RPS FT12431 · Ganjil 2026/2027
Perkerasan Bahan
Jalan adalah struktur berlapis yang tugasnya menyebarkan beban roda sampai tanah dasar sanggup menahannya, sambil tetap rata, kesat, dan kedap air selama puluhan tahun. Mata kuliah ini membahas bahan penyusunnya, cara merancang campuran beraspal, dan cara menentukan tebal perkerasan lentur dan kaku.
Potongan perkerasan lentur di bawah roda truk. Seret untuk memutar, cubit atau gulir untuk memperbesar.
Cara belajar di kelas ini
Kasus berjalan: Ruas Kolektor Meulaboh–Seuneubok
Satu ruas jalan fiktif dipakai sepanjang semester supaya mahasiswa melihat satu proyek dari data tanah sampai penanganan kerusakan. Angka-angkanya dibuat realistis untuk latihan, bukan data resmi.
| Data | Nilai | Minggu |
|---|---|---|
| Ruas | Jalan kolektor 2 lajur 2 arah tak terbagi, panjang 4 km, daerah datar dekat pesisir | 1 |
| Tanah dasar | 10 titik uji CBR lapangan, rata-rata sekitar 6% | 2 |
| Agregat dan aspal | Batu pecah dari quarry sungai, aspal pen 60/70 | 3–6 |
| Lalu lintas | Bus besar 60, truk 2 sumbu 150, truk 3 sumbu 30 kendaraan/hari (dua arah) | 7, 9–10 |
| Alternatif kaku | Segmen 500 m dekat pasar dirancang dengan beton semen | 11 |
| Jalan lama | Segmen 1 km yang sudah ada diperiksa lendutan dan kerusakannya | 12–14 |
Capaian pembelajaran
| Kode | Rumusan |
|---|---|
| CPL-5 | Mampu mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah rekayasa kompleks di bidang struktur, geoteknik, transportasi, sumber daya air, dan manajemen konstruksi. |
| CPL-6 | Mampu merancang komponen, sistem, atau proses bangunan teknik sipil sesuai standar teknis yang berlaku dengan memanfaatkan metode dan perangkat lunak rekayasa modern, serta mempertimbangkan kinerja, biaya, dan kemudahan pelaksanaan. |
| CPMK-1 | Mahasiswa mampu menganalisis karakteristik bahan perkerasan, tanah dasar, beban lalu lintas, dan kondisi perkerasan. |
| CPMK-2 | Mahasiswa mampu merancang campuran beraspal serta tebal perkerasan lentur dan kaku sesuai pedoman. |
Rencana pembelajaran 16 minggu
| Mg | Materi | CPMK | Penilaian | Bobot |
|---|
Rencana evaluasi
| Unsur nilai | Metode | CPMK-1 | CPMK-2 | Total |
|---|---|---|---|---|
| Kuis | Kognitif – kuis | 10 | 5 | 15 |
| UTS | Kognitif – ujian tengah semester | 8 | 7 | 15 |
| UAS | Kognitif – ujian akhir semester | 10 | 10 | 20 |
| Partisipasi | Aktivitas partisipatif | 16 | 16 | 32 |
| Case method | Kognitif – tugas | 6 | 12 | 18 |
| Jumlah | 50 | 50 | 100 |
Pustaka
- Direktorat Jenderal Bina Marga. (2017). Manual Desain Perkerasan Jalan (Revisi 2017). Kementerian PUPR.
- Sukirman, S. (2010). Perencanaan Tebal Struktur Perkerasan Lentur. Nova.
- Huang, Y. H. (2004). Pavement Analysis and Design (2nd ed.). Pearson Prentice Hall.
- Pendukung: Direktorat Jenderal Bina Marga. (2018). Spesifikasi Umum 2018 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan. Kementerian PUPR.
Satuan: tebal cm atau mm, tegangan kPa atau MPa, beban kN atau ton, desimal memakai koma. Media: Microsoft Excel, laptop, layar, proyektor.
Minggu 1 · CPMK-1
Perkerasan adalah alat penyebar beban
Tekanan ban truk sekitar 550 kPa, sedangkan tanah dasar yang lunak hanya sanggup menahan beberapa puluh kPa berulang-ulang tanpa melendut permanen. Setiap lapis perkerasan bertugas menurunkan tekanan itu sedikit demi sedikit.
Mengapa jalan aspal di depan kampus tebalnya lebih dari 40 cm, padahal yang terlihat dari atas hanya lapisan hitam setebal beberapa sentimeter?
Susunan lapis perkerasan lentur. Tekanan roda menyebar membentuk kerucut, sehingga makin dalam makin kecil per satuan luas.
Konsep inti tiga jenis perkerasan
Perkerasan lentur (aspal) menyebarkan beban secara bertahap melalui beberapa lapis yang makin ke bawah makin murah dan makin lemah: lapis aus, lapis antara, lapis pondasi, dan lapis pondasi bawah. Tanah dasar ikut memikul sebagian besar beban, sehingga kualitas tanah dasar sangat menentukan tebal.
Perkerasan kaku (beton semen) memakai pelat beton yang sangat kaku. Pelat menyebarkan beban roda ke area yang luas sehingga tekanan ke tanah dasar kecil, dan kekuatan pelat itu sendiri yang paling menentukan.
Perkerasan komposit menggabungkan keduanya, misalnya lapis aspal di atas pelat beton untuk kenyamanan berkendara.
| Lapis (perkerasan lentur) | Bahan umum | Fungsi utama |
|---|---|---|
| Lapis aus (AC-WC) | Laston, agregat bergradasi rapat + aspal | Kedap air, kesat, tahan aus; memikul tegangan terbesar |
| Lapis antara (AC-BC) | Laston dengan butir lebih kasar | Menyebarkan beban, menahan alur |
| Lapis pondasi beraspal (AC-Base) | Laston butir kasar | Lapis struktural utama pada jalan lalu lintas berat |
| Lapis pondasi agregat (LPA kelas A) | Batu pecah bergradasi, dipadatkan | Menyebarkan beban dan drainase |
| Lapis pondasi bawah (LPA kelas B) | Agregat lebih murah, sirtu | Menyebarkan beban, lantai kerja, mencegah tanah naik ke lapis atas |
| Tanah dasar | Tanah asli atau timbunan dipadatkan | Pondasi seluruh struktur |
Simulasi penyebaran tegangan
Simulasi berikut memakai solusi Boussinesq untuk beban lingkaran di atas bahan homogen, dan pendekatan tebal ekivalen Odemark untuk melihat pengaruh lapis yang lebih kaku. Ini model sederhana untuk memahami konsep, bukan prosedur desain.
