RPS FT12440 · Genap 2026/2027 · Topik proyek: jalan dan perkerasan
Capstone Desain: Perancangan Jalan dan Perkerasan
Varian topik jalan dari mata kuliah Capstone Desain. Tim merancang satu ruas jalan kolektor baru dari data lalu lintas, tanah, dan topografi: menetapkan kriteria, memilih trase, menghitung beban lalu lintas, merancang tebal perkerasan lentur dan kaku, menyusun alinyemen horizontal dan vertikal, menghitung galian-timbunan, lalu menyerahkan gambar, spesifikasi, RAB, dan evaluasi biaya siklus hidup.
Trase rencana di atas model permukaan medan perbukitan (kasus berjalan). Seret untuk memutar, cubit atau gulir untuk memperbesar.
Cara kerja kelas ini
Kasus berjalan: Ruas Lingkar Selatan Meulaboh (fiktif), Aceh Barat
| Data | Nilai | Minggu |
|---|---|---|
| Ruas | Jalan kolektor primer baru 2 lajur 2 arah, panjang 2,13 km, medan perbukitan, VR = 60 km/jam (trase sama dengan kelas Geometrik Jalan Raya) | 2–4 |
| Penampang | Lajur 2 × 3,5 m, bahu 2 × 1,5 m, saluran samping beton di kedua sisi | 3 |
| Lalu lintas | LHR 6.125 smp/hari; kendaraan niaga 760 kendaraan/hari, pertumbuhan 5%/tahun | 2, 6 |
| Tanah dasar | 12 titik uji CBR, rata-rata 5,83% → CBR karakteristik 4,35% | 2, 7, 10 |
| Perkerasan terpilih | Lentur: AC 19 cm + LPA kelas A 15 cm + LPA kelas B 23 cm di atas timbunan pilihan 20 cm | 7, 13 |
Capaian pembelajaran
| Kode | Rumusan |
|---|---|
| CPL-3 | Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dengan mengkaji implikasi ekonomi, sosial, lingkungan, keselamatan, dan keberlanjutan dari suatu solusi rekayasa. |
| CPL-5 | Mampu mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah rekayasa kompleks di bidang struktur, geoteknik, transportasi, sumber daya air, dan manajemen konstruksi. |
| CPL-6 | Mampu merancang komponen, sistem, atau proses bangunan teknik sipil sesuai standar teknis yang berlaku dengan memanfaatkan metode dan perangkat lunak rekayasa modern, serta mempertimbangkan kinerja, biaya, dan kemudahan pelaksanaan. |
| CPL-9 | Mampu berkomunikasi secara efektif secara lisan, tulisan, dan gambar teknik, serta bekerja sama dalam tim lintas disiplin dan lintas budaya. |
| CPMK-1 | Mahasiswa mampu merumuskan permasalahan dan kriteria perancangan suatu bangunan sipil berdasarkan data lapangan, kebutuhan pengguna, dan peraturan yang berlaku. |
| CPMK-2 | Mahasiswa mampu merancang struktur, fondasi, dan komponen bangunan sipil sesuai SNI dengan perangkat lunak rekayasa, serta menghasilkan gambar, spesifikasi teknis, dan rencana anggaran biaya. |
| CPMK-3 | Mahasiswa mampu membandingkan alternatif rancangan berdasarkan kriteria teknis, biaya, keselamatan, dan lingkungan, lalu memilih alternatif yang paling layak. |
| CPMK-4 | Mahasiswa mampu bekerja sama dalam tim serta mengomunikasikan hasil rancangan secara tertulis, grafis, dan lisan. |
Rencana pembelajaran 16 minggu
| Mg | Materi | CPMK | Penilaian | Bobot |
|---|
Rencana evaluasi
| Unsur nilai | CPMK-1 | CPMK-2 | CPMK-3 | CPMK-4 | Total |
|---|---|---|---|---|---|
| UTS (presentasi kemajuan) | 8 | 0 | 0 | 7 | 15 |
| UAS (ujian lisan) | 0 | 12 | 3 | 5 | 20 |
| Partisipasi (asistensi) | 2 | 8 | 6 | 0 | 16 |
| Hasil proyek (team-based project) | 10 | 20 | 6 | 13 | 49 |
| Jumlah | 20 | 40 | 15 | 25 | 100 |
Pustaka
- Kementerian PUPR, Ditjen Bina Marga (2017). Manual Desain Perkerasan Jalan (MDP 2017) beserta revisinya.
