya 3,40 MPa, sekitar 11% dari kuat tekannya, dan baja 7,8 kali lebih kaku dari beton. Dua angka ini menjelaskan mengapa tulangan dipasang di sisi tarik.
Bedah soal 3: balok beton tanpa tulangan
Balok beton polos 200 × 300 mm bentang 3 m, f′c = 25 MPa, ditumpu sederhana. Berapa beban terpusat di tengah bentang yang membuatnya retak (dan langsung patah)?
- Modulus runtuh fr = 0,62√25 = 3,10 MPa
- Modulus penampang S = bh²/6 = 200 × 300²/6 = 3,0 × 10⁶ mm³
- Momen retak Mcr = fr·S = 3,10 × 3,0 × 10⁶ = 9,30 kNm
- Momen akibat berat sendiri q = 24 × 0,2 × 0,3 = 1,44 kN/m → M = 1,44 × 3²/8 = 1,62 kNm
- Sisa momen untuk beban P PL/4 = 9,30 − 1,62 → P = 4 × 7,68/3 = 10,2 kN
Balok seberat 432 kg ini patah bila ditambah beban sekitar 1 ton di tengahnya, dan patahnya tiba-tiba. Dengan tulangan 2D13, balok yang sama sanggup memikul beberapa kali lipat dan memberi tanda retak sebelum runtuh.
Latihan 1.1 — Silinder yang gagal
Pembahasan: Rata-rata 24,8 MPa < 25 MPa dan satu uji 20,5 < 21,5 MPa: kedua syarat gagal. Beton perlu diselidiki, misalnya dengan uji inti (core drill).
Miskonsepsi umum
Lekatan sudah bekerja sebelum retak, lalu mengapa beton tetap retak?
Karena baja dan beton terikat oleh lekatan, keduanya meregang sama. Beton retak begitu regangan tariknya mencapai εcr = fr/Ec, sekitar 0,00013 untuk f'c = 25 MPa. Pada regangan sekecil itu baja baru bertegangan sekitar Es·ε ≈ 20 MPa. Retak ditentukan oleh regangan, bukan oleh gaya, sehingga tulangan hanya menunda retak sedikit dengan menambah kekakuan penampang. Begitu retak terbentuk, gaya tarik yang tadinya dipikul beton pindah ke baja dan tegangan baja melonjak. Geser momen pada simulasi berikut melewati Mcr dan amati lonjakannya.
Setelah retak, lekatan tetap bekerja. Di antara dua retak, lekatan mengembalikan sebagian gaya tarik ke beton, sehingga beton di antara retak masih membantu kekakuan (tension stiffening). Lekatan pula yang menentukan jarak retak: makin baik lekatan dan makin banyak batang kecil, makin rapat retaknya dan makin halus lebarnya.
Mutu K dan f'c. Di proyek masih sering disebut "beton K-250". K adalah kuat tekan karakteristik kubus 15 cm dalam kg/cm². Kubus memberi angka lebih tinggi dari silinder, sehingga dipakai pendekatan f'c ≈ 0,83 × K/10: K-250 ≈ 20,75 MPa. Konversi ini hanya perkiraan; spesifikasi dan gambar kerja harus menyebut f'c silinder seperti di SNI 2847.
Pesisir Meulaboh. Gedung di dekat pantai dapat terpapar klorida dari percikan dan uap air laut. Perencana menetapkan kelas paparannya; untuk elemen yang basah dan terkena klorida dari luar (kelas C2), SNI 2847 Tabel 19.3.2.1 mensyaratkan rasio air–semen maksimum 0,40 dan f'c minimum 35 MPa. Di lingkungan pesisir, karat tulangan sering menjadi penyebab kerusakan sebelum kekuatan beton sendiri menjadi masalah.
Video pendukung buka di YouTube
Tonton sebelum atau sesudah kelas. Setiap video diberi satu pertanyaan pengarah untuk dibawa ke diskusi.
Why Concrete Needs Reinforcement
Practical Engineering · bahasa Inggris, teks otomatis tersedia
Tonton sambil mencari: bagaimana video menjelaskan perbedaan kuat tekan dan kuat tarik beton, dan apa peran tulangan setelah beton retak? Bandingkan dengan simulasi Mcr di atas.
Buka di YouTube ↗What is Concrete?
Bahasa Inggris · seri pengantar material beton
Tonton sambil mencari: apa saja bahan penyusun beton dan apa yang terjadi saat semen bereaksi dengan air? Hubungkan dengan simulasi rasio air–semen.
Buka di YouTube ↗Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder (SNI 1974:2011)
Bahasa Indonesia · materi pelatihan bidang pekerjaan umum
Tonton sambil mencari: bagaimana f'c dihitung dari beban maksimum dan luas penampang silinder, dan bagaimana benda uji disiapkan sebelum diuji?
Buka di YouTube ↗Concrete cylinder compressive strength test
Bahasa Inggris · rekaman uji laboratorium
Tonton sambil mencari: perhatikan bentuk pecahan silinder setelah runtuh. Bagaimana arah retaknya terhadap arah beban? Bandingkan dengan simulasi retak mikro mode tekan.
Buka di YouTube ↗Video dimiliki oleh kanal masing-masing di YouTube dan dapat dihapus atau diubah sewaktu-waktu oleh pemiliknya.
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa kuat tarik beton jauh lebih kecil dari kuat tekannya?
Retak mikro sudah ada di bidang batas pasta–agregat. Tekan cenderung merapatkannya; tarik membukanya.
Soal 2Jika koefisien muai baja dua kali koefisien muai beton, apa akibatnya pada siang hari yang panas?
Perbedaan muai menimbulkan tegangan di bidang kontak. Kesamaan koefisien muai adalah salah satu alasan beton bertulang bisa bekerja.
Bahan diskusi
Diskusi 1.1 — Benda di sekitar kampus
Latihan 1.2 — Sifat material f'c = 30 MPa
Jawaban: Ec = 25.743 MPa; fr = 3,40 MPa; β1 = 0,85 − 0,05(30 − 28)/7 = 0,836.
Minggu 2 · CPMK-1
Kekuatan rencana harus melampaui kekuatan perlu
Beban dan kekuatan yang sebenarnya terjadi di bangunan tidak pernah tepat sama dengan nilai rencana dalam perhitungan: mutu beton dari truk molen bervariasi, dimensi meleset, dan isi ruangan berubah setiap hari. Faktor beban dan faktor reduksi memberi jarak aman di antara keduanya, sehingga peluang kekuatan sebenarnya lebih kecil dari beban sebenarnya menjadi sangat kecil.
Sebuah balok dirancang agar kekuatannya tepat sama dengan beban rencana. Apakah balok itu aman? Berapa kira-kira peluangnya runtuh?
Balok B1 dengan beban mati (abu-abu) dan beban hidup (biru). Panah ikut berubah sesuai isian kalkulator kombinasi beban.
Konsep inti beban dan kekuatan adalah besaran acak
Beban hidup ruang kelas berubah setiap hari: kadang kosong, kadang penuh saat ujian. Kuat tekan beton dari satu truk molen berbeda dari truk berikutnya. Dimensi bekisting meleset beberapa milimeter. Karena itu beban Q dan kekuatan R lebih tepat dipandang sebagai sebaran peluang, bukan satu angka.
Keruntuhan terjadi bila R < Q. Makin besar tumpang tindih kedua sebaran, makin besar peluang hal itu terjadi. Daerah tumpang tindih pada grafik adalah gambaran visual; peluang runtuh yang sebenarnya dihitung dari selisih R − Q dan dinyatakan dengan indeks keandalan β. Faktor beban dan φ menuntut kekuatan nominal jauh di atas beban nominal, sehingga kurva kekuatan bergeser ke kanan menjauhi kurva beban.
Beban hidup diberi faktor 1,6 dan beban mati 1,2 karena beban hidup jauh lebih sulit diprediksi. Berat sendiri beton dapat dihitung teliti dari volume, sedangkan jumlah orang dan perabot di ruang kelas tidak.
Persamaan dasar desain kekuatan
| No. | Kombinasi (SNI 2847 Ps. 5.3.1, SNI 1727) | Dominan |
|---|---|---|
| 1 | 1,4D | Beban mati |
| 2 | 1,2D + 1,6L + 0,5(Lr atau R) | Beban hidup lantai |
| 3 | 1,2D + 1,6(Lr atau R) + (1,0L atau 0,5W) | Beban atap |
| 4 | 1,2D + 1,0W + 1,0L + 0,5(Lr atau R) | Angin |
| 5 | 1,2D + 1,0E + 1,0L | Gempa |
| 6–7 | 0,9D + 1,0W · 0,9D + 1,0E | Angkat dan guling |
| Faktor reduksi φ (Ps. 21.2) | φ | Alasan fisik |
|---|---|---|
| Lentur terkendali tarik | 0,90 | Baja leleh dulu, ada peringatan berupa lendutan dan retak lebar |
| Terkendali tekan, sengkang ikat | 0,65 | Beton hancur tiba-tiba |
| Geser dan torsi | 0,75 | Retak miring berkembang cepat dan getas |
Bedah soal: Balok B1 kasus berjalan
Balok B1 bentang 6 m memikul qD = 18 kN/m (berat sendiri balok, pelat 150 mm, dan finishing dari lebar tributari 3 m) dan qL = 8 kN/m (ruang kelas dan koridor). Untuk belajar, B1 disederhanakan sebagai balok di atas dua tumpuan sederhana; balok yang menyatu dengan kolom sebenarnya bekerja menerus dan dianalisis di Struktur Beton Bertulang II.
- Kombinasi 1 q_u = 1,4·18 = 25,2 kN/m
- Kombinasi 2 q_u = 1,2·18 + 1,6·8 = 21,6 + 12,8 = 34,4 kN/m (menentukan)
- M_u = 34,4·6²/8 = 154,8 kNm V_u = 34,4·6/2 = 103,2 kN
qu = 34,4 kN/m · Mu = 154,8 kNm · Vu = 103,2 kN. Angka ini dipakai sampai minggu 15.
Bedah soal 2: balok atap dengan beban hidup atap
Balok atap beton memikul qD = 12 kN/m. Beban hidup atap (pekerja dan peralatan saat perawatan) 0,96 kN/m² dengan lebar tributari 3 m. Tidak ada beban hidup lantai. Tentukan beban terfaktor.
- Beban hidup atap per meter qLr = 0,96 × 3 = 2,88 kN/m
- Kombinasi 1 1,4D = 1,4 × 12 = 16,80 kN/m
- Kombinasi 2 (L dominan, Lr dikali 0,5) 1,2D + 1,6L + 0,5Lr = 14,40 + 0 + 1,44 = 15,84 kN/m
- Kombinasi 3 (Lr dominan) 1,2D + 1,6Lr + L = 14,40 + 4,61 + 0 = 19,01 kN/m
qu = 19,01 kN/m dari kombinasi 3. Mahasiswa yang hanya menghafal "1,2D + 1,6L" akan mendapat 15,84 kN/m, kurang 17%.
Mengapa? Setiap kombinasi menganggap satu beban berada di nilai maksimumnya (faktor 1,6) sementara beban lain di nilai sesaat yang wajar. Kombinasi yang menentukan bergantung pada beban mana yang dominan, jadi semua kombinasi harus diperiksa.
Bedah soal 3: angin yang membalik arah momen
Balok kantilever kanopi beton: momen di pangkal akibat beban mati MD = −12 kNm, beban hidup ML = −4 kNm, dan angin isap ke atas MW = +15 kNm (negatif berarti serat atas tertarik).
- 1,4D = −16,8 kNm
- 1,2D + 1,6L = −14,4 − 6,4 = −20,8 kNm
- 1,2D + 1,0W + L = −14,4 + 15 − 4 = −3,4 kNm
- Kombinasi dengan beban mati minimum 0,9D + 1,0W = −10,8 + 15 = +4,2 kNm
Momen terbesar −20,8 kNm (tulangan atas), tetapi kombinasi 0,9D + 1,0W memberi +4,2 kNm: angin dapat membalik lenturan sehingga serat bawah tertarik. Kanopi ringan di daerah berangin perlu tulangan bawah juga.
Mengapa? Faktor 0,9 pada beban mati dipakai saat beban mati justru membantu menahan, misalnya melawan angin angkat atau guling. Di sini beban mati dikurangi karena berat sebenarnya bisa lebih ringan dari perkiraan.
Miskonsepsi umum
Menyusun beban mati tambahan lantai. Spesi 3 cm (3 × 0,21 = 0,63 kN/m²), keramik (sekitar 0,24 kN/m²), plafon dan penggantung (0,18 kN/m²), serta instalasi mekanikal–elektrikal (sekitar 0,25 kN/m²) menghasilkan sekitar 1,3 kN/m². Karena itu nilai 1,5 kN/m² sering dipakai untuk lantai ruang kelas.
Dinding bata di atas balok sekitar 2,5 kN/m² bidang dinding. Dinding setinggi 3,5 m menambah hampir 9 kN/m pada balok di bawahnya, sering lebih besar dari beban hidup itu sendiri.
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa faktor beban hidup (1,6) lebih besar dari faktor beban mati (1,2)?
Beban mati dihitung dari volume dan berat jenis yang diketahui. Beban hidup bergantung pada penggunaan ruang.
Soal 2Penampang kolom yang memikul tekan besar bersama lentur diberi φ = 0,65, lebih kecil dari balok (0,90). Mengapa?
Penjelasan SNI 2847 Ps. R21.2.2 menyebut ketiga alasan itu. φ ditentukan oleh regangan baja εt, bukan oleh nama elemennya: balok pun mendapat φ kecil bila penampangnya terkendali tekan.
Minggu 3 · CPMK-1
Balok memikul momen dengan sepasang gaya
Momen lentur di dalam balok ditahan oleh kopel: gaya tekan beton di atas dan gaya tarik baja di bawah, terpisah oleh lengan momen. Seluruh analisis lentur adalah mencari letak dan besar kedua gaya itu.
Penggaris plastik dibengkokkan. Sisi mana yang memanjang, sisi mana yang memendek, dan adakah garis di dalamnya yang panjangnya tidak berubah?