Bedah soal: tekanan roda pada tanah dasar
Roda ganda sumbu standar 8,16 ton: satu ban memikul sekitar 20 kN dengan tekanan ban 550 kPa. Berapa tegangan vertikal di kedalaman 30 cm bila bahan di atasnya sama dengan tanah dasar, dan bila diganti lapis beraspal 25 cm (E = 2.000 MPa) di atas tanah dasar (E = 60 MPa)?
- Jari-jari bidang kontak a = √(P/(πq)) = √(20/(π × 550)) = 0,108 m
- Tanpa lapis kaku, z = 0,30 m σz = q[1 − z³/(a² + z²)^1,5] = 550 × [1 − 0,027/(0,0116 + 0,09)^1,5] = 91 kPa
- Dengan lapis aspal 25 cm, tebal ekivalen Odemark he = 0,9 × h × (E₁/E₂)^⅓ = 0,9 × 0,25 × (2.000/60)^⅓ = 0,72 m
- Tegangan di atas tanah dasar σz pada z = 0,72 m ≈ 18 kPa (tanpa lapis kaku pada z = 0,25 m: 124 kPa)
Lapis yang kaku bekerja seperti lapis tanah yang jauh lebih tebal. Tegangan di tanah dasar turun dari 124 kPa menjadi sekitar 18 kPa, cukup kecil untuk tanah dasar yang dipadatkan dengan baik.
Miskonsepsi umum
Air adalah musuh utama. Daerah pesisir seperti Meulaboh memiliki muka air tanah tinggi dan curah hujan besar. Tanah dasar yang jenuh kehilangan sebagian besar daya dukungnya, sehingga kemiringan melintang 2–3% dan saluran samping sama pentingnya dengan tebal lapis.
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa lapis pondasi bawah memakai bahan yang lebih murah dari lapis aus?
Tegangan berkurang cepat dengan kedalaman, jadi bahan berkualitas tinggi hanya diperlukan di dekat permukaan.
Soal 2Pada perkerasan kaku, bagian yang paling menentukan tebal adalah…
Pelat beton memikul beban dengan melentur. Retak lelah akibat jutaan lintasan sumbu menentukan tebal pelat.
Diskusi 1.1 — Jalan di sekitar kampus
Minggu 2 · CPMK-1
Mengukur seberapa kuat tanah dasar
Satu ruas jalan sepanjang beberapa kilometer melewati tanah yang berbeda-beda. Perencana harus memilih satu angka daya dukung yang mewakili setiap segmen, tidak terlalu optimistis dan tidak terlalu boros.
Sepuluh titik uji CBR memberi nilai 4,5% sampai 8%. Bila perencana memakai rata-ratanya, berapa persen panjang jalan yang tanah dasarnya sebenarnya lebih lemah dari angka desain?
Konsep inti CBR dan modulus resilien
CBR (California Bearing Ratio) membandingkan beban yang diperlukan untuk menekan piston berdiameter 50 mm ke dalam tanah dengan beban untuk menekan batu pecah standar. Pada penetrasi 2,54 mm beban standar 13,34 kN, dan pada 5,08 mm 20,0 kN. CBR diambil dari nilai yang lebih besar; bila nilai pada 5,08 mm lebih besar, pengujian diulang dan bila hasilnya sama, nilai 5,08 mm yang dipakai.
Modulus resilien (MR) adalah kekakuan tanah terhadap beban berulang: tegangan dibagi regangan yang pulih setelah beban lewat. Analisis perkerasan modern memakai MR. Untuk tanah dasar, MDP 2017 memakai pendekatan MR (MPa) ≈ 10 × CBR.
Segmentasi membagi ruas menjadi segmen dengan CBR yang relatif seragam. Untuk setiap segmen dipakai CBR karakteristik, yaitu nilai yang dilampaui oleh sebagian besar titik di segmen itu.
Bedah soal 1: membaca hasil uji CBR laboratorium
Hasil uji CBR: beban 4,2 kN pada penetrasi 2,54 mm dan 6,9 kN pada 5,08 mm. Pengujian ulang memberi hasil yang hampir sama.
- CBR2,54 = 4,2/13,34 × 100 = 31,5%
- CBR5,08 = 6,9/20,0 × 100 = 34,5%
- Nilai 5,08 mm lebih besar dan uji ulang konsisten CBR = 34,5%
CBR = 34,5%. Nilai sebesar ini cocok untuk bahan timbunan pilihan, bukan tanah dasar lunak.
Bedah soal 2: CBR karakteristik segmen kasus berjalan
Sepuluh titik uji DCP yang dikonversi ke CBR di ruas kolektor: 5,2 ; 6,8 ; 4,9 ; 7,5 ; 6,1 ; 5,6 ; 8,0 ; 4,5 ; 6,3 ; 5,9%.
- Rata-rata dan simpangan baku CBRrata = 6,08% ; s = 1,12%
- Koefisien variasi CV = 1,12/6,08 = 18% ≤ 25% → satu segmen boleh
- Jalan kolektor, f = 1,282 CBRkarakteristik = 6,08 − 1,282 × 1,12 = 4,65%
- Modulus tanah dasar MR ≈ 10 × 4,65 = 46,5 MPa
CBR desain 4,65%, bukan rata-rata 6,08%. Dengan rata-rata, sekitar separuh panjang jalan memiliki tanah dasar yang lebih lemah dari angka desain. Angka ini dipakai pada minggu 10.
Bank soal latihan per NIM
Miskonsepsi umum
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa CBR karakteristik lebih kecil dari rata-rata?
Dengan f = 1,282, sekitar 90% titik diharapkan berada di atas CBR karakteristik bila sebarannya mendekati normal.
Minggu 3 · CPMK-1
Agregat adalah kerangka perkerasan
Sekitar 90–95% berat campuran beraspal adalah agregat. Butir-butir batu yang saling mengunci itulah yang memikul beban; aspal hanya mengikat dan menutup rongga.
Mengapa kontraktor tidak boleh memakai batu kali bulat utuh untuk campuran aspal, padahal batunya keras?
Butir besar membentuk kerangka, butir kecil mengisi rongga di antaranya. Gradasi yang baik membuat susunan padat dan saling mengunci.
Konsep inti empat sifat agregat
- Gradasi: sebaran ukuran butir, dari analisis saringan. Gradasi rapat (menerus) memberi campuran padat dan kedap; gradasi senjang atau seragam meninggalkan rongga besar.
- Kekerasan dan ketahanan aus: diuji dengan mesin Abrasi Los Angeles. Agregat yang mudah aus pecah saat dipadatkan dan saat dilewati kendaraan, sehingga gradasinya berubah.