- Ditjen Bina Marga. Pedoman Desain Geometrik Jalan (2021); Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota (1997).
- AASHTO (1993). Guide for Design of Pavement Structures; Pt T-01-2002-B (perkerasan lentur); Pd T-14-2003 (perkerasan beton semen).
- Ditjen Bina Marga. Spesifikasi Umum 2018 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan (Revisi 2).
- Pendukung: Dym, Little & Orwin (2014). Engineering Design: A Project-Based Introduction; Permen PUPR No. 1 Tahun 2022 (AHSP bidang Bina Marga).
Satuan SI. Desimal memakai koma. Data lalu lintas, CBR, VDF, dan harga pada kasus berjalan adalah ilustrasi; nilai tabel dan kriteria diringkas untuk pembelajaran dan harus dicek dengan dokumen Bina Marga asli pada proyek nyata. Media: AutoCAD Civil 3D, Microsoft Excel.
Minggu 1 · CPMK-1
Jalan adalah proyek lintas disiplin
Satu ruas jalan menyatukan rekayasa lalu lintas (volume dan beban kendaraan), geometrik (trase, tikungan, kelandaian), perkerasan dan geoteknik (tanah dasar, lapis perkerasan), drainase, galian-timbunan, serta pelaksanaan dengan lalu lintas di sekitarnya. Tim menetapkan lingkup, luaran, peran, dan rencana kerja 16 minggu.
Komponen rancangan dan penanggung jawab
| Komponen | Isi rancangan | Peran |
|---|---|---|
| Lalu lintas | LHR, pertumbuhan, VJR, golongan kendaraan niaga, beban sumbu (CESA) | Lalu lintas |
| Geometrik | Kriteria, trase, tikungan, superelevasi, lengkung vertikal, penampang melintang | Geometrik |
| Perkerasan dan tanah dasar | CBR karakteristik, perbaikan tanah dasar, tebal perkerasan lentur dan kaku | Perkerasan |
| Drainase dan tanah | Saluran samping, gorong-gorong, galian-timbunan, diagram massa | Geometrik dan gambar |
| Gambar, spesifikasi, biaya | Gambar rencana, spesifikasi, volume, RAB, metode kerja dan manajemen lalu lintas | Gambar dan biaya |
Cek pemahaman
Soal 1Tebal perkerasan jalan terutama ditentukan oleh…
Kerusakan perkerasan sebanding dengan pangkat empat beban sumbu, sehingga truk yang menentukan.
Minggu 2 · CPMK-1
Tiga data dasar: lalu lintas, tanah, dan medan
Lalu lintas menentukan jumlah lajur dan beban perkerasan; tanah dasar menentukan daya dukung; medan menentukan kecepatan rencana, trase, dan galian-timbunan. Data dikumpulkan dari survei pencacahan lalu lintas, uji DCP atau CBR laboratorium di sepanjang trase, peta topografi atau model permukaan, serta peraturan Bina Marga.
Konsep inti LHR rencana dan CBR karakteristik
Bedah soal: data ruas Lingkar Selatan kasus berjalan
LHR survei: kendaraan ringan 2.400, bus/truk sedang 450, kendaraan berat 180, sepeda motor 5.200 kendaraan/hari; pertumbuhan 4%/tahun (kendaraan umum), k = 0,11. CBR 12 titik (%): 4,2; 5,8; 6,5; 4,9; 7,1; 5,3; 6,0; 4,5; 8,2; 5,6; 6,8; 5,1.
- LHR0 = 6.125 smp/hari ; LHR20 = 13.421 smp/hari ; VJR = 1.476 smp/jam; kemiringan melintang rata-rata 7,11% → medan bukit
- CBR̄ = 5,83% ; s = 1,160% ; CBRkar = 5,83 − 1,282 × 1,160 = 4,35%
- MR = 1.500 × 4,35 = 6.519 psi (44,9 MPa)
Jalan 2 lajur 2 arah cukup untuk VJR 1.476 smp/jam pada kolektor (periksa derajat kejenuhan dengan PKJI). CBR karakteristik 4,35% di bawah 6%, sehingga perbaikan tanah dasar dibahas di minggu 10.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 1
Minggu 3 · CPMK-1
Kecepatan rencana menurunkan semua kriteria geometrik
Fungsi jalan dan medan menetapkan kecepatan rencana; dari kecepatan rencana diturunkan jarak pandang, jari-jari minimum, superelevasi maksimum, kelandaian maksimum, dan panjang lengkung peralihan. Kriteria perkerasan memuat umur rencana, reliabilitas, dan indeks permukaan. Batasan nonteknis: anggaran, pembebasan lahan, lingkungan, dan jadwal.