Gambar garis lurus melintang pada penggaris karet atau spons, lalu tekuk. Garis tetap lurus, hanya miring.Bidang biru di tengah bentang adalah blok tekan setinggi a = β1c. Bidang ini bergerak saat letak sumbu netral pada simulasi diubah.
Konsep inti tiga pilar mekanika
Semua analisis penampang beton bertulang, juga kolom dan pelat di mata kuliah lanjutan, berdiri di atas tiga pilar yang sama:
- Kompatibilitas regangan. Penampang datar tetap datar. Regangan berbanding lurus dengan jarak dari sumbu netral, sehingga regangan baja dapat dihitung dari regangan beton. Saat serat tekan terluar mencapai εcu = 0,003: εs = 0,003(d − c)/c.
- Hubungan tegangan–regangan. Dari regangan diperoleh tegangan: baja fs = Esεs ≤ fy; beton digantikan blok persegi 0,85f'c setinggi a = β1c. Tarik beton di bawah sumbu netral diabaikan karena sudah retak dan sumbangannya terhadap momen sangat kecil.
- Kesetimbangan. Gaya tekan sama dengan gaya tarik (C = T). Hanya ada satu letak sumbu netral c yang memenuhi ketiganya sekaligus.
Coba cari letak itu sendiri di simulasi berikut. Geser c sampai selisih gaya mendekati nol, lalu bandingkan dengan hasil rumus.
Mengapa 0,85f'c dan β1?
Distribusi tegangan beton yang sebenarnya berbentuk lengkung seperti kurva tegangan–regangan. Whitney menggantinya dengan persegi yang luasnya sama (gaya C sama) dan titik beratnya di tempat yang sama (lengan momen sama). Tegangan 0,85f'c dan tinggi a = β1c adalah hasil kalibrasi terhadap uji balok; angka 0,85 juga menampung kenyataan bahwa beton di dalam struktur sedikit lebih lemah dari silinder uji. Untuk beton lebih kuat kurvanya lebih runcing, sehingga β1 mengecil.
Bedah soal: kapasitas Balok B1 kasus berjalan
B1 300 × 500 mm, d = 440 mm, 4D19, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa. Apakah cukup untuk Mu = 154,8 kNm?
- A_s = 4·¼π·19² = 1.134 mm²
- Anggap baja leleh a = 1.134·420/(0,85·25·300) = 74,7 mm → c = 74,7/0,85 = 87,9 mm
- Buktikan anggapan ε_s = 0,003·(440 − 87,9)/87,9 = 0,0120 > ε_y = 0,0021 → baja leleh, benar
- M_n = 1.134·420·(440 − 37,4) = 191,8 kNm ; lengan momen 402,6 mm = 0,92d
- φM_n = 0,90·191,8 = 172,6 kNm ≥ M_u = 154,8 kNm
B1 aman terhadap lentur dengan rasio Mu/φMn = 0,90. Sumbu netral berada 88 mm dari atas, jauh di atas setengah tinggi.
Bedah soal 2: balok dengan baja mutu rendah
Balok lama 250 × 450 mm, 3D16, selimut 40 mm, sengkang Ø10, f′c = 20 MPa, baja BjTS 280 (fy = 280 MPa). Hitung φMn.
- Tinggi efektif dan luas tulangan d = 450 − 40 − 10 − 8 = 392 mm ; As = 3 × 201,1 = 603,2 mm²
- Anggap leleh a = 603,2 × 280/(0,85 × 20 × 250) = 39,7 mm ; c = 39,7/0,85 = 46,8 mm
- Bukti εs = 0,003 × (392 − 46,8)/46,8 = 0,0222 ≥ εy = 280/200.000 = 0,0014 leleh
- Faktor reduksi εt = 0,0222 ≥ 0,005 → φ = 0,90
- Kuat lentur Mn = 603,2 × 280 × (392 − 19,9) = 62,8 kNm ; φMn = 56,6 kNm
φMn = 56,6 kNm. Sumbu netral sangat dekat ke serat atas (c = 47 mm), tanda balok bertulangan ringan yang sangat daktail.
Bedah soal 3: menambah tulangan tidak selalu menambah kekuatan rencana
Balok 300 × 450 mm, f′c = 20 MPa, fy = 420 MPa. Bandingkan (a) 4D22 satu lapis, d = 389 mm, dengan (b) 8D22 dua lapis, d = 365,5 mm.
- (a) 4D22, As = 1.521 mm² a = 1.521 × 420/(0,85 × 20 × 300) = 125,2 mm ; c = 147,3 mm ; εt = 0,00492
- transisi: φ = 0,65 + 0,25 × (0,00492 − 0,0021)/0,0029 = 0,893 ; Mn = 208,4 kNm ; φMn = 186,2 kNm
- (b) 8D22, As = 3.041 mm², anggap leleh a = 250,4 mm ; c = 294,6 mm ; εs = 0,003 × (365,5 − 294,6)/294,6 = 0,00072 < 0,0021
- Baja tidak leleh, susun kesetimbangan dengan fs = 600(d − c)/c 0,85 × 20 × 0,85c × 300 = 3.041 × 600(365,5 − c)/c
- 4.335c² + 1.824.637c − 666.904.828 = 0 → c = 234,7 mm ; fs = 334,5 MPa ; a = 199,5 mm
- εt = 0,00167 → terkendali tekan, φ = 0,65 ; Mn = 0,85 × 20 × 199,5 × 300 × (365,5 − 99,7) = 270,4 kNm ; φMn = 175,7 kNm
Tulangan dua kali lipat menaikkan Mn 30%, tetapi kuat rencana φMn justru turun dari 186,2 menjadi 175,7 kNm, dan balok runtuh getas tanpa peringatan. Selain itu εt < 0,004 tidak diizinkan untuk balok.
Mengapa? Beton tekan hanya mampu memikul gaya sebesar luas blok tekannya. Bila baja terlalu banyak, beton hancur lebih dulu sebelum baja meregang, sehingga baja tambahan tidak bekerja penuh. Faktor φ yang kecil adalah hukuman untuk keruntuhan getas ini.
Miskonsepsi umum
Tulangan kantilever yang turun. Pada kanopi dan balkon, sisi tarik ada di atas. Kegagalan klasik terjadi ketika tulangan atas terinjak pekerja saat pengecoran dan turun ke tengah tebal pelat. Nilai d mengecil, lengan momen hilang, dan kanopi runtuh saat perancah dibongkar. Konsep kopel menjelaskan mengapa beberapa sentimeter saja sangat menentukan.
Bank soal latihan berbasis NIM
Masukkan NIM untuk mendapat soal sendiri dengan pembahasan langkah demi langkah. Dosen dapat memakai mode "Soal saja" untuk membagikan soal dan "Kunci jawaban" untuk memeriksa.
Kuis 1 latihan sebelum kuis
Soal 1Jika As pada B1 dinaikkan dua kali, bagaimana dengan letak sumbu netral c?
a = Asfy/(0,85f'cb) berbanding lurus dengan As. Blok tekan harus lebih tinggi untuk menghasilkan gaya tekan yang lebih besar. Hubungan sebanding ini berlaku selama baja tarik masih leleh.
Soal 2Mengapa Mn tidak naik dua kali lipat ketika As dinaikkan dua kali?
T naik dua kali, tetapi lengan momen turun. Pada tulangan yang sangat banyak, baja bahkan tidak sempat leleh.
Latihan 3.1 — Balok 250 × 450
Jawaban: As = 603 mm², a = 39,7 mm, β1 = 0,836, c = 47,6 mm, εt = 0,0216, φMn = 84,4 kNm.
Minggu 4 · CPMK-1
Daktilitas: balok yang memberi peringatan sebelum runtuh
Dua balok bisa memiliki kekuatan sama tetapi perilaku berbeda. Yang satu melendut besar dan retak lebar sebelum runtuh; yang lain hancur dalam sekejap. Jumlah tulangan menentukan yang mana.
Kontraktor menambah tulangan balok dua kali lipat "supaya lebih aman". Mengapa SNI justru membatasi tulangan maksimum?
Tinggi blok tekan biru membesar saat tulangan ditambah pada simulasi di bawah.
Konsep inti tiga cara balok runtuh
Tulangan terlalu sedikit
Begitu beton retak, baja tidak cukup menahan gaya tarik yang dilepas beton. Baja langsung leleh, satu retak membuka lebar, dan baja dapat putus. Ini dicegah oleh As,min, yang menjamin Mn > Mcr.
Tulangan sedang
Baja leleh lebih dulu, balok terus melendut dan retak melebar, baru kemudian beton tekan hancur. Ada waktu untuk evakuasi. Inilah perilaku yang dirancang.
Tulangan terlalu banyak
Beton tekan hancur sebelum baja leleh. Lendutan kecil, retak halus, lalu runtuh tiba-tiba. Dicegah dengan εt ≥ 0,004 untuk balok.
Ukuran daktilitas yang mudah dipakai adalah regangan baja tarik terluar εt saat beton mencapai 0,003. Makin besar εt, makin jauh baja meregang melewati leleh, makin besar kelengkungan yang dicapai balok sebelum runtuh. Simulasi berikut menggambar hubungan momen–kelengkungan untuk tulangan yang Anda pilih.
Batas-batas dalam SNI 2847
Periksa daktilitas B1 (b = 300, d = 440, 4D19, f'c = 25, fy = 420).
- A_s,min = maks(0,25·5/420 ; 1,4/420)·300·440 = 0,00333·132.000 = 440 mm² < 1.134 mm² OK
- ε_t = 0,0120 > 0,005 → terkendali tarik, φ = 0,90
- Batas tulangan agar tetap φ = 0,90 c_tc = 0,375·440 = 165 mm → A_s ≤ 0,85·25·0,85·165·300/420 = 2.129 mm²
- Kelengkungan leleh dan batas (hasil simulasi) φ_y = 7,0·10⁻⁶ /mm ; φ_u = 0,003/87,9 = 34,1·10⁻⁶ /mm ; μ = 4,9
B1 daktail: setelah baja leleh, balok masih bisa melentur hampir lima kali lipat sebelum beton tekan hancur.
Bedah soal 1: mengapa ada tulangan minimum
Balok 300 × 600 mm (d = 540 mm), f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa, hanya diberi 2D13 karena momennya kecil. Periksa terhadap As,min dan bandingkan Mn dengan momen retak.
- Tulangan terpasang dan minimum As = 265 mm² ; As,min = maks(0,25√25/420 ; 1,4/420) × 300 × 540 = 0,00333 × 162.000 = 540 mm² TIDAK OK
- Momen retak penampang beton Ig = 300 × 600³/12 = 5,40 × 10⁹ mm⁴ ; Mcr = 3,10 × 5,40 × 10⁹/300 = 55,8 kNm
- Kuat lentur dengan 2D13 a = 17,5 mm ; Mn = 265 × 420 × (540 − 8,7) = 59,2 kNm
- Kuat lentur dengan As,min a = 35,6 mm ; Mn = 540 × 420 × (540 − 17,8) = 118,4 kNm
Dengan 2D13, Mn hanya 6% di atas Mcr: begitu retak pertama muncul, baja langsung mencapai batasnya dan balok bisa patah mendadak. As,min menjamin kekuatan setelah retak jauh lebih besar dari kekuatan saat retak.
Bedah soal 2: batas tulangan maksimum dan pengaruh mutu beton
Balok 300 mm dengan d = 540 mm, fy = 420 MPa. Hitung As terbesar yang masih terkendali tarik (εt = 0,005) untuk f′c = 25 MPa dan f′c = 30 MPa.
- Pada εt = 0,005, segitiga regangan memberi c/d = 0,003/(0,003 + 0,005) = 0,375 → c = 0,375 × 540 = 202,5 mm
- f′c = 25 MPa, β₁ = 0,85 As = 0,85f′c·β₁c·b/fy = 0,85 × 25 × 0,85 × 202,5 × 300/420 = 2.613 mm²
- f′c = 30 MPa, β₁ = 0,85 − 0,05 × 2/7 = 0,836 As = 0,85 × 30 × 0,836 × 202,5 × 300/420 = 3.082 mm²
- Sebagai rasio (f′c = 25 MPa) ρt = 2.613/(300 × 540) = 0,0161 ; rasio seimbang ρb = 0,0253
Menaikkan mutu beton 20% menambah batas tulangan terkendali tarik 18%. Batas ρt hanya 64% dari rasio seimbang, sehingga balok yang memenuhinya jauh dari keruntuhan tekan.
Mengapa? Pada εt = 0,005 baja sudah meregang lebih dari dua kali regangan lelehnya sebelum beton hancur. Lendutan dan retak yang besar menjadi peringatan bagi penghuni.
Miskonsepsi umum
Cek pemahaman
Soal 1Pada simulasi, tulangan dinaikkan dari 4D19 menjadi 8D22. Apa yang terjadi pada μ dan φ?
Tulangan lebih banyak memperdalam sumbu netral, εt mengecil, sehingga daktilitas dan φ turun.
Soal 2Untuk menaikkan kekuatan tanpa mengurangi daktilitas, cara paling efektif adalah…
Menambah h memperbesar d dan lengan momen. Kekuatan naik tanpa memperdalam sumbu netral secara relatif.
Minggu 5 · CPMK-2
Dari momen perlu ke jumlah batang tulangan
Analisis menjawab "berapa kekuatan penampang ini". Desain menjawab pertanyaan sebaliknya, dan selalu memerlukan keputusan: dimensi awal, diameter yang tersedia di pasar, dan susunan yang bisa dicor.
Hasil hitungan meminta As = 1.005 mm². Di toko besi hanya ada batang 12 m dengan diameter tertentu. Bagaimana memilihnya, dan apakah pilihan itu muat di dalam balok?
Model mengikuti hasil desain: jumlah batang, diameter, dan tinggi balok.