- Bentuk dan tekstur butir: butir bersudut dan bertekstur kasar saling mengunci dan menahan geser. Butir pipih dan lonjong mudah patah; butir bulat licin mudah menggelincir.
- Kebersihan dan kelekatan: lempung yang menyelimuti butir menghalangi aspal melekat, lalu aspal mengelupas bila terkena air (stripping).
| Sifat agregat kasar untuk campuran beraspal | Batas umum | Mengapa |
|---|---|---|
| Abrasi Los Angeles, 500 putaran | ≤ 40% (≤ 30% untuk campuran aspal modifikasi) | Butir tidak hancur saat dipadatkan dan dilewati roda |
| Kelekatan agregat terhadap aspal | ≥ 95% | Aspal tidak mengelupas saat basah |
| Partikel pipih dan lonjong (perbandingan 1:5) | ≤ 10% | Butir tidak patah dan tetap saling mengunci |
| Penyerapan air | ≤ 3% | Aspal tidak terserap berlebihan ke dalam pori batu |
Ringkasan dari Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Seksi 6.3. Persyaratan lengkap (angularitas, nilai setara pasir, butir pecah, dan lainnya) dibaca langsung dari tabel spesifikasi.
Bedah soal 1: analisis saringan
Contoh agregat gabungan 1.170 g diayak. Berat tertahan (g): 19 mm 0 ; 12,5 mm 60 ; 9,5 mm 170 ; 4,75 mm 250 ; 2,36 mm 190 ; 1,18 mm 140 ; 0,6 mm 110 ; 0,3 mm 90 ; 0,15 mm 70 ; 0,075 mm 50 ; pan 40. Bandingkan dengan amplop AC-WC.
- Persen tertahan kumulatif lalu persen lolos 12,5 mm: 60/1.170 = 5,1% tertahan → 94,9% lolos
- % lolos: 100 ; 94,9 ; 80,3 ; 59,0 ; 42,7 ; 30,8 ; 21,4 ; 13,7 ; 7,7 ; 3,4
- Bandingkan dengan amplop AC-WC (Spesifikasi 2018) semua saringan masuk amplop kecuali 0,075 mm: 3,4% < batas bawah 4%
Gradasi hampir memenuhi, tetapi kekurangan bahan lolos 0,075 mm (filler). Tambahkan bahan pengisi seperti abu batu halus atau semen sekitar 1–2% pada perencanaan campuran minggu 5. Masukkan angka ini ke kalkulator untuk melihat grafiknya.
Bedah soal 2: abrasi Los Angeles
Benda uji 5.000 g diputar 500 kali dalam mesin Los Angeles. Bagian yang tertahan saringan 1,7 mm (No. 12) setelah dicuci dan dikeringkan 3.550 g.
- Keausan = (5.000 − 3.550)/5.000 × 100 = 29,0%
- 29,0% ≤ 40% memenuhi ; ≤ 30% juga memenuhi untuk aspal modifikasi
Agregat cukup keras untuk lapis beraspal, termasuk campuran dengan aspal modifikasi.
Bank soal latihan per NIM
Kuis 1 latihan sebelum kuis
Soal 1Mengapa butir bersudut lebih disukai daripada butir bulat?
Butir bersudut menahan gerak relatif satu sama lain. Butir bulat menggelinding seperti kelereng di bawah beban.
Soal 2Agregat dengan abrasi Los Angeles 45% sebaiknya…
Agregat yang mudah aus pecah saat dipadatkan sehingga gradasi dan rongga campuran berubah dari rancangan.
Minggu 4 · CPMK-1
Aspal: lem yang sifatnya berubah dengan suhu
Pada suhu pencampuran aspal cair seperti oli, pada siang hari terik ia lunak, dan pada malam hari ia keras dan getas. Hampir semua pengujian aspal mengukur seberapa jauh sifatnya berubah terhadap suhu dan waktu.
Mengapa jalan aspal di jalur truk yang sering macet di siang hari lebih cepat bergelombang daripada jalan yang lalu lintasnya lancar?
Konsep inti viskoelastis dan peka suhu
Aspal bersifat viskoelastis: di bawah beban cepat (kendaraan melaju) ia berperilaku hampir elastis, di bawah beban lambat atau diam (kendaraan berhenti, macet) ia mengalir seperti cairan kental. Suhu tinggi memperkuat sifat mengalir. Itulah sebabnya alur dan gelombang banyak muncul di persimpangan dan tanjakan.
- Aspal keras (penetrasi 60/70 atau 40/50) dipanaskan untuk dicampur dengan agregat panas di AMP (campuran panas).
- Aspal emulsi: butir aspal yang terdispersi dalam air dengan pengemulsi. Dipakai dingin untuk lapis resap pengikat, lapis perekat, dan pemeliharaan.
- Aspal modifikasi: aspal ditambah polimer (elastomer atau plastomer) atau asbuton agar lebih tahan alur pada suhu tinggi dan lebih lentur pada suhu rendah.
| Pengujian aspal pen 60/70 | Syarat | Yang diukur |
|---|---|---|
| Penetrasi pada 25 °C (0,1 mm) | 60–70 | Kekerasan: masuknya jarum 100 g selama 5 detik |
| Titik lembek (cincin dan bola) | ≥ 48 °C | Suhu saat aspal mulai melunak |
| Daktilitas pada 25 °C | ≥ 100 cm | Kemampuan memanjang tanpa putus |
| Titik nyala | ≥ 232 °C | Keamanan saat pemanasan |
| Berat jenis | ≥ 1,0 | Dipakai dalam hitungan volumetrik |
| Kehilangan berat setelah pemanasan (TFOT/RTFOT) | ≤ 0,8% | Penguapan dan penuaan selama pencampuran |
| Penetrasi setelah pemanasan | ≥ 54% semula | Seberapa cepat aspal mengeras karena penuaan |
Ringkasan dari Spesifikasi Umum 2018 untuk aspal keras pen 60/70. Suhu pencampuran dan pemadatan ditentukan dari grafik viskositas–suhu aspal yang dipakai: viskositas sekitar 170 ± 20 cSt untuk pencampuran dan 280 ± 30 cSt untuk pemadatan.
Bedah soal: indeks penetrasi
Aspal dengan penetrasi 65 (0,1 mm) dan titik lembek 50 °C. Hitung indeks penetrasi (PI) dan periksa terhadap syarat pen 60/70.
- Anggap penetrasi aspal pada titik lembek sekitar 800 A = (log 800 − log 65)/(50 − 25) = (2,903 − 1,813)/25 = 0,0436
- PI = (20 − 500A)/(1 + 50A) = (20 − 21,80)/(1 + 2,18) = −0,57
- Syarat penetrasi 65 di antara 60–70 OK ; titik lembek 50 ≥ 48 °C OK
PI = −0,57, di dalam rentang umum aspal jalan (sekitar −1 sampai +1). Makin kecil PI, makin peka aspal terhadap perubahan suhu.