Konsep inti kriteria geometrik dan perkerasan
Bedah soal: kriteria ruas kasus kasus berjalan
Kolektor primer, medan bukit, VR = 60 km/jam, emaks = 8%. Anggaran ±Rp 30 miliar.
- JPH = 41,7 + 40,9 = 82,6 m ; JPM = 410 m
- Rmin = 60²/[127(0,08 + 0,15)] = 123,2 → 125 m ; kelandaian maksimum 8%
- Perkerasan: umur 20 tahun (lentur) / 40 tahun (kaku) ; R = 90% ; p0 4,2 ; pt 2,0
- Batas biaya ±Rp 14 miliar/km
Trase yang memiliki tikungan dengan R < 125 m atau kelandaian > 8% tidak memenuhi kriteria. Kriteria ini dipakai lagi untuk memeriksa rancangan akhir di minggu 13.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 2
Minggu 4 · CPMK-3
Pendek, landai, atau murah?
Tiga alternatif trase menghubungkan titik awal dan akhir yang sama: trase rencana yang menyeimbangkan galian dan timbunan, trase yang memotong bukit (lebih pendek tetapi galian besar), dan trase yang mengikuti kontur (sedikit galian tetapi panjang dan berkelok). Prarancangan memberi panjang, tikungan, kelandaian, volume tanah, dan perkiraan biaya.
Tiga alternatif trase di atas model permukaan: A rencana, B memotong bukit, C mengikuti kontur.
Konsep inti perkiraan biaya trase
Bedah soal: tiga trase kasus berjalan
A: 2,13 km, 3 tikungan, R terkecil 150 m, gmaks 2,36%, galian dan timbunan ±16.500 m³. B: 1,95 km, R 300 m, gmaks 7,8%, galian 62.000 m³, timbunan 21.000 m³. C: 2,86 km, 5 tikungan, R terkecil 110 m, galian 6.000 m³, timbunan 9.000 m³.
- A = 2,13 × 9,0 + 16.500 × 0,075 + 16.500 × 0,15 (juta) = Rp 22,88 miliar
- B = Rp 25,35 miliar ; C = Rp 27,54 miliar
- C memiliki R = 110 m < 125 m → tidak memenuhi; B memenuhi tetapi kelandaian 7,8% hampir mencapai batas
Trase A paling murah dan memenuhi kriteria. B lebih pendek tetapi galian bukit 62.000 m³ menghasilkan tanah buangan dan lereng galian tinggi; C harus diperbaiki jari-jarinya.
Minggu 5 · CPMK-3
Memilih trase dengan alasan
Kriteria dan bobot disepakati sebelum memberi skor: biaya, keselamatan geometrik, galian-timbunan dan dampak lingkungan, waktu tempuh, pembebasan lahan, serta drainase dan risiko banjir. Skor diberi dengan alasan tertulis, lalu keputusan diuji kepekaannya terhadap bobot yang paling diperdebatkan.
Konsep inti skor terbobot
Bedah soal: memilih trase kasus berjalan
Bobot: biaya 25, keselamatan 20, galian-timbunan 15, waktu tempuh 15, lahan 15, drainase 10. Skor A 4-4-4-4-3-4; B 3-3-2-5-4-3; C 3-2-5-2-2-4.
- A = (100 + 80 + 60 + 60 + 45 + 40)/100 = 3,85
- B = 3,30 ; C = 2,90
- Kepekaan: bobot galian-timbunan ±10 A tetap tertinggi (3,86 dan 3,83)
Trase A dipilih: biaya terendah, galian dan timbunan hampir seimbang, dan seluruh tikungan memenuhi Rmin. Kelemahannya (lahan pertanian yang terpotong) dicatat sebagai butir pembebasan lahan dan saluran irigasi yang harus dipindahkan.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 3
Minggu 6 · CPMK-2
Beban perkerasan adalah truk, bukan mobil
Beban perkerasan dinyatakan sebagai jumlah lintasan sumbu standar 8,16 ton (ESA) di lajur rencana selama umur rencana. Setiap golongan kendaraan niaga punya faktor ekivalen beban (VDF) dari survei timbang. Karena kerusakan sebanding dengan pangkat empat beban sumbu, truk bermuatan lebih menyumbang hampir seluruh beban.