Konsep inti desain itu berulang
d = h − selimut 40 − Ø sengkang − D/2 ≈ h − 60 mm untuk satu lapis.Rn = Mu/(φbd²), lalu ρ dan As. Asumsi φ = 0,90 diperiksa belakangan.| Tumpuan | Sederhana | Satu ujung menerus | Dua ujung menerus | Kantilever |
|---|---|---|---|---|
| hmin balok (Tabel 9.3.1.1) | L/16 | L/18,5 | L/21 | L/8 |
Tabel hmin hanya berlaku untuk komponen yang tidak menumpu atau terhubung dengan partisi yang mudah rusak akibat lendutan besar, seperti dinding bata. Bila ada dinding bata di atasnya, memenuhi hmin tidak cukup: lendutan harus dihitung (minggu 13). Inilah sebabnya B1 lolos hmin tetapi gagal L/480.
Bedah soal: desain B1 kasus berjalan
Mu = 154,8 kNm, bentang 6 m, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa.
- h_min = 6.000/16 = 375 mm → pilih h = 500 mm, b = 300 mm ; d = 500 − 40 − 10 − 9,5 = 440,5 mm
- R_n = 154,8·10⁶/(0,9·300·440,5²) = 2,95 MPa
- ρ = (21,25/420)·[1 − √(1 − 2·2,95/21,25)] = 0,00761 → A_s = 1.005 mm²
- Pilih 4D19 = 1.134 mm² (3D22 = 1.140 mm² juga mungkin)
- Spasi bersih = (300 − 2·40 − 2·10 − 4·19)/3 = 41 mm ≥ 25 mm OK
- ε_t = 0,0120, φ = 0,90, φM_n = 172,8 kNm ≥ 154,8 kNm OK
B1: 300 × 500 mm dengan 4D19 tulangan tarik dan 2D13 tulangan pembawa sengkang di atas.
Diameter di pasaran umumnya D10, D13, D16, D19, D22, D25, panjang 12 m. Berat per meter = 0,00617 D² kg/m, sehingga D19 ≈ 2,23 kg/m. Ketersediaan diameter besar di daerah perlu dicek ke pemasok sebelum desain final; pilih diameter yang benar-benar tersedia.
Satu proyek, sedikit diameter. Memakai dua atau tiga diameter saja mengurangi salah pasang dan sisa potongan.
Bedah soal 2: balok lantai gudang
Balok tumpuan sederhana bentang 5 m memikul qD = 12 kN/m (tanpa berat sendiri) dan qL = 6 kN/m. f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa. Rancang balok.
- Dimensi hmin = 5.000/16 = 313 mm → coba 250 × 450 mm (lebih tinggi agar tulangan tidak padat)
- Beban berat sendiri 24 × 0,25 × 0,45 = 2,70 kN/m → qD = 14,70 kN/m
- 1,4D = 20,58 ; 1,2D + 1,6L = 17,64 + 9,60 = 27,24 kN/m → Mu = 27,24 × 5²/8 = 85,1 kNm
- Rasio perlu (d ≈ 450 − 40 − 10 − 8 = 392 mm) Rn = 85,1 × 10⁶/(0,9 × 250 × 392²) = 2,46 MPa → ρ = 0,00625
- As = 0,00625 × 250 × 392 = 612 mm² ≥ As,min = 327 mm²
- Pilihan 3D16 = 603 mm² (kurang 1,5%) → φMn = 83,9 kNm < 85,1 TIDAK OK
- 4D16 = 804 mm², spasi bersih 28,7 mm ≥ 25 → φMn = 109,5 kNm ; 3D19 = 851 mm², spasi 46,5 mm → φMn = 114,7 kNm
Pakai 3D19 (spasi longgar, memudahkan pengecoran) atau 4D16. Pilihan 3D16 gagal walaupun hanya kurang 9 mm²: selalu buktikan dengan analisis, jangan hanya membandingkan luas.
Mengapa? Pembulatan jumlah batang ke atas hampir selalu memberi kapasitas lebih. Namun bila pembulatan ke bawah dipaksakan, hasilnya bisa tidak aman walaupun selisihnya kecil.
Bedah soal 3: memilih diameter tulangan
Mu = 220 kNm, balok 300 × 550 mm, f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa. Bandingkan pilihan 6D16, 5D19, 4D22, dan 3D25.
- As perlu (d ≈ 489 mm) Rn = 3,41 MPa → ρ = 0,00890 → As = 1.305 mm²
- 6D16 = 1.206 mm² → φMn = 206,2 kNm TIDAK OK (spasi bersih 20,8 mm juga < 25 mm)
- 5D19 = 1.418 mm², spasi 26,2 mm → φMn = 237,8 kNm OK, tetapi rapat
- 4D22 = 1.521 mm², spasi 37,3 mm → φMn = 252,3 kNm OK
- 3D25 = 1.473 mm², spasi 62,5 mm → φMn = 244,4 kNm OK, paling longgar
Pilih 4D22 atau 3D25. Spasi bersih yang lebar memudahkan agregat kasar lewat sehingga beton padat di sekeliling tulangan; batang besar sedikit juga lebih cepat dipasang.
Bank soal latihan berbasis NIM
Masukkan NIM untuk mendapat soal sendiri dengan pembahasan langkah demi langkah. Dosen dapat memakai mode "Soal saja" untuk membagikan soal dan "Kunci jawaban" untuk memeriksa.
Tugas 1
Minggu 6 · CPMK-1
Tulangan tekan: sedikit menambah kekuatan, banyak menambah daktilitas
Tulangan di sisi tekan membantu beton memikul gaya C. Yang berubah paling besar bukan Mn, tetapi letak sumbu netral dan regangan baja tarik.
Hampir semua balok di lapangan punya tulangan atas dan bawah. Apakah tulangan atas itu ikut menambah kekuatan lentur di tengah bentang?
Tulangan tarik berwarna karat, tulangan tekan biru. Sengkang wajib mengikat tulangan tekan agar tidak tertekuk keluar.
Konsep inti kompatibilitas menentukan f's
Tulangan tekan berada jauh lebih dekat ke sumbu netral dibanding serat tekan terluar, sehingga regangannya lebih kecil dari 0,003. Regangan itu ditentukan oleh letak c, bukan oleh keinginan perancang. Karena itu anggapan "semua tulangan leleh" sering salah untuk tulangan tekan.
- Tambahan Cs dari baja tekan berarti beton cukup menyumbang gaya lebih kecil. Blok tekan menipis dan c mengecil (sumbu netral bergeser ke atas).
- Dengan c mengecil, baja tarik meregang lebih jauh: εt naik, daktilitas naik.
- Lengan momen hampir tidak berubah, sehingga Mn hanya naik sedikit.
Bedah soal
b = 300 mm, d = 540 mm, d' = 50 mm, f'c = 28 MPa, fy = 420 MPa, As = 6D22 (2.281 mm²), A's = 2D19 (567 mm²).
- Coba anggap leleh a = (957.936 − 567·396,2)/7.140 = 102,7 mm ; c = 120,8 mm
- Buktikan ε'_s = 0,003·(120,8 − 50)/120,8 = 0,00176 < 0,0021 → belum leleh, anggapan salah
- Kuadrat 6.069c² + (340.260 − 13.497 − 957.936)c − 17.013.000 = 0 → c = 126,2 mm
- f'_s = 600·(126,2 − 50)/126,2 = 362,3 MPa ; a = 107,3 mm ; ε_t = 0,0098
- M_n = 765,9·(540 − 53,6) + 192,0·490 = 372,5 + 94,1 = 466,6 kNm ; φM_n = 419,9 kNm
- Bandingkan tanpa A's a = 134,2 ; c = 157,8 ; ε_t = 0,0073 ; M_n = 453,0 kNm
Tulangan tekan menaikkan Mn hanya 3%, tetapi menaikkan εt dari 0,0073 menjadi 0,0098 (34%).
Bedah soal 2: tulangan tekan yang leleh
b = 300 mm, d = 540 mm, d′ = 50 mm, f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa, As = 6D25 (2.945 mm²), A′s = 2D19 (567 mm²). Hitung φMn dengan memperhitungkan beton yang dipindahkan oleh tulangan tekan.
- Anggap A′s leleh, gaya tekan baja Cs = A′s(fy − 0,85f′c) = 567 × (420 − 21,25) = 226,1 kN
- Kesetimbangan T = Cc + Cs a = (2.945 × 420 − 226.100)/(0,85 × 25 × 300) = 158,6 mm ; c = 186,6 mm
- Bukti leleh tulangan tekan ε′s = 0,003 × (186,6 − 50)/186,6 = 0,00220 ≥ εy = 0,0021 leleh, anggapan benar
- Faktor φ εt = 0,003 × (540 − 186,6)/186,6 = 0,00568 ≥ 0,005 → φ = 0,90
- Momen terhadap tulangan tarik Mn = 0,85 × 25 × 158,6 × 300 × (540 − 79,3) + 226,1 × (540 − 50) = 465,7 + 110,8 = 576,5 kNm
- φMn = 0,90 × 576,5 = 518,9 kNm
Tulangan tekan leleh karena sumbu netral cukup dalam (c = 187 mm, jauh di bawah d′ = 50 mm). Bandingkan dengan bedah soal 1: di sana c lebih kecil sehingga ε′s tidak mencapai εy.
Mengapa? Leleh atau tidaknya tulangan tekan ditentukan oleh jaraknya ke sumbu netral. Semakin dalam sumbu netral, semakin besar regangan di posisi d′. Karena itu anggapan leleh harus selalu dibuktikan.
Miskonsepsi umum
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa d' yang besar membuat tulangan tekan sulit leleh?
ε's = 0,003(c − d')/c. Bila d' mendekati c, regangan mendekati nol.
Latihan 6.1 — Tulangan tarik 6D25
Jawaban: c = 169,8 mm, f's = 388 MPa (belum leleh), εt = 0,0065, φMn = 523,1 kNm.
Minggu 7 · CPMK-1
Pelat lantai ikut bekerja sebagai sayap balok
Balok dan pelat dicor bersamaan. Di tengah bentang, pelat berada di sisi tekan dan menyediakan luas tekan yang jauh lebih lebar dari badan balok.
Pelat di antara dua balok lebarnya 3 m. Apakah seluruh 3 m itu ikut menahan tekan pada setiap balok?
Penampang T: badan selebar bw, sayap selebar bf. Blok tekan biru biasanya hanya beberapa sentimeter di dalam sayap.
Konsep inti shear lag dan momen negatif
Tegangan sayap tidak merata. Gaya tekan masuk ke pelat dari badan balok melalui geser. Makin jauh dari badan, makin kecil tegangan tekan pelat. Fenomena ini disebut shear lag. Lebar efektif bf adalah lebar khayal dengan tegangan merata yang memberi gaya total sama.
Arah momen menentukan. Di tengah bentang (momen positif) sayap tertekan dan penampang dihitung sebagai T. Di tumpuan balok menerus (momen negatif) sayap tertarik dan retak, sehingga balok dihitung sebagai persegi selebar bw.
Kasus a ≤ hf
Blok tekan di dalam sayap. Hitung sebagai balok persegi selebar bf. Beton di bawah blok tekan berada di daerah tarik dan diabaikan, sehingga bentuk penampang di sana tidak berpengaruh.
Kasus a > hf
Pisahkan Cf = 0,85f'c(bf − bw)hf dan Cw = 0,85f'ca·bw. Mn = Cf(d − hf/2) + Cw(d − a/2).
Bedah soal
bw = 300, hf = 120, d = 540, bf = 1.200 mm, 6D25 (2.945 mm²), f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa.
- a = 2.945·420/(0,85·25·1.200) = 48,5 mm < h_f = 120 mm → perilaku persegi selebar b_f
- c = 57,1 mm ; ε_t = 0,0254 → φ = 0,90 ; M_n = 2.945·420·(540 − 24,3) = 638,0 kNm
- Bila sayap diabaikan a = 194 mm, ε_t = 0,0041 (transisi, φ = 0,82), φM_n ≈ 450 kNm
φMn = 574,2 kNm. Mengabaikan sayap meremehkan kapasitas 22% dan salah menilai daktilitas.
Bedah soal 2: menghitung lebar efektif sayap
Balok T lantai: bentang 6 m (bentang bersih ℓn = 5,6 m), bw = 300 mm, pelat hf = 120 mm, jarak bersih ke balok sebelah 2,7 m. Hitung bf untuk balok dalam dan balok tepi (SNI 2847 Tabel 6.3.2.1).
- Balok dalam: lebar sayap di tiap sisi diambil nilai terkecil dari 8hf = 960 mm ; sw/2 = 1.350 mm ; ℓn/8 = 700 mm → 700 mm
- bf = bw + 2 × 700 = 300 + 1.400 = 1.700 mm
- Balok tepi (sayap satu sisi): nilai terkecil dari 6hf = 720 mm ; sw/2 = 1.350 mm ; ℓn/12 = 467 mm → 467 mm
- bf = 300 + 467 = 767 mm
Balok dalam boleh memakai sayap 1.700 mm, balok tepi hanya 767 mm. Pada bentang pendek, batas ℓn/8 atau ℓn/12 yang menentukan karena tegangan tidak sempat menyebar jauh ke pelat (shear lag).
Bedah soal 3: balok T di daerah momen negatif
Balok T yang sama di atas tumpuan interior memikul Mu = −200 kNm. bw = 300 mm, d = 540 mm, f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa. Rancang tulangan atas.
- Pada momen negatif sayap berada di daerah tarik, jadi daerah tekan hanya badan selebar bw di bawah. Hitung sebagai balok persegi 300 mm.
- Rn = 200 × 10⁶/(0,9 × 300 × 540²) = 2,54 MPa → ρ = 0,00646 → As = 1.047 mm²
- Pilih 4D19 = 1.134 mm² → φMn = 215,5 kNm ≥ 200 kNm ; εt = 0,0154
- Tulangan atas sebaiknya disebar sebagian ke pelat di samping badan (dalam lebar efektif) untuk mengendalikan retak di permukaan pelat.
Sayap yang sangat membantu di lapangan tidak membantu di tumpuan. Momen negatif balok T selalu dirancang dengan lebar badan.