Miskonsepsi umum
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa alur paling sering terjadi di dekat lampu lalu lintas?
Waktu pembebanan yang lama dan suhu tinggi membuat sifat cair aspal lebih dominan.
Minggu 5 · CPMK-2
Mencampur beberapa fraksi agar masuk amplop
Quarry menghasilkan batu pecah dalam beberapa ukuran terpisah. Perencana campuran memilih proporsi setiap fraksi sehingga gradasi gabungannya berada di dalam amplop spesifikasi, sebaiknya dekat titik tengahnya.
Bila semua fraksi dicampur dengan proporsi sama banyak, apakah gradasinya pasti masuk spesifikasi?
Konsep inti rata-rata tertimbang
Persen lolos gradasi gabungan pada setiap saringan adalah rata-rata tertimbang persen lolos masing-masing fraksi:
Proporsi dicari dengan coba-coba (atau aljabar pada saringan kunci), lalu diperiksa di semua saringan. Amplop AC-WC menurut Spesifikasi 2018 (% lolos): 19 mm 100 ; 12,5 mm 90–100 ; 9,5 mm 77–90 ; 4,75 mm 53–69 ; 2,36 mm 33–53 ; 1,18 mm 21–40 ; 0,6 mm 14–30 ; 0,3 mm 9–22 ; 0,15 mm 6–15 ; 0,075 mm 4–9.
Bedah soal: tiga fraksi untuk AC-WC
Tiga fraksi (persen lolos): agregat kasar CA (10–20 mm), agregat sedang MA (5–10 mm), dan abu batu FA (0–5 mm) seperti nilai awal kalkulator. Tentukan proporsi yang masuk amplop AC-WC.
- Saringan 2,36 mm sebagai kunci (target tengah 43%) CA 2 ; MA 12 ; FA 72 → 0,02a + 0,12b + 0,72c ≈ 43
- Saringan 9,5 mm (target tengah 83,5%) CA 45 ; MA 98 ; FA 100
- Coba a = 0,20 ; b = 0,25 ; c = 0,55 2,36 mm: 0,4 + 3,0 + 39,6 = 43,0% ; 9,5 mm: 9,0 + 24,5 + 55,0 = 88,5%
- Periksa semua saringan di kalkulator, terutama 0,075 mm 0,075 mm: 0,2 + 0,3 + 6,1 = 6,6% (amplop 4–9)
Proporsi 20% CA, 25% MA, 55% FA memberi gradasi di dalam amplop. Geser penggeser kalkulator dan perhatikan saringan mana yang paling cepat keluar amplop.
Cek pemahaman
Soal 1Persen lolos 4,75 mm: CA 5%, FA 95%. Bila hanya dua fraksi dengan 40% CA dan 60% FA, berapa persen lolos gabungan?
0,40 × 5 + 0,60 × 95 = 2 + 57 = 59%.
Minggu 6 · CPMK-2
Mencari kadar aspal yang pas
Benda uji Marshall dibuat dengan beberapa kadar aspal, lalu diukur rongga, stabilitas, dan kelelehannya. Kadar aspal optimum adalah kadar yang memenuhi semua syarat sekaligus.
Campuran beraspal harus kedap air, tetapi juga harus punya rongga. Mengapa rongga udara 3–5% justru disyaratkan?
Benda uji Marshall: silinder 101,6 mm, dipadatkan dengan penumbuk 75 kali tiap sisi, lalu ditekan pada suhu 60 °C.
Konsep inti volumetrik campuran
- VIM (rongga dalam campuran): udara yang tersisa. Terlalu kecil membuat aspal terdesak ke permukaan saat lalu lintas memadatkan campuran lebih lanjut; terlalu besar membuat air dan udara masuk sehingga campuran cepat menua.
- VMA (rongga di antara agregat): ruang yang tersedia untuk aspal dan udara. VMA yang cukup menjamin selimut aspal cukup tebal.
- VFA (rongga terisi aspal): bagian VMA yang terisi aspal.
- Stabilitas dan kelelehan: beban maksimum dan deformasi saat benda uji runtuh pada 60 °C, gambaran ketahanan terhadap alur.
| Sifat Laston lapis aus (AC-WC) | Syarat |
|---|---|
| Jumlah tumbukan per bidang | 75 |
| Rongga dalam campuran (VIM) | 3–5% |
| Rongga di antara agregat (VMA) | ≥ 15% |
| Rongga terisi aspal (VFA) | ≥ 65% |
| Stabilitas Marshall | ≥ 800 kg |
| Pelelehan | 2–4 mm |
| Stabilitas sisa setelah perendaman 24 jam, 60 °C | ≥ 90% |
| Rongga pada kepadatan membal (refusal) | ≥ 2% |
Ringkasan dari Spesifikasi Umum 2018 Tabel 6.3.3 untuk Laston AC-WC dengan aspal keras. Perkiraan awal kadar aspal: Pb = 0,035(%CA) + 0,045(%FA) + 0,18(%filler) + K, dengan K sekitar 0,5–1,0 untuk laston.
Bedah soal 1: volumetrik satu benda uji
Kadar aspal Pb = 5,5%, Gsb = 2,650, Gmm = 2,420, Gmb = 2,330.
- VIM = 100 × (2,420 − 2,330)/2,420 = 3,72%
- Ps = 100 − 5,5 = 94,5% → VMA = 100 − 2,330 × 94,5/2,650 = 16,91%
- VFA = 100 × (16,91 − 3,72)/16,91 = 78,0%
VIM 3,72% (3–5), VMA 16,91% (≥ 15), VFA 78,0% (≥ 65): semua sifat volumetrik memenuhi.
Bedah soal 2: kadar aspal optimum kasus berjalan
Hasil uji pada lima kadar aspal (nilai awal kalkulator): 4,5 ; 5,0 ; 5,5 ; 6,0 ; 6,5%. Perkiraan awal dari gradasi minggu 5: agregat kasar (tertahan 2,36 mm) 57%, agregat halus 36,4%, filler (lolos 0,075 mm) 6,6%, sehingga Pb = 0,035 × 57 + 0,045 × 36,4 + 0,18 × 6,6 + 0,75 = 5,57%.