Truk 2 sumbu sedang (golongan 6b) dengan sumbu belakang roda ganda.
Konsep inti CESA
Bedah soal: CESA ruas kasus kasus berjalan
LHR niaga (kendaraan/hari, dua arah) dan VDF₄: bus kecil 120 (0,3), bus besar 60 (1,0), truk 6a 350 (0,55), truk 6b 180 (4,0), truk 7a 50 (7,5). Pertumbuhan 5%/tahun, jalan dibuka 2 tahun setelah survei, umur rencana 20 tahun.
- ESA harian = 36 + 60 + 192,5 + 720 + 375 = 1.383,5
- faktor pra-buka 1,05² = 1,1025 ; R = (1,05²⁰ − 1)/0,05 = 33,066
- CESA = 1.383,5 × 1,1025 × 365 × 0,5 × 1,0 × 33,066 = 9,20 juta ESA
Truk 6b menyumbang 52% beban walaupun jumlahnya hanya 24% kendaraan niaga. Bila survei timbang menunjukkan muatan lebih yang lebih berat, VDF dan CESA naik tajam; uji kepekaannya dicatat di laporan.
Bank soal soal per NIM
Minggu 7 · CPMK-2
Berapa tebal lapis perkerasan?
Metode AASHTO 1993 mencari angka struktural SN yang dibutuhkan agar perkerasan bertahan terhadap CESA dengan reliabilitas tertentu, lalu membaginya ke lapis beraspal, lapis pondasi atas, dan lapis pondasi bawah dengan koefisien kekuatan relatif. Hasil hitungan tangan diverifikasi dengan bagan desain MDP 2017 dan, bila perlu, analisis mekanistik (perangkat lunak).
Susunan lapis perkerasan lentur kasus berjalan dan penyebaran beban roda ke tanah dasar.
Konsep inti AASHTO 1993 lentur
Bedah soal: struktur perkerasan lentur kasus berjalan
W₁₈ = 9,20 juta ESA, R = 90% (ZR = −1,282), S₀ = 0,45, ΔPSI = 4,2 − 2,0 = 2,2, CBR 4,35% (MR = 6.525 psi), MR LPA A 30.000 psi, LPA B 15.000 psi.
- SN₁ = 2,86 ; SN₂ = 3,64 ; SN₃ = 4,78
- D₁ ≥ 2,86/0,40 × 2,54 = 18,2 → 19 cm (AC-WC 4 + AC-BC 6 + AC-Base 9) ; SN₁* = 2,99
- D₂ = (3,64 − 2,99)/0,14 × 2,54 = 11,7 → 15 cm (minimum) ; SN₂* = 3,82
- D₃ = (4,78 − 3,82)/0,11 × 2,54 = 22,2 → 23 cm ; SN₃* = 4,81 ≥ 4,78 ✓
Tebal total 57 cm. Bila hasil bagan desain MDP 2017 berbeda jauh, tim menjelaskan sebabnya (misalnya MDP memisahkan perbaikan tanah dasar dari struktur perkerasan) dan memilih yang lebih konservatif.
Bank soal soal per NIM
Minggu 8 · CPMK-1 dan CPMK-4
Ujian Tengah Semester
Presentasi kemajuan proyek jalan dan laporan antara (pertemuan 1–7). Bobot 15%: kriteria perancangan (CPMK-1, 8%) serta laporan dan presentasi (CPMK-4, 7%).