Kuis 2 latihan sebelum kuis
Soal 1Di tumpuan interior balok menerus, penampang T dihitung sebagai…
Momen negatif menekan sisi bawah. Sayap di atas tertarik, retak, dan tidak menyumbang gaya tekan.
Soal 2Mengapa a pada balok T di tengah bentang hampir selalu kecil?
a = T/(0,85f'cbf). Lebar besar berarti a kecil, lengan momen panjang, dan εt besar.
Latihan 7.1 — Sayap tipis
Jawaban: a persegi = 75,1 mm > 60 mm. Cf = 446,3 kN, a = 96,3 mm, c = 113,3 mm, εt = 0,0089, φMn = 353,8 kNm.
Minggu 8 · CPMK-1 dan CPMK-2
Ujian Tengah Semester
Ujian tertulis materi minggu 1–7. Dinilai dari ketepatan dan kelengkapan jawaban teori dan hitungan. Bobot 15%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | Sub-CPMK | Porsi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Sifat beton dan baja, perilaku komposit | Uraian konsep | 1.1 | 10% |
| 2 | Kombinasi beban dan faktor φ | Hitungan singkat | 1.2 | 15% |
| 3 | Analisis balok persegi, As,min, εt | Hitungan | 1.3, 1.4 | 30% |
| 4 | Desain balok tulangan tunggal | Desain | 2.1 | 25% |
| 5 | Balok rangkap atau balok T | Hitungan | 1.5, 1.6 | 20% |
Contoh soal konsep
- Gambarkan diagram regangan, tegangan, dan gaya pada balok bertulangan tunggal saat runtuh. Tunjukkan dari mana persamaan a = Asfy/(0,85f'cb) berasal.
- Jelaskan mengapa As,min dan εt ≥ 0,004 diperlukan, masing-masing dengan satu kalimat tentang keruntuhan yang dicegahnya.
- Sebuah balok T di tengah bentang memiliki a = 40 mm dan hf = 120 mm. Mengapa boleh dihitung sebagai balok persegi?
Contoh soal hitungan
Balok sederhana bentang 7 m gedung kantor memikul qD = 15 kN/m (belum termasuk berat sendiri) dan qL = 10 kN/m. f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa.
- Tentukan dimensi awal dengan hmin dan b ≈ 0,5h.
- Hitung qu (termasuk berat sendiri) dan Mu.
- Rancang tulangan lentur dan lakukan empat pemeriksaan.
- Gambarkan penampang skala 1:10.
Petunjuk: hmin = 7.000/16 = 438 mm → coba 300 × 500 mm, berat sendiri 3,6 kN/m.
Rubrik
| Aspek | Skor penuh bila | Bobot |
|---|---|---|
| Konsep | Anggapan leleh dibuktikan, φ dipilih dari εt, diagram regangan benar | 30% |
| Pembebanan | Berat sendiri dihitung, kombinasi menentukan dipilih | 20% |
| Ketelitian | Satuan konsisten, hasil dalam ±2% | 30% |
| Pendetailan | Selimut, spasi bersih, dan sketsa penampang benar | 20% |
Minggu 9 · CPMK-2
Desain bila tinggi balok dibatasi
Bila tulangan tunggal tidak lagi cukup tanpa melanggar batas daktilitas, ada dua jalan: menambah beton tekan dengan memanfaatkan sayap pelat (balok T), atau menambah baja di sisi tekan (tulangan rangkap). Minggu ini membahas kapan masing-masing dipakai dan bagaimana mendesainnya.
Di lantai atap gedung kuliah, balok B1 (300 × 500 mm) harus memikul tangki air sehingga Mu naik menjadi 330 kNm. Arsitek tidak mengizinkan balok lebih tinggi dari 500 mm. Berapa pun tulangan tarik ditambah, penampang tidak lagi terkendali tarik. Apa yang sebenarnya menjadi batas, dan bagaimana mengatasinya?
Petunjuk: yang habis bukan bajanya, tetapi beton tekannya.Hasil desain tulangan rangkap: tulangan tarik (karat) dua lapis di bawah, tulangan tekan (biru) di atas yang diikat sengkang.
Konsep inti 1 beton tekan adalah sumber daya yang terbatas
Pada balok tulangan tunggal, setiap tambahan tulangan tarik T harus diimbangi tambahan gaya tekan C. Karena lebar b tetap, satu-satunya cara beton memberi C lebih besar adalah memperdalam blok tekan. Sumbu netral turun, εt mengecil, dan pada c = 0,375d penampang mencapai batas terkendali tarik (εt = 0,005).
Momen maksimum pada batas ini disebut φMn1. Untuk B1 dengan dua lapis tulangan (d ≈ 415 mm), φMn1 = 265 kNm. Momen 330 kNm melebihinya, sehingga ada kekurangan gaya tekan yang harus ditutup oleh sesuatu selain beton badan balok. Ada tiga jalan:
- Tambah lengan momen: perbesar h. Paling efektif karena Mn sebanding d², tetapi sering dibatasi arsitektur.
- Tambah lebar tekan: manfaatkan sayap pelat (balok T) di daerah momen positif, atau perlebar b.
- Tambah baja di sisi tekan: tulangan rangkap. Baja tekan ikut memikul C sehingga blok tekan beton tidak perlu diperdalam.
Konsep inti 2 dua kopel yang bekerja paralel
Balok tulangan rangkap dapat dibayangkan sebagai dua balok khayal yang dijumlahkan:
Kopel 1: beton + As1
Beton tekan dengan sebagian tulangan tarik As1, dibatasi pada c = 0,375d. Kopel ini memberi Mn1 dan menentukan daktilitas penampang.
Kopel 2: A's + As2
Baja tekan A's dan tambahan baja tarik As2 dengan lengan (d − d'). Kopel ini memikul sisa momen Mn2 tanpa memperdalam blok tekan beton.
Karena kopel 2 tidak menyentuh beton, sumbu netral tetap di c = 0,375d dan penampang tetap terkendali tarik. Harga yang dibayar: baja lebih banyak, dan tulangan tekan harus diikat sengkang agar tidak tertekuk.
Perhatikan grafiknya. Di bawah φMn1, A's nol dan As naik melengkung. Di atas φMn1, As dan A's naik lurus bersama, karena setiap tambahan momen hanya memperpanjang kopel 2 dengan lengan tetap (d − d').
Prosedur desain tulangan rangkap
d diukur ke pusat berat semua batang tarik, dt ke lapis terbawah. d' = selimut + Ø sengkang + D'/2.c = 0,375d, a = β1c, As1 = 0,85f'cab/fy, Mn1 = As1fy(d − a/2)Mu/0,9 ≤ Mn1, desain tulangan tunggal biasa. Bila tidak, Mn2 = Mu/0,9 − Mn1.ε's = 0,003(c − d')/c, f's = min(Esε's ; fy). Jangan langsung menganggap leleh.A's = Mn2/[(f's − 0,85f'c)(d − d')], As = As1 + A's(f's − 0,85f'c)/fyBedah soal 1: tulangan rangkap B1 lantai atap kasus berjalan
Mu = 330 kNm, b = 300, h = 500 mm, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa, selimut 40 mm, sengkang Ø10. Tulangan tarik direncanakan D22 dua lapis, tekan D16.
- Tinggi efektif lapis 1: d₁ = 500 − 40 − 10 − 11 = 439 mm ; lapis 2: d₂ = 439 − 22 − 25 = 392 mm ; rencana d ≈ 415 mm ; d' = 40 + 10 + 8 = 58 mm
- Batas tulangan tunggal c = 0,375·415 = 155,6 mm ; a = 0,85·155,6 = 132,3 mm ; A_s1 = 0,85·25·132,3·300/420 = 2.008 mm²
- M_n1 = 2.008·420·(415 − 66,1) = 294,2 kNm ; φM_n1 = 264,8 kNm < 330 kNm → perlu tulangan tekan
- M_n2 = 330/0,9 − 294,2 = 72,5 kNm
- Periksa leleh ε'_s = 0,003·(155,6 − 58)/155,6 = 0,00188 < ε_y = 0,0021 → belum leleh, f'_s = 200.000·0,00188 = 376 MPa
- A'_s = 72,5·10⁶/[(376 − 21,3)·(415 − 58)] = 572 mm² ; A_s = 2.008 + 572·354,7/420 = 2.491 mm²
- Pilih dan susun tarik 7D22 = 2.661 mm² (4 di lapis bawah, 3 di lapis atas) ; tekan 3D16 = 603 mm²
- Spasi lapis bawah (300 − 2·40 − 2·10 − 4·22)/3 = 37 mm ≥ 25 mm OK ; jarak bersih antar lapis 25 mm
- Analisis ulang dengan dua lapis c = 165,3 mm ; ε'_s = 0,00195 ; ε_t (lapis 439 mm) = 0,00497 ; φ = 0,897 ; M_n = 392,3 kNm ; φM_n = 352,1 kNm ≥ 330 OK
Pakai 7D22 tarik dua lapis dan 3D16 tekan. Karena jumlah batang dibulatkan ke atas, c bergeser dari 155,6 ke 165,3 mm dan εt sedikit di bawah 0,005. Penampang masuk daerah transisi (φ = 0,897) tetapi tetap memenuhi εt ≥ 0,004 dan kekuatan.
Diskusi: tulangan rangkap atau balok lebih tinggi?
| Pilihan untuk Mu = 330 kNm | A: 300 × 500, rangkap | B: 300 × 600, tunggal |
|---|---|---|
| Tulangan memanjang | 7D22 + 3D16 | 4D25 + 2D13 pembawa |
| Berat baja memanjang | 25,6 kg/m | 17,5 kg/m |
| Volume beton | 0,15 m³/m | 0,18 m³/m |
| φMn · εt | 352 kNm · 0,0050 | 351 kNm · 0,0076 |
| Kemudahan pengecoran | Dua lapis rapat, sulit dipadatkan | Satu lapis, spasi 33 mm |
Pilihan B memakai baja 32% lebih sedikit dan jauh lebih daktail, dengan tambahan beton 20%. Karena itu tulangan rangkap umumnya dipilih hanya bila tinggi balok benar-benar dibatasi, atau di tumpuan balok menerus tempat tulangan atas dan bawah memang sudah ada.
Konsep inti 3 balok T: lebar tekan yang sudah tersedia
Di daerah momen positif, pelat lantai sudah menyediakan lebar tekan bf yang besar tanpa biaya tambahan. Pertanyaan desainnya: apakah blok tekan cukup berada di dalam sayap?
Cara tercepat adalah menghitung kapasitas bila blok tekan tepat setebal sayap (a = hf):
Bila Mu > φMnf, sayap penuh tertekan dan badan ikut menyumbang. Penampang dipecah menjadi dua kopel, mirip balok rangkap: kopel sayap (bagian sayap yang menjorok, bf − bw, dengan Asf) dan kopel badan (bw dengan Asw).
Bedah soal 2: balok T dengan a ≤ hf
Mu = 500 kNm, bw = 300, bf = 1.200, hf = 120, d = 540 mm, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa.
- Uji sayap φM_nf = 0,9·0,85·25·1.200·120·(540 − 60) = 1.322 kNm ≫ 500 kNm → a ≤ h_f
- Desain persegi selebar bf R_n = 500·10⁶/(0,9·1.200·540²) = 1,59 MPa → ρ = 0,00393 → A_s = 2.549 mm²
- Buktikan a = 2.549·420/(0,85·25·1.200) = 42,0 mm < 120 mm OK
- Pilih 5D25 = 2.454 mm² < 2.549 → φM_n = 482 kNm (kurang) ; 6D25 = 2.945 mm² → φM_n = 574 kNm OK
- Periksa minimum dengan bw A_s,min = (1,4/420)·300·540 = 540 mm² < 2.945 OK
Pakai 6D25. Sebagai persegi 300 mm, momen yang sama memerlukan a = 194 mm dan masuk daerah transisi. Sayap membuat desain jauh lebih efisien.
Bedah soal 3: balok T dengan a > hf
Balok tepi dengan pelat tipis: Mu = 600 kNm, bw = 300, bf = 600, hf = 80, d = 540 mm, f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa.
- Uji sayap φM_nf = 0,9·0,85·25·600·80·(540 − 40) = 459 kNm < 600 kNm → a > h_f, penampang T sejati
- Kopel sayap C_f = 0,85·25·(600 − 300)·80 = 510 kN ; A_sf = 510.000/420 = 1.214 mm² ; M_nf = 510·(0,540 − 0,040) = 255,0 kNm
- Kopel badan M_nw = 600/0,9 − 255,0 = 411,7 kNm ; R_n = 411,7·10⁶/(300·540²) = 4,71 MPa
- ρ_w = (21,25/420)·[1 − √(1 − 2·4,71/21,25)] = 0,01283 → A_sw = 0,01283·300·540 = 2.079 mm²
- A_s = 1.214 + 2.079 = 3.293 mm² → pilih 7D25 = 3.436 mm² (dua lapis; d = 540 mm berarti h ≈ 620 mm)
- Analisis ulang a = (3.436·420 − 510.000)/(0,85·25·300) = 146,4 mm ; c = 172,2 mm ; ε_t = 0,0064 → φ = 0,90
- M_n = 510·0,500 + 933,1·(0,540 − 0,0732) = 255,0 + 435,6 = 690,6 kNm ; φM_n = 621,6 kNm ≥ 600 OK
Pakai 7D25. Pada Rn di langkah 3, φ sudah dimasukkan lewat Mu/0,9, sehingga rumus ρ dipakai dengan Rn = Mnw/(bwd²) tanpa φ.
Latihan 9.1 — Tulangan rangkap atau balok lebih tinggi?
Pembahasan: Batas tulangan tunggal: φMn,maks ≈ 0,9 × 0,85 × 25 × 0,319 × 300 × d² × (1 − 0,159) ≈ 1,54d² (N·mm). Mu = 330 × 10⁶ → d ≈ 463 mm, h ≈ 530 mm. Balok 300 × 550 mm dengan tulangan tunggal setara dengan 300 × 500 mm bertulangan rangkap, dan biasanya lebih murah.