- VIM 3–5% terpenuhi untuk Pb antara 4,96% dan 5,89% (interpolasi linear)
- VFA ≥ 65% terpenuhi mulai Pb ≈ 4,66%
- VMA ≥ 15%, stabilitas ≥ 800 kg terpenuhi di semua kadar
- Pelelehan 2–4 mm terpenuhi sampai Pb ≈ 6,07%
- Rentang yang memenuhi semua syarat 4,96–5,89% → KAO = (4,96 + 5,89)/2 = 5,42% ≈ 5,4%
Kadar aspal optimum 5,4%, dekat perkiraan awal 5,57%. Di kalkulator, diagram batang memperlihatkan rentang setiap syarat dan irisannya.
Bank soal latihan per NIM
Tugas 1 · Case method
Cek pemahaman
Soal 1Bila kadar aspal dinaikkan, VIM akan…
Aspal tambahan mengisi rongga di antara butir dan sekaligus melumasi pemadatan.
Minggu 7 · CPMK-1
Satu truk kelebihan muatan merusak seperti ribuan mobil
Kerusakan akibat satu lintasan sumbu naik sangat cepat terhadap beratnya, kira-kira pangkat empat. Karena itu beban lalu lintas dinyatakan dalam jumlah lintasan sumbu standar ekivalen (ESA), bukan jumlah kendaraan.
Truk dengan sumbu belakang 12 ton dimuati "sedikit lebih" menjadi 16 ton. Bertambah berapa kali kerusakan yang ditimbulkannya pada jalan?
Konsep inti hukum pangkat empat
Uji jalan AASHO (1958–1960) menunjukkan bahwa daya rusak sumbu berbanding kira-kira dengan pangkat empat bebannya. Setiap konfigurasi sumbu punya beban standar sendiri:
Bedah soal 1: daya rusak truk kelebihan muatan
Truk 2 sumbu: sumbu depan roda tunggal 5 t, sumbu belakang roda ganda 10 t. Bandingkan bila sumbu belakang dimuati menjadi 14 t.
- Muatan normal VDF = (5/5,40)⁴ + (10/8,16)⁴ = 0,735 + 2,255 = 2,99
- Kelebihan muatan VDF = 0,735 + (14/8,16)⁴ = 0,735 + 8,66 = 9,40
- Pembanding mobil penumpang 2 t (dua sumbu 1 t) VDF = 2 × (1/5,40)⁴ = 0,0024
Menambah 4 t pada sumbu belakang (40%) menaikkan daya rusak 3,1 kali. Satu truk bermuatan normal setara dengan sekitar 1.200 mobil penumpang.
Bedah soal 2: beban kumulatif ruas kolektor kasus berjalan
LHRT dua arah: bus besar 60 (sumbu 5 t + 9 t), truk 2 sumbu 150 (6 t + 12 t), truk 3 sumbu 30 (6 t + tandem 20 t). Kendaraan ringan diabaikan. DD = 0,5, DL = 1,0, i = 3,97% (MDP 2017, kolektor Sumatera), UR = 20 tahun.
- VDF bus: 0,735 + 1,480 = 2,215 ; truk 2 sumbu: 1,524 + 4,677 = 6,201 ; truk 3 sumbu: 1,524 + 4,463 = 5,987
- ESA harian dua arah 60 × 2,215 + 150 × 6,201 + 30 × 5,987 = 132,9 + 930,2 + 179,6 = 1.242,7
- Faktor pertumbuhan R = [(1,0397)²⁰ − 1]/0,0397 = 29,69
- CESA = 1.242,7 × 365 × 0,5 × 1,0 × 29,69 = 6,73 × 10⁶ ESA
Beban kumulatif lajur rencana selama 20 tahun sekitar 6,7 juta ESA, dan 75% di antaranya berasal dari truk 2 sumbu yang bermuatan lebih. Angka ini dipakai pada minggu 9–10.
Bank soal latihan per NIM
Muatan berlebih (ODOL). Truk pengangkut hasil kebun dan material sering membawa muatan jauh di atas batas. Karena pangkat empat, pengendalian muatan berlebih sering lebih efektif memperpanjang umur jalan daripada menambah tebal perkerasan.
Kuis 2 latihan sebelum kuis
Soal 1Sumbu tunggal roda ganda 16,32 t (dua kali beban standar) setara dengan berapa ESA?
(16,32/8,16)⁴ = 2⁴ = 16.
Minggu 8 · CPMK-1 dan CPMK-2
Ujian Tengah Semester
Ujian tertulis materi pertemuan 1–7. Dinilai dari ketepatan dan kelengkapan jawaban teori dan hitungan. Bobot 15%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | Porsi |
|---|---|---|---|
| 1 | Jenis perkerasan dan fungsi lapis | Uraian | 10% |
| 2 | CBR dan segmentasi tanah dasar | Hitungan | 20% |
| 3 | Agregat dan aspal | Uraian + hitungan singkat | 15% |
| 4 | Gradasi gabungan dan volumetrik Marshall | Hitungan | 30% |
| 5 | VDF dan CESA | Hitungan | 25% |
Contoh soal dan pembahasan
Soal: Benda uji dengan Pb = 6,0%, Gsb = 2,640, Gmm = 2,405, Gmb = 2,345. Hitung VIM, VMA, dan VFA, lalu nilai apakah memenuhi syarat AC-WC.
- VIM = 100 × (2,405 − 2,345)/2,405 = 2,49%
- VMA = 100 − 2,345 × 94,0/2,640 = 16,50%
- VFA = 100 × (16,50 − 2,49)/16,50 = 84,9%
VMA dan VFA memenuhi, tetapi VIM 2,49% < 3%: kadar aspal terlalu tinggi. Campuran berisiko kegemukan dan alur; kadar aspal perlu diturunkan.
Soal: Truk 3 sumbu dengan sumbu depan 7 t (roda tunggal) dan tandem belakang 24 t. Hitung VDF-nya.
- (7/5,40)⁴ + (24/13,76)⁴ = 2,82 + 9,25 = 12,08
VDF = 12,1. Bandingkan dengan truk 3 sumbu bermuatan wajar (6 t + 20 t) yang VDF-nya 6,0: hampir dua kali lipat.
Latihan UTS bank soal per NIM
Minggu 9 · CPMK-2
Alur desain perkerasan menurut MDP 2017
MDP 2017 menyusun desain perkerasan sebagai urutan keputusan: umur rencana, beban, tanah dasar, jenis struktur, lalu tebal lapis dari bagan desain. Setiap langkah punya pemeriksaan sendiri.
Dua ruas jalan memiliki lalu lintas yang sama. Ruas pertama di atas tanah lempung lunak, ruas kedua di atas tanah berpasir padat. Apakah tebal perkerasannya boleh sama?