Isi laporan antara
| Bab | Isi | Porsi |
|---|---|---|
| 1. Data dan kriteria | Lalu lintas, CBR dan segmentasi, topografi, kriteria geometrik dan perkerasan | 30% |
| 2. Konsep | Alternatif trase, prarancangan, matriks keputusan | 20% |
| 3. Beban lalu lintas | Golongan kendaraan, VDF, CESA, kepekaan terhadap muatan lebih | 20% |
| 4. Perkerasan lentur dan verifikasi | AASHTO 1993 dan bagan desain MDP 2017 | 20% |
| 5. Rencana sisa pekerjaan | Jadwal minggu 9–16 dan pembagian tugas | 10% |
Rubrik presentasi kemajuan
| Aspek | Sangat baik | Perlu perbaikan |
|---|---|---|
| Kriteria perancangan | VR, Rmin, umur rencana, dan CBR desain diturunkan dari data dan standar | Angka kriteria disalin tanpa sumber |
| Struktur penyampaian | Masalah → keputusan → bukti | Membaca tabel |
| Kerja tim | Semua anggota menjelaskan bagiannya | Satu orang mendominasi |
Minggu 9 · CPMK-2
Merancang tikungan dan lengkung vertikal
Unsur geometrik dirancang satu per satu: jenis tikungan (lingkaran penuh, spiral-lingkaran-spiral, atau spiral-spiral), superelevasi, lengkung peralihan, pelebaran, dan kebebasan samping; lalu lengkung vertikal cembung dan cekung untuk jarak pandang dan kenyamanan. Alinyemen horizontal dan vertikal diperiksa bersama agar tikungan tajam tidak tersembunyi di balik puncak lengkung cembung.
Tikungan S-C-S PI-1 dengan superelevasi yang berubah sepanjang lengkung peralihan (lebar dan kemiringan dibesarkan).
Konsep inti tikungan S-C-S dan lengkung vertikal
Bedah soal: tikungan PI-1 dan lengkung cembung kasus berjalan
PI-1: R = 200 m, Δ = 47,726°, VR = 60 km/jam, emaks 8%. PVI di STA 1+000 elevasi +30,00, g₁ = +1,05%, g₂ = −2,36%.
- Superelevasi e = 6,82%; Ls = 50 m (waktu tempuh 3 detik menentukan)
- θs = 7,162° ; Δc = 33,402° ; Lc = 116,60 m ≥ 20 m → S-C-S
- Ts = 113,69 m ; Es = 19,27 m ; pelebaran 1,03 m ; kebebasan samping 4,25 m
- Lengkung cembung A = 3,41% ; L perlu 40 m → dipakai 80 m ; Ev = 0,341 m → elevasi rencana +29,66
PI-2 (R = 150 m) menjadi tikungan S-S dan PI-3 (R = 500 m) lingkaran penuh. Lengkung cembung dipanjangkan menjadi 80 m agar puncaknya tidak terasa tajam dan kebebasan samping di PI-1 dijaga bebas dari tebing galian.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 4
Minggu 10 · CPMK-2
Fondasi jalan adalah tanah dasar
Tanah dasar dengan CBR karakteristik di bawah ±6% perlu diperbaiki agar pelaksanaan lapis pondasi dapat dipadatkan dan kinerja jangka panjang terjamin: lapis timbunan pilihan, stabilisasi semen atau kapur, atau geosintetik. Untuk perbandingan jenis perkerasan, tim juga merancang alternatif perkerasan kaku: pelat beton di atas lapis beton kurus, dengan ruji di sambungan melintang dan batang pengikat di sambungan memanjang.
Pelat beton dengan ruji di sambungan melintang dan batang pengikat di sambungan memanjang.
Konsep inti AASHTO 1993 kaku
Bedah soal: tanah dasar dan pelat beton kasus berjalan
CBR karakteristik 4,35%. Perkerasan kaku: W₁₈ = 1,5 × 9,20 = 13,81 juta ESA, Sc = 4,5 MPa, f′c 30 MPa, k efektif 40 MPa/m (dengan lapis beton kurus 10 cm dan LPA 15 cm), J = 2,8, Cd = 1,0.
- Perbaikan tanah dasar: timbunan pilihan 20 cm × lebar 10 m × 2.127 m ≈ 4.250 m³ sebagai lapis penopang; tebal AASHTO tetap memakai CBR 4,35% (konservatif)
- Ec = 4.700√30 = 25.743 MPa = 3,73×10⁶ psi ; Sc = 653 psi ; k = 147 pci
- D = 9,78 in = 24,8 cm → pelat 25 cm; ruji polos Ø32 mm panjang 450 mm jarak 300 mm
- Batang pengikat At = 204 × 3,5 × 0,25 = 178,5 mm²/m → D16 jarak 750 mm, panjang 700 mm
Kedua alternatif kini memiliki tebal dan volume, sehingga biayanya dapat dibandingkan dengan biaya siklus hidup di minggu 13.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 5
Minggu 11 · CPMK-2
Tanah galian dipakai untuk timbunan
Gambar rencana jalan memuat situasi dan alinyemen horizontal, profil memanjang (tanah asli dan garis rencana), potongan melintang setiap 25–50 m, penampang tipikal perkerasan, detail drainase, gorong-gorong, dan perlengkapan jalan. Dari potongan melintang dihitung volume galian dan timbunan; diagram massa menunjukkan ke mana tanah galian dipindahkan dan berapa kekurangan atau kelebihannya.