Detail yang sering terlupa
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa menambah tulangan tarik saja tidak bisa menaikkan kapasitas B1 di atas φMn1 tanpa kehilangan daktilitas?
Setiap tambahan T harus diimbangi C. Tanpa baja tekan atau lebar tambahan, C hanya bisa datang dari blok tekan beton yang lebih dalam.
Soal 2Di atas φMn1, mengapa A's naik lurus terhadap Mu?
Kopel 2 tidak melibatkan beton, sehingga gaya yang diperlukan sebanding dengan momen.
Soal 3Hasil uji sayap: φMnf = 459 kNm, sedangkan Mu = 400 kNm. Langkah berikutnya adalah…
Mu ≤ φMnf berarti blok tekan cukup di dalam sayap, sehingga lebar tekannya bf.
Latihan
Latihan 9.1 — Tulangan rangkap, f'c = 30 MPa
Jawaban: β1 = 0,836; c = 157,5 mm; a = 131,6 mm; As1 = 1.998 mm²; φMn1 = 267,5 kNm < 280 kNm → perlu tulangan tekan. Mn2 = 13,9 kNm; ε's = 0,00186 → f's = 371 MPa; A's = 112 mm² (pasang minimal 2D13 untuk gantungan sengkang); As = 2.090 mm². Pilih batang lalu analisis ulang dengan kalkulator.
Latihan 9.2 — Balok T koridor
Jawaban: φMnf = 612 kNm > 350 → persegi selebar 800 mm. Rn = 2,40 MPa; ρ = 0,00608; As = 2.189 mm²; a = 54,1 mm. 5D22 (1.901 mm²) memberi φMn = 306 kNm, kurang. Pakai 6D22 (2.281 mm²): φMn = 364 kNm, εt = 0,0174.
Diskusi 9.3 — Pilihan desain
Minggu 10 · CPMK-2
Retak miring dan sengkang yang menjahitnya
Di dekat tumpuan, geser dan lentur bersama-sama menimbulkan tarik diagonal. Beton retak miring kira-kira 45°, dan sengkang yang memotong retak itulah yang menahannya agar tidak terbuka.
Retak lentur di tengah bentang tegak lurus. Retak di dekat tumpuan justru miring. Mengapa arahnya berbeda?
Tarik selembar kertas pada dua sudut yang berseberangan. Ke mana arah lipatannya?Sengkang rapat (biru) di dekat tumpuan tempat geser terbesar. Garis merah adalah pola retak geser–lentur.
Konsep inti tegangan utama dan analogi rangka batang
Tegangan utama. Elemen kecil di garis netral dekat tumpuan hanya mengalami geser. Geser murni sama dengan tarik pada arah 45° dan tekan pada arah tegak lurusnya. Beton retak tegak lurus arah tarik, maka retaknya miring.
Balok yang retak bekerja seperti rangka batang (analogi Ritter–Mörsch):
- Beton di antara retak miring menjadi batang tekan diagonal.
- Sengkang menjadi batang tarik vertikal yang menggantung beban kembali ke atas.
- Tulangan lentur bawah menjadi batang tarik bawah, beton tekan atas menjadi batang tekan atas.
Tanpa sengkang, tidak ada batang vertikal. Begitu retak miring terbentuk, rangka batang itu tidak lengkap dan balok runtuh getas. Sumbangan beton Vc tetap ada setelah retak miring, berasal dari geser di daerah tekan yang belum retak, saling kunci agregat di permukaan retak, dan aksi pasak tulangan lentur. Sengkang menambah Vs. Tanpa sengkang, begitu retak miring melebar, mekanisme beton itu cepat hilang dan balok runtuh getas. Kedua sumbangan dijumlahkan dengan φ = 0,75.
Mengapa Vu boleh diambil pada jarak d? Retak miring kritis yang paling dekat ke tumpuan memotong balok kira-kira sejauh d dari muka tumpuan. Beban di antara muka tumpuan dan titik itu diteruskan langsung oleh batang tekan diagonal ke tumpuan. Keringanan ini hanya berlaku bila reaksi tumpuan menekan ujung balok (balok di atas tumpuan atau dicor menyatu dengan kolom) dan tidak ada beban terpusat di dalam jarak d (Ps. 9.4.3.2). Balok yang digantung dari bawah atau menerima beban terpusat dekat tumpuan diperiksa di muka tumpuan.
Bedah soal: geser B1 kasus berjalan
qu = 34,4 kN/m, L = 6 m, bw = 300, d = 440, f'c = 25 MPa, sengkang Ø10 dua kaki, fyt = 280 MPa.
- V_u tumpuan = 103,2 kN ; pada jarak d: V_u = 103,2 − 34,4·0,44 = 88,1 kN
- V_c = 0,17·5·300·440 = 112,2 kN ; φV_c = 84,2 kN ; ½φV_c = 42,1 kN
- V_u = 88,1 > φV_c → perlu sengkang hitung ; V_s = 88,1/0,75 − 112,2 = 5,2 kN (kecil)
- s dari V_s = 3.706 mm ; s dari A_v,min = 157·280/(0,35·300) = 419 mm ; s_maks = 220 mm
- Zona tanpa sengkang hitung V_u ≤ ½φV_c pada jarak 42,1/34,4 = 1,22 m dari tengah bentang
Pakai Ø10-200 sepanjang balok. Yang menentukan adalah spasi maksimum, bukan kekuatan. Di lapangan sengkang tetap dipasang di tengah bentang untuk memegang tulangan.
Bedah soal 2: geser besar dan pembagian daerah sengkang
Balok tumpuan sederhana bentang 5 m, qu = 90 kN/m, bw = 300 mm, d = 500 mm, f′c = 25 MPa, sengkang Ø10 dua kaki (Av = 157 mm²), fyt = 280 MPa.
- Geser rencana Vu tumpuan = 90 × 5/2 = 225 kN ; pada jarak d: 225 − 90 × 0,5 = 180 kN
- Beton Vc = 0,17 × √25 × 300 × 500 = 127,5 kN ; φVc = 95,6 kN
- Baja perlu Vs = 180/0,75 − 127,5 = 112,5 kN ≤ 0,33√f′c·bwd = 247,5 kN → smaks = d/2 = 250 mm
- Jarak dari kekuatan s = 157 × 280 × 500/112.500 = 195 mm → pakai Ø10-175
- Kapasitas dengan spasi maksimum Ø10-250 Vs = 157 × 280 × 500/250 = 88,0 kN ; φ(Vc + Vs) = 0,75 × 215,5 = 161,6 kN
- Vu = 161,6 kN tercapai pada x = (225 − 161,6)/90 = 0,70 m dari tumpuan
Pasang Ø10-175 sepanjang 1,0 m dari setiap tumpuan (dibulatkan ke atas dari 0,70 m), lalu Ø10-250 di daerah tengah. Pembagian ini menghemat sekitar 17% sengkang dibanding Ø10-175 sepanjang balok (kira-kira 24 buah dibanding 29 buah).
Bedah soal 3: balok dengan beban terpusat
Balok bentang 6 m memikul beban terpusat terfaktor Pu = 250 kN di tengah bentang dan berat sendiri terfaktor 5 kN/m. bw = 300 mm, d = 440 mm, f′c = 25 MPa, Ø10 dua kaki, fyt = 280 MPa.
- Geser di tumpuan Vu = 250/2 + 5 × 3 = 140 kN ; pada jarak d: 140 − 5 × 0,44 = 137,8 kN
- Beton Vc = 112,2 kN ; φVc = 84,2 kN < 137,8 kN → perlu sengkang hitung
- Vs = 137,8/0,75 − 112,2 = 71,5 kN → s = 157 × 280 × 440/71.500 = 270 mm
- smaks = d/2 = 220 mm (Vs ≤ 217,8 kN) → pakai Ø10-200
Pada beban terpusat, gaya geser hampir konstan dari tumpuan sampai titik beban, sehingga sengkang Ø10-200 dipasang di seluruh bentang. Berbeda dengan beban merata, tidak ada daerah tengah yang gaya gesernya kecil.
Miskonsepsi umum
Kait sengkang. Untuk balok gravitasi biasa, SNI mengizinkan kait 90° atau 135°. Kait 90° mudah terbuka bila selimut terkelupas, sehingga pada struktur penahan gempa di wilayah seperti Aceh Barat (SRPMK) sengkang wajib memakai kait gempa 135° dengan perpanjangan 6db, minimal 75 mm, yang mengunci ke inti beton (Ps. 25.3.4). Laporan kerusakan gempa di Sumatra banyak mencatat sengkang berkait 90° yang terbuka.
Jangan dilas tanpa izin perencana. Las titik antara sengkang dan tulangan memanjang dapat merusak sifat baja di titik las. SNI hanya mengizinkannya bila disetujui perencana (Ps. 26.6.4). Ikat dengan kawat bendrat.
Bank soal latihan berbasis NIM
Masukkan NIM untuk mendapat soal sendiri dengan pembahasan langkah demi langkah. Dosen dapat memakai mode "Soal saja" untuk membagikan soal dan "Kunci jawaban" untuk memeriksa.
Tugas 2 · Case method
Minggu 11 · CPMK-2
Pelat satu arah: balok selebar satu meter
Bila panel pelat panjang dan sempit, hampir seluruh beban mengalir ke arah bentang pendek. Pelat lalu dirancang seperti balok selebar 1.000 mm, ditambah tulangan susut dan suhu di arah lainnya.
Selembar kayu tipis diletakkan di atas dua bata, lalu di atas empat bata di keempat sisinya. Mana yang lebih kaku, dan mengapa panel yang sangat panjang berperilaku hampir sama dengan dua tumpuan?
Tulangan pokok (karat) melintang di atas balok tumpuan. Tulangan susut dan suhu (biru) tegak lurus di atasnya.
Konsep inti beban memilih jalan yang paling kaku
Ambil satu jalur selebar 1 m di arah pendek dan satu jalur di arah panjang. Di titik tengah panel keduanya harus melendut sama. Lendutan jalur sebanding dengan bentang pangkat empat, sehingga jalur pendek jauh lebih kaku dan menarik sebagian besar beban.
Untuk ℓy/ℓx = 2, jalur pendek memikul 94% beban. Inilah dasar batas praktis "pelat satu arah bila rasio bentang ≥ 2".
Tulangan susut dan suhu. Beton menyusut saat mengering, sekitar 0,0005 regangan. Pelat yang ditahan balok tidak bisa memendek bebas, sehingga timbul tarik dan retak di arah panjang meskipun di arah itu tidak ada momen. Tulangan 0,0018bh menyebarkan retak tersebut menjadi banyak retak halus.
| Tumpuan | Sederhana | Satu ujung menerus | Dua ujung menerus | Kantilever |
|---|---|---|---|---|
| hmin pelat (Tabel 7.3.1.1) | ℓ/20 | ℓ/24 | ℓ/28 | ℓ/10 |
Tabel hmin hanya berlaku untuk komponen yang tidak menumpu atau terhubung dengan partisi yang mudah rusak akibat lendutan besar, seperti dinding bata. Bila ada dinding bata di atasnya, memenuhi hmin tidak cukup: lendutan harus dihitung (minggu 13). Tabel ini juga berlaku untuk fy = 420 MPa dan beton berat normal.
Bedah soal: pelat S1 kasus berjalan
Pelat ruang kelas bentang 3,5 m tumpuan sederhana, h = 150 mm, beban mati tambahan 1,5 kN/m², beban hidup 1,92 kN/m², f'c = 25, fy = 420, D10.
- h_min = 3.500/20 = 175 mm → h = 150 mm belum memenuhi; dihitung dulu untuk kekuatan
- q_u = 1,2·(0,15·24 + 1,5) + 1,6·1,92 = 9,19 kN/m² → M_u = 9,19·3,5²/8 = 14,08 kNm/m
- d = 150 − 20 − 5 = 125 mm ; R_n = 1,00 MPa ; ρ = 0,00244 ; A_s = 305 mm²/m ≥ 0,0018·1.000·150 = 270
- s = 78,5·1.000/305 = 257 → D10-250 (314 mm²/m) ; susut 270 mm²/m → D10-275, di lapangan diseragamkan D10-250
Kekuatan terpenuhi (φMn = 14,5 kNm/m), tetapi tebal di bawah hmin. Ubah h menjadi 180 mm di kalkulator dan amati perubahan tulangan dan berat sendiri.
Tahu beton dan kaki ayam. Selimut 20 mm dijaga dengan ganjal beton (tahu beton). Tulangan atas di tumpuan ditopang kaki ayam agar tidak turun saat dicor. Bila tulangan atas pelat 150 mm turun 30 mm, d berkurang dari 125 menjadi 95 mm dan kapasitas momen negatif turun sekitar 25%.
Bedah soal 2: pelat kantilever balkon
Pelat balkon menjorok 1,5 m dari balok tepi, h = 150 mm, beban mati tambahan 1,0 kN/m², beban hidup balkon 1,5 × 1,92 = 2,88 kN/m². f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa, D10, selimut 20 mm.
- Tebal minimum kantilever L/10 = 1.500/10 = 150 mm OK
- Beban qD = 24 × 0,15 + 1,0 = 4,60 kN/m² ; 1,4D = 6,44 ; 1,2D + 1,6L = 5,52 + 4,61 = 10,13 kN/m²
- Momen di pangkal (serat atas tertarik) Mu = quL²/2 = 10,13 × 1,5²/2 = 11,39 kNm/m
- Tulangan atas d = 125 mm ; Rn = 0,81 MPa → ρ = 0,00197 → As = 246 mm²/m < As,min = 270 mm²/m
- s = 78,5 × 1.000/270 = 291 mm → D10-250 (314 mm²/m) ; φMn = 14,5 kNm/m ≥ 11,39 OK
- Tulangan atas diteruskan masuk ke pelat lantai di belakang balok sedikitnya sepanjang bentang kantilever agar terjangkar.
Tulangan pokok balkon ada di sisi atas. Dalam praktik sering dipakai D10-200 agar lebih kaku terhadap lendutan dan aman bila tulangan sedikit turun saat dicor.