Alur desain
Dua pangkat beban. MDP 2017 membedakan beban untuk kerusakan lelah lapis beraspal (dihitung dengan pangkat yang lebih tinggi, CESA5) dan beban untuk kerusakan lapis berbutir dan tanah dasar (CESA4). Dalam latihan ini dipakai CESA dengan pangkat empat seperti minggu 7, dan prosedur pemangkatannya dibahas langsung dari dokumen MDP 2017.
Bagan desain adalah katalog. Bagan desain MDP 2017 disusun dari analisis mekanistik dan pengalaman kinerja jalan di Indonesia. Pada minggu 10 kita memakai metode AASHTO 1993 (diadopsi Bina Marga dalam Pt T-01-2002-B) untuk memahami bagaimana tebal lapis lahir dari beban dan tanah dasar, lalu membandingkannya dengan bagan desain.
Bedah soal: menyusun data desain kasus berjalan
Kumpulkan data ruas kolektor dari minggu 2 dan 7 ke dalam lembar data desain.
- Umur rencana UR = 20 tahun (perkerasan lentur)
- Beban CESA (pangkat 4) = 6,73 × 10⁶ ESA lajur rencana
- Tanah dasar satu segmen, CBR karakteristik 4,65% ; MR ≈ 46,5 MPa
- Drainase muka air tanah tinggi di musim hujan → saluran samping dan lapis pondasi yang dapat mengalirkan air
Data lengkap. Dengan beban 6,7 juta ESA dan CBR di bawah 5%, perencana perlu memeriksa syarat perbaikan tanah dasar dan memilih struktur dengan lapis beraspal yang cukup tebal.
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa umur rencana perkerasan kaku lebih panjang dari perkerasan lentur?
Beton tidak menua oleh oksidasi seperti aspal, dan biaya awal yang besar lebih ekonomis bila dibagi dalam umur yang panjang.
Minggu 10 · CPMK-2
Dari beban dan tanah dasar menjadi tebal lapis
Metode AASHTO 1993 merangkum hasil uji jalan menjadi satu persamaan: makin besar beban dan makin lemah tanah dasar, makin besar angka struktural SN yang diperlukan. SN lalu dibagi ke setiap lapis sesuai kekuatan bahannya.
Mengapa 1 cm lapis aspal dihargai jauh lebih "kuat" daripada 1 cm lapis pondasi agregat?
Konsep inti angka struktural
Koefisien lapis a menyatakan "kekuatan per inci" suatu bahan. Nilai umum: laston sekitar 0,40; lapis pondasi agregat kelas A sekitar 0,14; lapis pondasi bawah kelas B sekitar 0,11–0,12. Desain dilakukan dari atas: tebal lapis aspal harus cukup melindungi lapis pondasi (SN₁ dihitung dengan MR lapis pondasi), lalu lapis pondasi melindungi pondasi bawah, dan seluruhnya melindungi tanah dasar.
Bedah soal: tebal perkerasan ruas kolektor kasus berjalan
W₁₈ = 6,73 × 10⁶ ESA, R = 90% (ZR = −1,282), S₀ = 0,45, ΔPSI = 4,2 − 2,5 = 1,7, CBR tanah dasar 4,65% (MR = 6.975 psi). MR lapis pondasi 30.000 psi, pondasi bawah 15.000 psi. a₁ = 0,40, a₂ = 0,14, a₃ = 0,11, m = 1,0.
- SN perlu di atas setiap lapis (selesaikan persamaan AASHTO, lihat kalkulator) SN₁ = 2,80 ; SN₂ = 3,65 ; SN₃ = 4,80
- Lapis beraspal D₁ ≥ SN₁/a₁ = 2,80/0,40 = 7,0 in = 17,8 cm → pakai 18 cm (AC-WC 4 + AC-BC 6 + AC-Base 8)
- SN yang diberikan lapis aspal SN₁* = 0,40 × 18/2,54 = 2,83
- Lapis pondasi agregat D₂ ≥ (3,65 − 2,83)/(0,14 × 1,0) = 5,8 in = 14,7 cm → pakai 15 cm (tebal minimum praktis)
- SN₂* = 2,83 + 0,14 × 15/2,54 = 3,66
- Lapis pondasi bawah D₃ ≥ (4,80 − 3,66)/(0,11 × 1,0) = 10,3 in = 26,3 cm → pakai 27 cm
Struktur: lapis beraspal 18 cm + LPA kelas A 15 cm + LPA kelas B 27 cm di atas tanah dasar CBR 4,65%. Bandingkan dengan struktur dari bagan desain MDP 2017 untuk rentang beban dan tanah dasar yang sama, lalu jelaskan perbedaannya dalam laporan.
Bank soal latihan per NIM
Tugas 2 · Case method
Cek pemahaman
Soal 1Bila CBR tanah dasar naik dari 4,65% menjadi 8%, apa yang terjadi pada SN perlu?
Tanah dasar yang lebih kaku memerlukan perlindungan lebih sedikit. Coba di kalkulator.
Minggu 11 · CPMK-2
Pelat beton yang melentur di atas tanah
Perkerasan kaku bekerja seperti pelat di atas pegas. Pelat menyebar beban ke area yang luas, dan tegangan lentur di dalam pelat yang menentukan tebalnya. Sambungan mengatur di mana beton boleh retak.
Mengapa jalan beton sengaja digergaji membentuk kotak-kotak setiap 4–5 meter, padahal itu justru membuat celah?
Pelat beton dengan sambungan melintang berruji (dowel) dan sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bar).
Konsep inti pelat di atas pondasi Winkler
Westergaard memodelkan tanah dasar sebagai pegas dengan modulus reaksi k. Kekakuan relatif pelat terhadap tanah dinyatakan dengan jari-jari kekakuan relatif ℓ: makin tebal pelat dan makin lunak tanah, makin besar ℓ dan makin luas daerah yang ikut memikul beban.
- Sambungan susut melintang digergaji sedalam sekitar seperempat tebal pelat agar retak susut terjadi di tempat yang direncanakan. Jarak umumnya 4–5 m untuk pelat tanpa tulangan.
- Ruji (dowel): batang polos yang dilumasi di satu sisi, memindahkan beban roda melintasi sambungan melintang tanpa menahan pelat memuai dan menyusut. Ukuran umum: panjang 450 mm, jarak 300 mm, diameter mengikuti tebal pelat.
- Batang pengikat (tie bar): baja ulir di sambungan memanjang yang menahan dua lajur agar tidak saling menjauh.
Bedah soal 1: tebal pelat dengan AASHTO 1993 kasus berjalan
Segmen 500 m dekat pasar: W₁₈ = 20 × 10⁶ ESA (umur 40 tahun), R = 90%, S₀ = 0,35, ΔPSI = 4,5 − 2,5 = 2,0, kuat lentur beton Sc = 650 psi (4,5 MPa), Ec = 3,6 × 10⁶ psi, k = 150 pci, J = 3,2 (berruji, bahu aspal), Cd = 1,0.