Konsep inti volume dan diagram massa
Bedah soal: keseimbangan tanah kasus berjalan
Profil rencana dengan PVI 0+000 (+19,50), 1+000 (+30,00, L 80 m), 1+550 (+17,00, L 100 m), 2+127 (+24,50). Lebar badan jalan 10 m, lereng timbunan 1:2, galian 1:1, saluran 1,2 m², f = 0,9, penampang setiap 50 m.
- Kalkulator menghitung luas setiap penampang dan volume antarpenampang
- galian 16.527 m³ ; timbunan 16.471 m³
- ordinat akhir −1.596 m³ (galian setelah susut tidak cukup) ; puncak ordinat 9.740 m³ di STA 1+200
Galian bukit di sekitar STA 0+800–1+200 diangkut ke lembah di sekitar STA 1+550; kekurangan ±1.600 m³ didatangkan dari quarry. Garis rencana sudah mendekati seimbang, sehingga perubahan kecil elevasi PVI dapat menghilangkan kebutuhan tanah dari luar.
Bank soal soal per NIM
Tugas proyek 6
Minggu 12 · CPMK-2
Berapa biaya jalan ini?
Volume dihitung dari gambar: galian, timbunan, timbunan pilihan, penyiapan badan jalan, lapis pondasi, lapis resap dan perekat, campuran beraspal (dalam ton), saluran, gorong-gorong, dan perlengkapan. Spesifikasi teknis merujuk Spesifikasi Umum Bina Marga: gradasi dan kepadatan lapis berbutir, campuran beraspal dan pengujiannya, beton, serta manajemen lalu lintas dan K3 selama pelaksanaan.
Penampang tipikal perkerasan lentur dengan bahu, timbunan pilihan, dan saluran samping.
Konsep inti volume perkerasan
Bedah soal: RAB ruas kasus kasus berjalan
Panjang 2.127 m, perkerasan 7 m, bahu 2 × 1,5 m, AC 4/6/9 cm, LPA A 15 cm dan B 23 cm, galian 16.527 m³, timbunan 16.471 m³, timbunan pilihan 4.250 m³, 6 gorong-gorong; harga ilustrasi di kalkulator.
- AC-WC 1.382 t ; AC-BC 2.072 t ; AC-Base 3.109 t ; LPA A 3.191 m³ ; LPA B 4.892 m³
- subtotal Rp 25,59 miliar ; total dengan PPN Rp 28,41 miliar
- Rp 13,35 miliar/km; perkerasan 55% dari subtotal
Total di bawah anggaran ±Rp 30 miliar. Perkerasan adalah komponen terbesar, sehingga tebal perkerasan yang tepat (tidak berlebihan dan tidak kurang) paling berpengaruh pada biaya; saluran samping beton adalah komponen besar berikutnya.
Tugas proyek 7
Minggu 13 · CPMK-3
Lentur murah di awal, kaku murah dirawat
Perkerasan lentur lebih murah dibangun tetapi memerlukan lapis tambah (overlay) berkala; perkerasan kaku lebih mahal di awal tetapi pemeliharaannya ringan. Evaluasi akhir membandingkan biaya siklus hidup keduanya selama periode analisis yang sama, menilai risiko K3 pelaksanaan dengan lalu lintas di sekitar zona kerja, dan dampak lingkungan (lereng galian, tanah buangan, debu, dan drainase).
Konsep inti biaya siklus hidup
Bedah soal: lentur atau kaku? kasus berjalan
Lentur: biaya awal perkerasan Rp 14,0 miliar (minggu 12), overlay Rp 3,6 miliar setiap 10 tahun, rutin Rp 120 juta/tahun. Kaku: Rp 18,5 miliar, perbaikan sambungan Rp 0,9 miliar setiap 10 tahun, rutin Rp 40 juta/tahun. Periode 40 tahun, i = 6%.