Mengapa? Kantilever melengkung cembung ke atas, sehingga retak muncul di permukaan atas. Tulangan yang terinjak dan turun ke tengah tebal pelat kehilangan lengan momen dan menjadi penyebab utama runtuhnya balkon.
Bedah soal 3: pelat menerus dua bentang dengan koefisien momen
Pelat ruang kelas menerus di atas tiga balok (dua bentang sama), ℓn = 3,0 m, h = 130 mm, beban mati tambahan 1,5 kN/m², beban hidup 1,92 kN/m². Pakai koefisien momen SNI 2847 Ps. 6.5.
- Beban qD = 24 × 0,13 + 1,5 = 4,62 kN/m² ; qu = 1,2 × 4,62 + 1,6 × 1,92 = 8,62 kN/m²
- Momen negatif di tumpuan tengah (dua bentang) Mu− = quℓn²/9 = 8,62 × 9/9 = 8,62 kNm/m
- Momen positif bentang ujung (ujung luar tidak terkekang) Mu+ = quℓn²/11 = 7,05 kNm/m
- Tulangan (d = 105 mm) negatif: As = 222 mm²/m ; positif: 181 mm²/m ; keduanya < As,min = 234 mm²/m
- s = 78,5 × 1.000/234 = 335 mm ≤ smaks = 390 mm → D10-300 atas di tumpuan tengah dan D10-300 bawah di lapangan
Momen terbesar terjadi di atas tumpuan tengah, bukan di tengah bentang. Pada pelat tipis dengan beban ringan, tulangan minimum yang menentukan.
Bank soal latihan berbasis NIM
Masukkan NIM untuk mendapat soal sendiri dengan pembahasan langkah demi langkah. Dosen dapat memakai mode "Soal saja" untuk membagikan soal dan "Kunci jawaban" untuk memeriksa.
Kuis 3 latihan sebelum kuis
Soal 1Panel 3 × 3,6 m (rasio 1,2) ditumpu di keempat sisi. Bolehkah dirancang sebagai pelat satu arah?
Dengan rasio 1,2: 1,2⁴/(1 + 1,2⁴) = 0,67. Arah panjang memikul sepertiga beban, sehingga pelat harus dirancang dua arah (Struktur Beton Bertulang II).
Soal 2Mengapa tulangan susut tetap diperlukan pada arah yang tidak memikul momen?
Pelat ingin memendek saat mengering tetapi ditahan balok. Tarik yang timbul memerlukan tulangan.
Minggu 12 · CPMK-2
Panjang penyaluran: berapa dalam tulangan harus tertanam
Semua hitungan lentur menganggap baja mencapai fy. Itu hanya benar bila batang tertanam cukup panjang sehingga beton di sekelilingnya bisa mencengkeram gaya sebesar Asfy.
Batang tulangan panjangnya 12 m, padahal balok menerus di gedung kuliah panjangnya 30 m. Bagaimana gaya tarik berpindah dari satu batang ke batang berikutnya?
Sambungan lewatan: gaya tarik berpindah dari batang A ke batang B melalui beton di antara keduanya sepanjang ℓst.
Konsep inti tiga mekanisme lekatan
- Adhesi kimia antara pasta semen dan permukaan baja. Kecil dan hilang begitu batang mulai tergelincir.
- Gesekan antara baja dan beton yang mengerut di sekelilingnya.
- Kuncian mekanis oleh sirip batang ulir. Ini mekanisme utama. Sirip mendorong beton ke luar seperti baji, sehingga keruntuhan lekatan biasanya berupa retak belah sepanjang batang, bukan batang tercabut.
Kesetimbangan sederhana menjelaskan rumusnya. Gaya batang Abfy = (πdb²/4)fy harus ditahan tegangan lekat rata-rata u di keliling πdb sepanjang ℓd. Maka ℓd = fydb/(4u). Panjang penyaluran sebanding dengan diameter, dan berbanding terbalik dengan √f'c karena kuat belah beton sebanding dengan √f'c.
Tulangan atas (ψt = 1,3). Saat beton segar dipadatkan, air naik dan terkumpul di bawah batang yang posisinya tinggi. Setelah mengeras, rongga kecil di bawah batang itu mengurangi lekatan.
Bedah soal: tulangan B1 kasus berjalan
Tulangan bawah D19, fy = 420 MPa, f'c = 25 MPa, tanpa lapisan epoksi.
- ℓ_d = 420/(2,1·√25)·19 = 40·19 = 760 mm
- Tegangan lekat rata-rata u = 283,5·420/(π·19·760) = 2,6 MPa
- ℓ_st kelas B = 1,3·760 = 988 → 1.000 mm
Di setiap titik tempat batang harus mencapai fy (pada B1 di tengah bentang), batang harus tertanam minimal ℓd = 760 mm ke kedua arah. Tulangan bawah B1 menerus sampai tumpuan sehingga syarat ini terpenuhi; minimal sepertiganya diteruskan ≥ 150 mm masuk ke tumpuan (Ps. 9.7.3.8.2). Bila perlu disambung, lewatan 1.000 mm ditempatkan di daerah momen kecil.
Letak sambungan. Sambung tulangan bawah balok di dekat tumpuan (momen positif kecil), dan tulangan atas di sekitar tengah bentang (momen negatif kecil). Kesalahan umum adalah menyambung semua batang di satu potongan, sehingga satu potongan balok menjadi titik lemah.
Balok penahan gempa berbeda. Pada SRPMK, momen di ujung balok berbalik arah saat gempa, sehingga sambungan lewatan dilarang di dalam joint dan dalam jarak 2h dari muka kolom (Ps. 18.6.3.3). Aturan "sambung bawah dekat tumpuan" hanya untuk balok yang memikul beban gravitasi.
Bedah soal 2: tulangan atas D22 dan faktor posisi
Tulangan atas D22 di tumpuan balok tinggi 600 mm (lebih dari 300 mm beton segar di bawahnya), f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa, spasi dan selimut memenuhi syarat, ada sengkang minimum. Hitung ℓd.
- Rumus sederhana SNI 2847 Tabel 25.4.2.2 untuk D ≥ 22 ℓd = fyψtψe/(1,7λ√f′c) · db
- Faktor posisi tulangan atas ψt = 1,3 ; tanpa epoksi ψe = 1,0 ; beton normal λ = 1,0
- ℓd = 420 × 1,3 × 1,0/(1,7 × 1,0 × 5) × 22 = 64,2 × 22 = 1.413 mm
- Bandingkan tulangan bawah D22 ℓd = 420/(1,7 × 5) × 22 = 1.087 mm
Tulangan atas perlu panjang penyaluran 30% lebih besar. Air dan udara naik ke bawah batang atas saat beton dipadatkan, sehingga lekatan di bawahnya lebih lemah.
Bedah soal 3: kait standar di ujung balok
Tulangan D19 harus mencapai fy tepat di muka kolom tepi, tetapi kolom hanya selebar 400 mm. Hitung panjang penyaluran dengan kait 90° (f′c = 25 MPa, fy = 420 MPa).
- Tanpa kait ℓd = 760 mm > 400 − 40 = 360 mm tersedia → tidak muat
- Dengan kait standar (SNI 2847 Ps. 25.4.3.1) ℓdh = 0,24fyψeψcψr/(λ√f′c) · db = 0,24 × 420/5 × 19 = 383 mm
- Bila selimut samping ≥ 65 mm dan selimut di ujung kait ≥ 50 mm ψc = 0,7 → ℓdh = 268 mm ≥ maks(8db ; 150) = 152 mm OK
- Panjang tersedia 360 mm ≥ 268 mm → muat dengan kait
Kait memendekkan panjang penyaluran dari 760 mm menjadi 268–383 mm karena bengkokan menahan tulangan secara mekanis seperti jangkar.
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa ℓd untuk D25 jauh lebih panjang dari D13 pada beton yang sama?
Luas naik kuadratis, keliling linear. Panjang penyaluran harus naik sebanding diameter.
Latihan 12.1 — Tulangan atas D25
Jawaban: ψt = 1,3; ℓd = 420·1,3/(1,7·√30)·25 = 1.466 mm; ℓst = 1.906 mm.
Minggu 13 · CPMK-2
Kuat belum tentu layak pakai
Balok yang memenuhi kekuatan bisa tetap bermasalah: dinding bata di atasnya retak, pintu macet, plafon bergelombang. Penyebabnya lendutan yang bertambah karena beton retak dan rangkak.
Satu tahun setelah gedung dipakai, dinding bata di atas balok B1 retak diagonal, padahal balok tidak menunjukkan kerusakan. Apa yang terjadi?
Lendutan diperbesar. Retak lentur (merah) muncul di daerah tengah bentang tempat momen melampaui Mcr. Daerah retak dan lendutan mengikuti isian kalkulator.
Konsep inti kekakuan berubah sepanjang umur
- Sebelum retak, seluruh penampang bekerja: kekakuan EcIg.
- Setelah retak, beton di bawah sumbu netral tidak lagi menahan tarik. Di potongan retak hanya beton tekan dan baja yang bekerja: Icr, untuk B1 hanya sepertiga Ig. Di antara retak, beton masih membantu, sehingga kekakuan rata-rata Ie berada di antara keduanya.
- Seiring waktu, beton tekan terus memendek di bawah beban tetap (rangkak) dan karena mengering (susut). Setelah 5 tahun, lendutan tambahan akibat rangkak dan susut bisa mencapai dua kali lendutan seketika akibat beban tetap, sehingga lendutan totalnya sekitar tiga kali lendutan awal.
Dinding bata dipasang setelah perancah dibongkar. Lendutan yang terjadi setelah itu, yaitu rangkak dan beban hidup, adalah yang meretakkan dinding. Karena itu SNI membatasi bagian lendutan ini dengan L/480.
Bedah soal: lendutan B1 kasus berjalan
B1 300 × 500, d = 440, 4D19 bawah, 2D13 atas, L = 6 m, qD = 18 kN/m, qL = 8 kN/m (beban layan), f'c = 25 MPa. Di atasnya ada dinding bata.
- M_cr = 3,10·3,125·10⁹/250 = 38,8 kNm ; M_D = 81,0 kNm ; M_D+L = 117,0 kNm → balok retak
- n = 8,51 ; kd = 139,1 mm ; I_cr = 1,143·10⁹ mm⁴ (0,37 I_g)
- I_e(D) = 1,360·10⁹ ; Δ_D = 9,5 mm ; I_e(D+L) = 1,215·10⁹ ; Δ_D+L = 15,4 mm ; Δ_L = 5,9 mm ≤ L/360 = 16,7 OK
- ρ' = 265/(300·440) = 0,0020 → λ_Δ = 2/(1 + 0,10) = 1,82
- Beban tetap diambil beban mati saja, dan seluruh rangkak dianggap terjadi setelah dinding dipasang (anggapan konservatif) Δ setelah dinding = 1,82·9,5 + 5,9 = 23,1 mm > L/480 = 12,5 mm TIDAK OK
B1 kuat dan memenuhi L/360, tetapi akan meretakkan dinding bata di atasnya. Inilah jawaban pertanyaan pemantik.
Lebar retak. SNI mengendalikan lebar retak lewat spasi tulangan tarik terdekat ke muka tarik: s ≤ 380(280/fs) − 2,5cc dan ≤ 300(280/fs), dengan fs ≈ 2/3 fy. Untuk fy 420 dan selimut bersih 50 mm, spasi maksimum 255 mm. Beberapa batang kecil lebih baik dari sedikit batang besar.
Bongkar perancah terlalu cepat membebani beton muda yang Ec-nya masih rendah. Retak awal yang terbentuk menurunkan kekakuan untuk selamanya.
Bedah soal 2: kontrol retak dengan jarak tulangan
Periksa jarak tulangan B1 (4D19, b = 300 mm, selimut 40 mm, sengkang Ø10) terhadap syarat kontrol retak SNI 2847 Ps. 24.3.2, fy = 420 MPa.
- Tegangan baja saat layan boleh diambil fs = ⅔fy = 280 MPa
- Selimut bersih ke tulangan tarik cc = 40 + 10 = 50 mm
- Jarak maksimum s ≤ 380(280/fs) − 2,5cc = 380 − 125 = 255 mm dan ≤ 300(280/fs) = 300 mm
- Jarak pusat tulangan B1 s = (300 − 2 × 59,5)/3 = 60 mm ≤ 255 mm OK
B1 jauh memenuhi syarat retak. Syarat ini menjadi penting pada balok lebar atau pelat yang memakai sedikit batang besar: banyak batang kecil lebih baik mengendalikan lebar retak daripada sedikit batang besar.
Mengapa? Retak lebar membuat air dan klorida mencapai tulangan, terutama di daerah pesisir seperti Meulaboh. Jarak tulangan yang rapat membagi regangan menjadi banyak retak halus, bukan sedikit retak lebar.
Tugas 3 · Case method
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa menambah tulangan tekan mengurangi lendutan jangka panjang?
Rangkak hanya terjadi pada beton. Baja tekan menahan perpendekan beton sehingga λΔ = 2/(1 + 50ρ') turun.
Minggu 14 · CPMK-3
Lembar kerja: hitungan desain yang bisa diperiksa orang lain
Lembar kerja yang baik bukan sekadar mempercepat hitungan. Ia memaksa urutan logika yang sama setiap kali, membuat setiap asumsi terlihat, dan langsung menandai bila ada pemeriksaan yang gagal.
Gedung kuliah punya 48 balok. Bila satu balok dihitung manual 30 menit, berapa lama sampai semuanya selesai, dan berapa peluang salah tulis di salah satunya?
Konsep inti lembar kerja adalah algoritma
Masukan
Sel berwarna, satu besaran per sel, satuan di kolom sebelah. Hanya sel ini yang boleh diubah pengguna.
Proses
Urutannya sama dengan hitungan manual minggu 3–5. Setiap baris satu langkah, dengan rumus yang merujuk sel, bukan angka yang diketik ulang.
Pemeriksaan
Setiap syarat SNI menjadi sel dengan fungsi IF yang menghasilkan OK atau TIDAK OK, diberi warna dengan conditional formatting.