- Selesaikan persamaan AASHTO 1993 perkerasan kaku dengan coba-coba (kalkulator) D = 11,1 in = 28,3 cm
- Bila k naik menjadi 250 pci (lapis pondasi lebih baik) D = 10,9 in = 27,6 cm
Pakai pelat 29 cm. Menaikkan k hampir dua kali hanya mengurangi tebal sekitar 7 mm: tebal pelat jauh lebih ditentukan oleh kuat lentur beton dan beban daripada oleh tanah dasar.
Bedah soal 2: batang pengikat dan ruji
Pelat 25 cm, lebar lajur 3,5 m (jarak sambungan memanjang ke tepi bebas 3,5 m), tie bar D16.
- At = 204 × 3,5 × 0,25 = 178,5 mm²/m → jarak D16 = 201 × 1.000/178,5 = 1.126 mm
- Jarak dibatasi praktis 750 mm pakai D16-750
- Panjang ℓt = 38,3 × 16 + 75 = 688 mm → 700 mm
- Ruji di sambungan melintang batang polos, panjang 450 mm, jarak 300 mm, diameter sesuai tabel Pd T-14-2003 untuk tebal 25 cm
Tie bar D16-750 panjang 700 mm di sambungan memanjang, ruji polos panjang 450 mm jarak 300 mm di sambungan melintang.
Simulasi tegangan Westergaard
Ubah tebal pelat dan modulus reaksi tanah dasar. Perhatikan bahwa tebal pelat jauh lebih berpengaruh terhadap tegangan daripada nilai k.
Contoh: E = 27.800 MPa, μ = 0,15, h = 250 mm, k = 0,06 N/mm³, roda 40 kN dengan jari-jari kontak 150 mm, beban di tengah pelat.
- ℓ = [27.800 × 250³ / (12 × (1 − 0,15²) × 0,06)]¼ = 886 mm
- a = 150 < 1,724h, jadi b = √(1,6a² + h²) − 0,675h = √(36.000 + 62.500) − 168,75 = 145 mm
- σ = 0,316 × 40.000/250² × [4 log(886/145) + 1,069] = 0,202 × 4,213 = 0,85 MPa
Tegangan 0,85 MPa jauh di bawah kuat lentur 4,5 MPa untuk satu lintasan. Tebal pelat ditentukan oleh jutaan lintasan berulang (kelelahan), bukan oleh satu beban.
Bank soal latihan per NIM
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa ruji dilumasi di satu sisinya?
Ruji memindahkan gaya geser tetapi tidak boleh mengunci gerak memanjang pelat.
Minggu 12 · CPMK-2
Mengukur sisa kekuatan jalan lama
Jalan yang sudah dipakai bertahun-tahun diperiksa dengan mengukur lendutan permukaan di bawah beban truk. Lendutan besar menandakan struktur sudah lemah, dan tebal lapis tambah dihitung untuk menurunkannya ke batas yang aman.
Dua jalan terlihat sama mulus dari atas. Bagaimana mengetahui mana yang strukturnya hampir habis?
Konsep inti lendutan sebagai indikator
Alat Benkelman Beam atau FWD mengukur seberapa jauh permukaan turun di bawah beban sumbu standar. Lendutan dikoreksi terhadap suhu, musim, dan beban, lalu dihitung lendutan wakil setiap segmen: rata-rata ditambah faktor kali simpangan baku (1,645 untuk arteri dan tol, 1,282 untuk kolektor, 1,036 untuk lokal).
Pd T-05-2005-B memberi hubungan antara beban kumulatif rencana dan lendutan yang diizinkan setelah lapis tambah, serta tebal lapis tambah yang diperlukan untuk mencapainya.
Bedah soal: lapis tambah segmen jalan lama kasus berjalan
Segmen 1 km: lendutan wakil terkoreksi Dsbl = 1,8 mm. Beban kumulatif rencana selama umur lapis tambah CESA = 3 × 10⁶ ESA. Suhu perkerasan tahunan rata-rata 35 °C.
- Lendutan izin setelah lapis tambah Dstl = 22,208 × (3 × 10⁶)−0,2307 = 0,71 mm
- Dsbl > Dstl, jadi perlu lapis tambah Ho = [0,0358 + ln 1,8 − ln 0,71]/0,0597 = [0,0358 + 0,5878 + 0,3403]/0,0597 = 16,1 cm
- Koreksi suhu (modulus laston standar) Fo = 0,5032 × e0,0194 × 35 = 0,99 → Ht = 16,1 × 0,99 = 16,0 cm
Lapis tambah laston sekitar 16 cm, misalnya AC-WC 4 cm + AC-BC 6 cm + AC-BC 6 cm. Tebal sebesar ini menandakan struktur lama sudah sangat lemah; perencana juga perlu membandingkan dengan pilihan rekonstruksi atau daur ulang.
Bank soal latihan per NIM
Kuis 3 latihan sebelum kuis
Soal 1Bila lendutan wakil lebih kecil dari lendutan rencana, maka…
Ho menjadi nol atau negatif. Jalan masih kuat; perbaikan permukaan dilakukan sesuai kondisi.
Minggu 13 · CPMK-1
Membaca kerusakan seperti membaca gejala penyakit
Setiap jenis kerusakan menunjuk ke penyebab yang berbeda: lelah, beban berlebih, air, campuran yang salah, atau pelaksanaan yang buruk. Penanganan yang benar dimulai dari diagnosis yang benar.
Retak berbentuk kulit buaya muncul hanya di jalur roda kiri. Apa yang kemungkinan terjadi di bawah permukaan?
Permukaan jalan dengan alur di jalur roda, retak, dan lubang.
Jenis kerusakan perkerasan lentur
| Kerusakan | Ciri | Penyebab utama |
|---|---|---|
| Retak kulit buaya | Retak saling berhubungan membentuk pola kotak kecil di jalur roda | Lelah akibat beban berulang; struktur terlalu tipis atau tanah dasar lemah dan basah |
| Retak memanjang dan melintang | Retak lurus searah atau tegak lurus sumbu jalan | Susut termal, sambungan pelaksanaan yang buruk, penurunan timbunan |
| Alur (rutting) | Cekungan memanjang di jalur roda | Campuran kurang stabil, aspal berlebih, atau deformasi lapis bawah |
| Lubang (pothole) | Rongga berbentuk mangkuk | Retak yang dibiarkan, air masuk, butir lepas |
| Kegemukan (bleeding) | Permukaan mengilap dan lengket | Kadar aspal berlebih, VIM terlalu kecil |
| Pelepasan butir (raveling) | Agregat lepas dari permukaan | Aspal kurang, pemadatan kurang, penuaan, stripping |
| Sungkur dan keriting | Gelombang melintang, tonjolan di tempat pengereman | Campuran tidak stabil, lapis perekat kurang |
| Amblas | Penurunan setempat | Pemadatan tanah dasar atau timbunan kurang |
Bedah soal: diagnosis kerusakan
Di jalan dekat pelabuhan: alur sedalam 25 mm di jalur roda, permukaan mengilap, tanpa retak. Inti bor menunjukkan VIM 1,5% pada lapis aus.