- LCC lentur = Rp 19,57 miliar ; LCC kaku = Rp 20,04 miliar
- Kaku lebih murah bila diskonto ≤ 5,2%
- Risiko K3 tertinggi: tertabrak kendaraan di zona kerja (skor 15) dan alat berat mundur (12)
Perkerasan lentur dipilih dengan selisih tipis (Rp 0,48 miliar), sehingga keputusannya peka terhadap diskonto dan interval overlay; tim mencantumkan analisis kepekaan ini di laporan. Rencana manajemen lalu lintas (rambu, pengatur lalu lintas, pembatas zona kerja) dan alarm mundur alat berat menjadi syarat spesifikasi.
Bank soal soal per NIM
Minggu 14 · CPMK-4
Laporan perancangan jalan
Laporan harus dapat diperiksa ulang: data lalu lintas dan CBR terlampir, kriteria dikutip dari pedoman Bina Marga dan AASHTO, hitungan contoh lengkap, keluaran perangkat lunak (Civil 3D) diringkas dan diverifikasi, gambar, spesifikasi, RAB, dan biaya siklus hidup terlampir.
Sistematika laporan
| Bab | Isi |
|---|---|
| Ringkasan eksekutif | Lokasi, panjang, kelas jalan, struktur perkerasan, biaya, risiko utama |
| 1. Pendahuluan | Latar belakang, rumusan masalah, lingkup, batasan |
| 2. Data dan kriteria | Lalu lintas, tanah dasar, topografi, kriteria geometrik dan perkerasan |
| 3. Pemilihan trase | Alternatif, prarancangan, matriks keputusan |
| 4. Alinyemen | Tikungan, superelevasi, lengkung vertikal, penampang melintang |
| 5. Perkerasan | CESA, perkerasan lentur dan kaku, verifikasi MDP 2017 |
| 6. Tanah dasar, drainase, tanah | Perbaikan tanah dasar, saluran, gorong-gorong, diagram massa |
| 7. Biaya dan pelaksanaan | Spesifikasi, RAB, metode kerja, manajemen lalu lintas, K3 |
| 8. Evaluasi dan kesimpulan | Pemenuhan kriteria, biaya siklus hidup, rekomendasi |
| Lampiran | Gambar, hitungan, data survei, AHSP, notulen asistensi |
Tugas proyek 8
Minggu 15 · CPMK-4
Satu nilai tim, kontribusi yang berbeda
Tim mempresentasikan rancangan jalan kepada penguji dan kelompok lain. Penilaian sejawat metode WebPA menyesuaikan nilai tim dengan kontribusi setiap anggota.
Ringkasan kasus berjalan
| Tahap | Hasil | Minggu |
|---|---|---|
| Data | VJR 1.476 smp/jam, medan bukit; CBR karakteristik 4,35% | 2 |
| Kriteria | VR 60 km/jam; JPH 82,6 m; Rmin 125 m; gmaks 8% | 3 |
| Trase | A 3,85 > B 3,30 > C 2,90; trase A Rp 22,9 miliar (prarancangan) | 4–5 |
| Beban dan perkerasan lentur | CESA 9,20 juta ESA; AC 19 + LPA A 15 + LPA B 23 cm | 6–7 |
| Alinyemen dan tanah dasar | PI-1 S-C-S R 200 m, e 6,82%; cembung L 80 m; timbunan pilihan 20 cm; alternatif kaku 25 cm | 9–10 |
| Tanah, biaya, evaluasi | Galian 16.527 m³, timbunan 16.471 m³; RAB Rp 28,41 miliar; LCC lentur 19,57 < kaku 20,04 miliar | 11–13 |
Bank soal campuran
Minggu 16 · CPMK-2 sampai CPMK-4
Ujian Akhir Semester
Ujian lisan individual atas produk rancangan jalan: laporan, gambar, spesifikasi, dan RAB. Bobot 20% (CPMK-2 12%, CPMK-3 3%, CPMK-4 5%).
Contoh pertanyaan penguji
| Topik | Pertanyaan |
|---|---|
| Data | Mengapa CBR desain 4,35%, bukan rata-rata 5,83%? |
| Beban | Apa yang terjadi pada CESA bila truk 6b ternyata membawa muatan 20% lebih berat? |
| Perkerasan | Mengapa LPA kelas A dipakai 15 cm padahal hitungan hanya meminta 11,7 cm? |
| Geometrik | Mengapa PI-2 menjadi tikungan S-S, dan apa risikonya bagi pengemudi? |
| Tanah | Bagaimana menghilangkan kebutuhan 1.600 m³ tanah dari luar? |
| Biaya | Pada kondisi apa perkerasan kaku menjadi pilihan yang lebih baik? |