Verifikasi
Lembar kerja baru dipercaya setelah hasilnya cocok dengan satu hitungan manual yang diketahui, misalnya B1: φMn ≈ 172,7 kNm.
Model balok mengikuti isian lembar kerja di bawah.
Lembar kerja contoh salin ke Excel
Kolom C adalah rumus yang diketik di Excel. Nilai di kolom D dihitung langsung dari isian di atas tabel, sehingga mahasiswa dapat mencocokkan hasil lembar kerjanya sendiri.
=IF(B9<=28;0,85;MAX(0,65;0,85-0,05*(B9-28)/7)). Rumus di tabel ditulis dengan format regional Inggris (koma sebagai pemisah, titik sebagai desimal). Nama fungsi seperti IF dan MAX tidak berubah.Fitur Excel yang dipakai
| Fitur | Kegunaan di lembar kerja |
|---|---|
| Data Validation (daftar) | Diameter hanya bisa dipilih dari 10, 13, 16, 19, 22, 25, sehingga tidak ada D18 |
| Conditional Formatting | Sel pemeriksaan hijau bila OK, merah bila TIDAK OK |
| ROUNDUP | Jumlah batang perlu: =ROUNDUP(As_perlu/(PI()*D^2/4),0) |
| Goal Seek | Mencari h terkecil yang membuat φMn = Mu |
| Name Manager | Memberi nama sel (fc, fy, b) agar rumus mudah dibaca dan diperiksa |
Tugas 4 · Case method
Rubrik Tugas 4
| Aspek | Skor penuh bila | Bobot |
|---|---|---|
| Kebenaran | Hasil cocok dengan hitungan manual B1 dan dua latihan dalam ±0,5% | 35% |
| Kelengkapan pemeriksaan | As,min, εt, φ, spasi bersih, dan geser semuanya otomatis | 25% |
| Keterbacaan | Masukan, proses, dan hasil terpisah; satuan dan rujukan pasal tertulis | 20% |
| Ketahanan terhadap salah input | Validasi data dan pesan bila masukan tidak masuk akal | 20% |
Minggu 15 · CPMK-2
Satu balok, satu pelat, dari beban sampai gambar
Pertemuan ini merangkai seluruh langkah desain balok dan pelat satu arah menjadi satu alur, memakai kasus yang sama sejak minggu 2.
Gedung kuliah: B1 dan S1 hanyalah dua dari puluhan elemen yang dirancang dengan alur yang sama.
Alur desain balok
Ringkasan kasus berjalan
| Pemeriksaan | B1 300 × 500, 4D19, Ø10-200 | Status |
|---|---|---|
| Lentur φMn ≥ Mu | 172,6 ≥ 154,8 kNm | OK |
| Daktilitas εt | 0,0120 ≥ 0,005 | OK |
| As,min | 1.134 ≥ 440 mm² | OK |
| Geser | Ø10-200, smaks menentukan | OK |
| Penyaluran D19 | ℓd = 760 mm, lewatan 1.000 mm | OK |
| Lendutan ΔL | 5,9 ≤ 16,7 mm | OK |
| Lendutan setelah dinding | 23,1 > 12,5 mm | TIDAK OK |
Pelajaran dari kasus ini: pemeriksaan kekuatan saja tidak cukup. Pada bentang 6 m dengan dinding bata, kemampuan layanlah yang menentukan dimensi. Ubah h di kalkulator minggu 13 untuk mencari tinggi yang memenuhi L/480.
Soal terpadu untuk diskusi
Balok B2 di koridor lantai 2: bentang 5 m tumpuan sederhana, qD = 14 kN/m, qL = 10 kN/m, tidak menumpu dinding. f'c = 25 MPa, fy = 420 MPa, fyt = 280 MPa.
- Kelompok 1: tentukan qu, Mu, Vu, dan dimensi awal.
- Kelompok 2: rancang tulangan lentur dan periksa daktilitas.
- Kelompok 3: rancang sengkang dengan pembagian zona.
- Kelompok 4: periksa lendutan seketika dan jangka panjang dengan batas yang sesuai.
- Semua: gabungkan hasil, gambar potongan dan tampak memanjang, lalu verifikasi dengan lembar kerja minggu 14.
Bank soal terpadu latihan berbasis NIM
Masukkan NIM untuk mendapat soal sendiri dengan pembahasan langkah demi langkah. Dosen dapat memakai mode "Soal saja" untuk membagikan soal dan "Kunci jawaban" untuk memeriksa.
Cek pemahaman akhir
Soal 1Urutan pemeriksaan yang benar untuk balok baru adalah…
Beban dan dimensi menjadi masukan semua langkah berikutnya. Kemampuan layan diperiksa terakhir karena memerlukan tulangan yang sudah dipilih.
Soal 2Balok memenuhi lentur dan geser, tetapi gagal L/480. Solusi yang paling efektif biasanya…
Sengkang dan fy hampir tidak memengaruhi kekakuan lentur. Tinggi balok sangat menentukan.
Minggu 16 · CPMK-1 sampai CPMK-3
Ujian Akhir Semester
Ujian tertulis seluruh materi Struktur Beton Bertulang I. Dinilai dari ketepatan analisis, kelengkapan jawaban, dan integrasi seluruh konsep. Bobot 20%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | CPMK | Porsi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Konsep: perilaku komposit, daktilitas, kompatibilitas regangan | Uraian | 1 | 20% |
| 2 | Analisis balok persegi, rangkap, atau T | Hitungan | 1 | 30% |
| 3 | Desain geser dan zona sengkang | Desain | 2 | 15% |
| 4 | Desain pelat satu arah | Desain | 2 | 10% |
| 5 | Penyaluran dan lendutan | Hitungan | 2 | 15% |
| 6 | Membaca dan memperbaiki potongan lembar kerja | Analisis | 3 | 10% |
Contoh soal CPMK-3
Sebuah lembar kerja menghasilkan φMn = 191,8 kNm untuk B1 (300 × 500, 4D19). Rumus di sel φMn adalah =B20.
- Apa kesalahan rumus tersebut?
- Tuliskan rumus yang benar beserta sel φ yang diperlukan.
- Pemeriksaan apa yang seharusnya mendeteksi kesalahan ini sebelum diserahkan?
Petunjuk: 191,8 adalah Mn, belum dikalikan φ = 0,90.
Contoh soal konsep
- Jelaskan dengan analogi rangka batang mengapa balok tanpa sengkang dapat runtuh getas meskipun tulangan lenturnya cukup.
- Balok A dan B memiliki φMn sama. A dengan εt = 0,012, B dengan εt = 0,0045. Mana yang Anda pilih untuk gedung sekolah di Aceh Barat dan mengapa?
Setelah minggu 16 · Pengayaan CPMK-1, 2, 3
Studi kasus terpadu: lantai laboratorium struktur
Satu sistem lantai dirancang dari awal sampai akhir: pelat menerus, balok T dengan beban merata dan beban terpusat, tulangan dua lapis, sengkang bertingkat, penyaluran di tumpuan, lalu lendutan yang ternyata menentukan. Studi kasus ini merangkai semua materi semester dan berakhir dengan keputusan desain yang harus dipertanggungjawabkan.
Balok yang kuat terhadap lentur dan geser, dengan tinggi jauh di atas hmin, apakah pasti layak dipakai? Apa yang terjadi pada dinding bata di atasnya?
Balok T: pelat yang dicor menyatu dengan balok ikut memikul tekan di daerah momen positif.
Soal studi kasus
| Data | Nilai |
|---|---|
| Fungsi | Lantai 2 laboratorium struktur, Fakultas Teknik, Meulaboh (di dalam gedung, tidak terpapar cuaca) |
| Material | f′c = 25 MPa (beton normal), fy = 420 MPa, fyt = 280 MPa (sengkang Ø10) |
| Pelat S2 | Menerus di atas banyak balok berjarak 3,0 m (as ke as), lebar badan balok 300 mm, ujung luar menyatu dengan balok tepi |
| Balok B2 | Bentang 7,5 m as ke as kolom 400 × 400 mm, dianggap tumpuan sederhana; bw = 300 mm, h = 600 mm, menyatu dengan pelat |
| Beban mati tambahan lantai | 1,5 kN/m² (keramik, spesi, plafon, utilitas) |
| Beban hidup lantai | 4,0 kN/m², ditetapkan perencana untuk laboratorium dengan peralatan ringan |
| Dinding bata di atas B2 | 2,5 kN/m² bidang dinding, tinggi 3,5 m, dipasang setelah perancah dibongkar |
| Rangka uji hidrolik | Beban terpusat pada B2 di 2,5 m dari tumpuan A: PD = 20 kN (berat rangka), PL = 30 kN (beban kerja) |
| Selimut beton | Pelat 20 mm; balok 40 mm |
Tugas kelompok:
- Rancang tebal dan tulangan pelat S2 dengan metode koefisien momen; periksa geser dan tulangan susut.
- Hitung beban, reaksi, serta diagram gaya lintang dan momen balok B2. Tentukan letak momen maksimum.
- Rancang tulangan lentur B2 sebagai balok T, termasuk susunan lapis tulangan dan pemeriksaan daktilitas.
- Rancang sengkang B2 dengan pembagian daerah yang hemat.
- Periksa penyaluran tulangan di tumpuan.
- Periksa lendutan jangka panjang dan retak. Bila tidak memenuhi, usulkan dan buktikan perbaikannya.
- Sajikan ringkasan desain dan gambar potongan.
Contoh penyelesaian bagian A · pelat S2
Tebal pelat dan beban
- Tebal minimum (SNI 2847 Tabel 7.3.1.1), ℓ = 3.000 mm bentang ujung (satu ujung menerus): ℓ/24 = 125 mm ; bentang dalam (kedua ujung menerus): ℓ/28 = 107 mm → pakai h = 130 mm
- Beban mati qD = 24 × 0,13 + 1,5 = 4,62 kN/m²
- Kombinasi 1,4D = 6,47 ; 1,2D + 1,6L = 5,54 + 6,40 = 11,94 kN/m² → qu = 11,94 kN/m²
- Syarat metode koefisien (SNI 2847 Ps. 6.5.1) ≥ 2 bentang, bentang hampir sama, beban merata, L/D = 4,0/4,62 = 0,87 ≤ 3 semua terpenuhi
- Bentang bersih ℓn = 3,0 − 0,3 = 2,7 m ; quℓn² = 11,94 × 2,7² = 87,07 kNm/m
h = 130 mm memenuhi tebal minimum di semua bentang, jadi lendutan pelat tidak perlu dihitung. Metode koefisien boleh dipakai.
| Lokasi (SNI 2847 Tabel 6.5.2) | Koefisien | Mu (kNm/m) | As perlu (mm²/m) | Dipakai |
|---|---|---|---|---|
| Tumpuan luar (menyatu dengan balok tepi) | 1/24 | 3,63 | 92 → 234 (min) | D10-300 atas |
| Lapangan bentang ujung | 1/14 | 6,22 | 159 → 234 (min) | D10-300 bawah |
| Tumpuan dalam pertama (muka luar) | 1/10 | 8,71 | 224 → 234 (min) | D10-300 atas |
| Lapangan bentang dalam | 1/16 | 5,44 | 139 → 234 (min) | D10-300 bawah |
| Tumpuan dalam lainnya | 1/11 | 7,92 | 203 → 234 (min) | D10-300 atas |
Tulangan, geser, dan susut pelat
- Contoh perhitungan di tumpuan dalam pertama, d = 130 − 20 − 5 = 105 mm Rn = 8,71 × 10⁶/(0,9 × 1.000 × 105²) = 0,878 MPa → ρ = 0,00213 → As = 224 mm²/m
- Tulangan minimum As,min = 0,0018 × 1.000 × 130 = 234 mm²/m → menentukan di semua lokasi
- Jarak s = 78,5 × 1.000/234 = 336 mm ≤ smaks = min(3 × 130 ; 450) = 390 mm → D10-300 (262 mm²/m)
- Cek kekuatan terbesar a = 5,2 mm ; φMn = 0,9 × 262 × 420 × (105 − 2,6) = 10,14 kNm/m ≥ 8,71 OK
- Geser di muka tumpuan dalam pertama Vu = 1,15 × 11,94 × 2,7/2 = 18,5 kN/m ≤ φVc = 0,75 × 0,17 × 5 × 1.000 × 105 = 66,9 kN/m OK
- Tulangan susut arah memanjang 234 mm²/m, s ≤ min(5h ; 450) = 450 mm → D10-300
Pelat S2: h = 130 mm, D10-300 atas di semua tumpuan dan bawah di semua lapangan, D10-300 susut. Pelat tipis dengan beban sedang hampir selalu dikendalikan tulangan minimum, bukan kekuatan.
Mengapa? Momen negatif terbesar ada di tumpuan dalam pertama (1/10), bukan di tengah bentang. Bentang ujung hanya tertahan di satu sisi, sehingga lebih lentur dan "menumpahkan" momen ke tumpuan sebelahnya.
Bagian B · beban dan gaya dalam balok B2
Lebar efektif sayap, beban, dan kombinasi
- Lebar efektif balok dalam (SNI 2847 Tabel 6.3.2.1), ℓn = 7,5 − 0,4 = 7,1 m tiap sisi: min(8hf = 1.040 ; sw/2 = 1.350 ; ℓn/8 = 888) = 888 mm → bf = 300 + 2 × 888 = 2.075 mm
- Beban mati merata pelat + finishing (4,62 × 3,0) = 13,86 ; badan di bawah pelat 24 × 0,30 × 0,47 = 3,38 ; dinding 2,5 × 3,5 = 8,75 → qD = 25,99 kN/m
- Beban hidup merata qL = 4,0 × 3,0 = 12,0 kN/m
- Kombinasi (diterapkan ke beban merata dan terpusat bersama) 1,4D: q = 36,39 kN/m, P = 28,0 kN ; 1,2D + 1,6L: qu = 50,39 kN/m, Pu = 72,0 kN (menentukan)
qu = 50,39 kN/m dan Pu = 72,0 kN di x = 2,5 m. Beban mati dan hidup harus dikombinasikan secara konsisten: tidak boleh mengambil 1,4D untuk satu beban dan 1,2D + 1,6L untuk beban lain.
Reaksi, gaya lintang, dan momen maksimum
- ΣMB = 0 RA × 7,5 = 50,39 × 7,5 × 3,75 + 72 × 5,0 → RA = 236,97 kN
- ΣV = 0 RB = 50,39 × 7,5 + 72 − 236,97 = 212,97 kN
- Gaya lintang di beban terpusat kiri P: 236,97 − 50,39 × 2,5 = 111,0 kN ; kanan P: 111,0 − 72 = 39,0 kN
- D masih positif di kanan P, jadi D = 0 terjadi di bentang sebelah kanan P x₀ = 2,5 + 39,0/50,39 = 3,27 m dari A
- Momen maksimum Mu = 236,97 × 3,27 − 50,39 × 3,27²/2 − 72 × (3,27 − 2,5) = 450,0 kNm
- Pembanding M di bawah P = 435,0 kNm ; M di tengah bentang = 444,3 kNm
Mu,maks = 450,0 kNm di x = 3,27 m, di antara titik beban dan tengah bentang. Mendesain dengan momen tengah bentang saja (444,3 kNm) sedikit kurang aman.
| x dari A (m) | Keterangan | Vu (kN) | Mu (kNm) |
|---|---|---|---|
| 0 | Tumpuan A | 237,0 | 0 |
| 0,72 | Jarak d dari muka kolom A | 200,8 | 157,1 |
| 2,50 | Beban rangka uji (kiri / kanan) | 111,0 / 39,0 | 435,0 |
| 3,27 | D = 0, momen maksimum | 0 | 450,0 |
| 6,78 | Jarak d dari muka kolom B | −176,8 | 139,8 |
| 7,50 | Tumpuan B | −213,0 | 0 |
Bagian C · lentur balok T
Desain tulangan lentur
- Uji sayap dengan d ≈ 517,5 mm (dua lapis D25, lihat langkah 4) φMnf = 0,9 × 0,85 × 25 × 2.075 × 130 × (517,5 − 65) = 2.334 kNm ≫ 450 kNm → a < hf, desain sebagai persegi selebar bf
- Tulangan perlu Rn = 450,0 × 10⁶/(0,9 × 2.075 × 517,5²) = 0,900 MPa → ρ = 0,00219 → As = 0,00219 × 2.075 × 517,5 = 2.352 mm²
- Satu lapis tidak cukup 4D25 (1.963 mm²) muat satu lapis tetapi φMn = 392 kNm < 450 ; 5D25 satu lapis: spasi bersih (300 − 100 − 125)/4 = 18,8 mm < 25 tidak muat
- Pakai 5D25 = 2.454 mm² dalam dua lapis (3 + 2), jarak bersih antarlapis 25 mm y₁ = 40 + 10 + 12,5 = 62,5 mm ; y₂ = 62,5 + 25 + 25 = 112,5 mm ; titik berat = (3 × 62,5 + 2 × 112,5)/5 = 82,5 mm
- d = 600 − 82,5 = 517,5 mm ; dt (lapis terluar) = 600 − 62,5 = 537,5 mm
- Analisis a = 2.454 × 420/(0,85 × 25 × 2.075) = 23,4 mm < hf ; c = 27,5 mm
- Daktilitas dengan dt εt = 0,003 × (537,5 − 27,5)/27,5 = 0,0556 ≥ 0,005 → φ = 0,90
- φMn = 0,9 × 2.454 × 420 × (517,5 − 11,7) = 469,3 kNm ≥ 450,0 kNm OK (rasio 0,96)
- Tulangan minimum memakai bw As,min = 0,00333 × 300 × 517,5 = 518 mm² ≤ 2.454 OK ; spasi bersih lapis 1 = (300 − 100 − 75)/2 = 62,5 mm OK
B2 memakai 5D25 (3 di lapis bawah, 2 di lapis kedua) dan 2D13 pembawa di atas. Momen dihitung dengan d ke titik berat semua tulangan, sedangkan εt memakai dt ke lapis terluar.
Mengapa? Karena sayap sangat lebar, blok tekan hanya setebal 23 mm dan sumbu netral sangat dangkal. Balok T hampir selalu sangat daktail di daerah momen positif; yang membatasi justru ruang untuk menaruh tulangan di badan yang sempit.
Bagian D · geser dan sengkang
Sengkang bertingkat
- Beton Vc = 0,17 × 5 × 300 × 517,5 = 132,0 kN ; φVc = 99,0 kN ; ½φVc = 49,5 kN
- Sisi A, pada jarak d dari muka kolom (x = 0,2 + 0,5175 = 0,72 m; beban P berada lebih jauh dari d) Vu = 200,8 kN → Vs = 200,8/0,75 − 132,0 = 135,8 kN ≤ 0,33√f′c·bwd = 256,2 kN → smaks = d/2 = 259 mm
- s = 157,1 × 280 × 517,5/135.800 = 168 mm → Ø10-150
- Kapasitas dengan jarak maksimum praktis Ø10-250 (Av,min memberi s = 419 mm, tidak menentukan) Vs = 91,0 kN ; φ(Vc + Vs) = 167,3 kN → dicapai di x = (237,0 − 167,3)/50,39 = 1,38 m
- Sisi B Vu = 176,8 kN → Vs = 103,8 kN → s = 219 mm → Ø10-200 ; 167,3 kN dicapai 0,91 m dari B
- Daerah tengah dari x = 2,5 m (kanan P, Vu = 39,0 kN) sampai x = 4,26 m, Vu ≤ ½φVc: secara hitungan tidak perlu sengkang
Pasang Ø10-150 dari muka kolom A sampai 1,4 m, Ø10-200 sepanjang 1,0 m dari kolom B, dan Ø10-250 di antaranya (termasuk daerah tengah, untuk memegang tulangan dan menahan beban yang berpindah posisi).
Mengapa? Beban terpusat membuat diagram gaya lintang tidak simetris: sisi A memikul geser lebih besar sehingga butuh sengkang lebih rapat dan lebih panjang. Rangka uji juga bisa dipindah di kemudian hari; karena itu sengkang di daerah tengah tetap dipasang dengan jarak maksimum.
Bagian E · penyaluran di tumpuan
Penyaluran tulangan bawah di tumpuan sederhana
- Panjang penyaluran D25 tulangan bawah (SNI 2847 Tabel 25.4.2.2) ℓd = 420 × 1,0 × 1,0/(1,7 × 1 × 5) × 25 = 1.235 mm
- Syarat di tumpuan sederhana (Ps. 9.7.3.8.3) bila ujung tulangan dikekang gaya tekan reaksi ℓd ≤ 1,3Mn/Vu + ℓa
- Seluruh 5D25 diteruskan ke tumpuan, ℓa = panjang tertanam melewati as tumpuan = 200 − 40 = 160 mm 1,3 × 521,4 × 10⁶/236.970 + 160 = 2.860 + 160 = 3.020 mm ≥ 1.235 mm OK
- Di kolom tepi, ujung tulangan diberi kait 90° agar terjangkar penuh di dalam kolom.
Syarat penyaluran terpenuhi dengan selisih besar. Syarat ini menjamin tulangan tidak tercabut di daerah geser besar dekat tumpuan, tempat retak miring memotong tulangan.
Bagian F · lendutan dan retak
Lendutan jangka panjang dengan dinding di atas balok
- Penampang T utuh (abaikan tulangan) titik berat 168 mm dari atas ; Ig = 11,31 × 10⁹ mm⁴ ; yt = 432 mm
- Momen retak Mcr = 3,10 × 11,31 × 10⁹/432 = 81,2 kNm
- Penampang retak (n = 200.000/23.500 = 8,51; 2D13 tekan ikut diperhitungkan) kd = 92,2 mm < hf ; Icr = 4,32 × 10⁹ mm⁴ (0,38Ig)
- Momen layan maksimum akibat D: Ma = 208,6 kNm ; akibat D + L: Ma = 333,3 kNm (keduanya ≫ Mcr, balok retak)
- Momen inersia efektif (SNI 2847 Ps. 24.2.3.5) Ie = (Mcr/Ma)³Ig + [1 − (Mcr/Ma)³]Icr → D: 4,73 × 10⁹ ; D + L: 4,42 × 10⁹ mm⁴
- Lendutan seketika (integrasi M/EcIe untuk beban merata dan terpusat) ΔD = 11,0 mm ; ΔD+L = 18,7 mm → ΔL = 7,7 mm ≤ L/360 = 20,8 mm OK
- Faktor jangka panjang (ξ = 2,0 untuk 5 tahun) ρ′ = 265/(300 × 517,5) = 0,0017 → λΔ = 2,0/(1 + 50 × 0,0017) = 1,84
- Lendutan setelah dinding terpasang (rangkak akibat beban mati + seluruh beban hidup) Δ = 1,84 × 11,0 + 7,7 = 27,9 mm > L/480 = 15,6 mm TIDAK OK
B2 kuat terhadap lentur dan geser, dan tingginya (600 mm) jauh di atas hmin = 469 mm, tetapi lendutannya merusak dinding bata di atasnya. Tebal minimum tabel tidak berlaku untuk balok yang memikul elemen yang mudah rusak akibat lendutan besar.
Kontrol retak
- fs = ⅔fy = 280 MPa, cc = 50 mm smaks = 380 × (280/280) − 2,5 × 50 = 255 mm ≤ 300 mm
- Jarak pusat tulangan lapis bawah s = (300 − 2 × 62,5)/2 = 87,5 mm ≤ 255 OK
Retak lentur terkendali karena tulangan berupa beberapa batang dengan jarak rapat.
Bagian G · desain ulang dan keputusan
Pemeriksaan lendutan gagal, jadi desain belum selesai. Ada beberapa jalan keluar; masing-masing dihitung ulang dengan cara yang sama.
| Pilihan | Tulangan | φMn / Mu | Δ jangka panjang | Batas | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| Semula: h = 600 mm | 5D25 dua lapis | 469 / 450 | 27,9 mm | L/480 = 15,6 | Tidak memenuhi |
| h = 700 mm | 4D25 satu lapis | 466 / 456 | 20,5 mm | 15,6 | Masih tidak memenuhi |
| h = 750 mm | 4D25 satu lapis | 503 / 459 | 16,6 mm | 15,6 | Hampir, tetapi belum |
| h = 800 mm | 4D25 satu lapis | 540 / 462 | 13,3 mm | 15,6 | Memenuhi; tulangan lebih sedikit dan satu lapis |
| Tetap 600 mm, dinding diganti partisi ringan berdilatasi | 5D25 dua lapis | 469 / 450 | 27,9 mm | L/240 = 31,3 | Memenuhi bila elemen di atas balok tidak mudah rusak |
| Tambah kolom di tengah bentang | Bentang menjadi dua kali 3,75 m: momen dan lendutan turun drastis, tetapi denah laboratorium terganggu | ||||
Pembuktian pilihan h = 800 mm
- Beban mati bertambah karena badan lebih tinggi badan 24 × 0,30 × 0,67 = 4,82 kN/m → qD = 27,43 kN/m ; qu = 52,12 kN/m ; Mu = 462,0 kNm
- Lentur dengan 4D25 satu lapis d = 800 − 62,5 = 737,5 mm ; a = 18,7 mm ; φMn = 540,4 kNm ≥ 462,0 OK ; spasi bersih 33,3 mm ≥ 25 OK
- Lendutan Ig = 26,3 × 10⁹ ; Mcr = 144,7 kNm ; Icr = 7,49 × 10⁹ mm⁴ ; ΔD = 4,2 mm ; ΔL = 5,4 mm
- Δ = 1,89 × 4,2 + 5,4 = 13,3 mm ≤ 15,6 mm OK
- Geser ikut membaik karena d lebih besar (Vc naik 43%); sengkang dihitung ulang dengan langkah bagian D.
Rekomendasi: B2 300 × 800 mm dengan 4D25 satu lapis. Tinggi bertambah 200 mm, tetapi tulangan berkurang satu batang dan pemasangannya lebih mudah. Bila tinggi ruang tidak mengizinkan, pilihan berikutnya adalah partisi ringan atau kolom tengah, dan keputusan itu dibicarakan dengan arsitek dan pemilik gedung.
Ringkasan desain
| Elemen | Hasil |
|---|---|
| Pelat S2 | h = 130 mm; D10-300 atas di tumpuan, D10-300 bawah di lapangan, D10-300 susut |
| Balok B2 (rekomendasi) | bw = 300, h = 800 mm, bf = 2.075 mm; 4D25 bawah, 2D13 atas |
| Sengkang B2 | Ø10 dua kaki, rapat di dekat tumpuan sesuai bagian D (dihitung ulang untuk d = 737,5 mm), Ø10-250 di tengah |
| Penyaluran | Semua tulangan bawah diteruskan ke tumpuan dengan kait 90° di kolom tepi |
| Kemampuan layan | Δ jangka panjang 13,3 mm ≤ L/480; retak terkendali |
Pertanyaan refleksi
1. Mengapa tinggi minimum tabel tidak cukup untuk B2?
2. Apa akibatnya bila kontraktor mengganti 5D25 dengan 8D19 dalam satu lapis?
3. Mengapa rangka uji dihitung sebagian sebagai beban mati dan sebagian beban hidup?
Rubrik penilaian studi kasus
| Aspek | Skor penuh bila | Bobot |
|---|---|---|
| Pembebanan dan gaya dalam | Kombinasi konsisten, letak Mmaks benar, diagram lengkap | 20% |
| Desain pelat | Tebal, koefisien momen, tulangan minimum dan spasi benar | 15% |
| Lentur balok T | Lebar efektif, susunan lapis, d dan dt, daktilitas benar | 20% |
| Geser dan penyaluran | Sengkang bertingkat dengan batas jarak dan penyaluran di tumpuan | 15% |
| Kemampuan layan | Ie, lendutan jangka panjang, batas yang sesuai | 15% |
| Keputusan desain | Perbaikan dibuktikan dengan hitungan dan alasannya jelas | 15% |