- Alur tanpa retak dan permukaan mengilap mengarah ke deformasi plastis lapis beraspal, bukan kegagalan tanah dasar.
- VIM 1,5% di bawah batas 3% (dan di bawah 2% kepadatan membal): kadar aspal terlalu tinggi atau gradasi terlalu halus.
- Beban truk lambat dan berhenti di dekat pelabuhan memperbesar waktu pembebanan.
Penyebab: campuran lapis aus tidak stabil (aspal berlebih). Penanganan: kupas lapis aus yang beralur (milling), ganti dengan campuran dengan VIM benar, sebaiknya dengan aspal modifikasi. Menambal di atas alur hanya memindahkan masalah.
Cek pemahaman
Soal 1Retak kulit buaya di jalur roda paling sering menandakan…
Retak lelah berawal di bawah lapis beraspal tempat regangan tarik terbesar, lalu merambat ke permukaan membentuk pola kulit buaya.
Minggu 14 · CPMK-1
Dari survei kondisi ke jenis penanganan
Bina Marga menilai kondisi jalan dengan kerataan (IRI) dan indeks kerusakan permukaan (SDI). Kondisi itu lalu menentukan apakah jalan cukup dipelihara rutin, perlu pemeliharaan berkala, atau harus direhabilitasi.
Dengan anggaran terbatas, mana yang lebih dulu diperbaiki: jalan yang rusak berat atau jalan yang mulai rusak ringan?
Konsep inti IRI dan SDI
IRI (International Roughness Index, m/km) mengukur ketidakrataan memanjang yang dirasakan pengendara. SDI (Surface Distress Index) dihitung dari survei visual setiap 100 m: luas dan lebar retak, jumlah lubang, dan kedalaman alur.
Kerusakan permukaan yang ditangani lebih awal jauh lebih murah. Membiarkan jalan dari kondisi sedang menjadi rusak berat biasanya melipatgandakan biaya penanganan.
| Langkah SDI | Ketentuan |
|---|---|
| SDI₁ dari luas retak | tidak ada: 0 ; < 10%: 5 ; 10–30%: 20 ; > 30%: 40 |
| SDI₂ dari lebar retak | lebar > 3 mm: SDI₁ × 2 ; selain itu SDI₂ = SDI₁ |
| SDI₃ dari jumlah lubang per km | 0: SDI₂ ; < 10: SDI₂ + 15 ; 10–50: SDI₂ + 75 ; > 50: SDI₂ + 225 |
| SDI₄ dari kedalaman alur | tidak ada: SDI₃ ; < 1 cm: SDI₃ + 5 × 0,5 ; 1–3 cm: SDI₃ + 5 × 2 ; > 3 cm: SDI₃ + 5 × 4 |
| Kondisi | IRI (m/km) | SDI | Penanganan umum |
|---|---|---|---|
| Baik | < 4 | < 50 | Pemeliharaan rutin |
| Sedang | 4–8 | 50–100 | Pemeliharaan rutin |
| Rusak ringan | 8–12 | 100–150 | Pemeliharaan berkala (misalnya lapis ulang tipis) |
| Rusak berat | > 12 | > 150 | Rehabilitasi atau rekonstruksi |
Ringkasan dari Panduan Survei Kondisi Jalan Bina Marga (SMD-03/RCS) untuk jalan beraspal. Dalam latihan ini, bila IRI dan SDI memberi kondisi berbeda, kondisi yang lebih buruk dipakai sebagai dasar penanganan.
Bedah soal: satu segmen 100 m kasus berjalan
Hasil survei: luas retak 15% dengan lebar retak dominan 4 mm, setara 12 lubang per km, alur 1,5 cm. IRI segmen 7,5 m/km.
- SDI₁ = 20 (luas retak 10–30%)
- SDI₂ = 20 × 2 = 40 (lebar > 3 mm)
- SDI₃ = 40 + 75 = 115 (10–50 lubang per km)
- SDI₄ = 115 + 5 × 2 = 125 (alur 1–3 cm)
- Kondisi SDI 125 → rusak ringan ; IRI 7,5 → sedang ; dipakai yang lebih buruk: rusak ringan
Segmen ini memerlukan pemeliharaan berkala: tambal lubang dan retak lebar lebih dulu, lalu lapis ulang tipis. Kerataan masih sedang, tetapi kerusakan permukaan akan cepat memburuk bila air terus masuk lewat retak lebar.
Bank soal latihan per NIM
Tugas 3 · Case method
Cek pemahaman
Soal 1Mengapa jalan kondisi sedang sering diprioritaskan sebelum jalan rusak berat?
Kerusakan perkerasan berkembang makin cepat setelah air masuk. Rupiah yang dipakai lebih awal menyelamatkan panjang jalan yang lebih besar.
Minggu 15 · CPMK-2
Satu ruas jalan, dari tanah sampai pemeliharaan
Pertemuan ini merangkai langkah perancangan perkerasan dalam satu alur dan menerapkannya pada kasus berjalan.
Ringkasan kasus berjalan
| Langkah | Hasil | Minggu |
|---|---|---|
| Tanah dasar | CBR karakteristik 4,65% (f = 1,282), MR ≈ 46,5 MPa | 2 |
| Agregat | Abrasi LA 29%; gradasi gabungan 20% CA, 25% MA, 55% FA | 3, 5 |
| Aspal | Pen 60/70, PI −0,57 | 4 |
| Campuran AC-WC | KAO 5,4% | 6 |
| Beban | CESA 6,73 juta ESA (20 tahun) | 7 |
| Tebal lentur (AASHTO 1993) | Aspal 18 cm + LPA A 15 cm + LPA B 27 cm | 10 |
| Segmen kaku | Pelat 29 cm, tie bar D16-750, ruji 450 mm jarak 300 mm | 11 |
| Jalan lama | Lapis tambah 16 cm; segmen survei rusak ringan → pemeliharaan berkala | 12, 14 |
Soal terpadu untuk diskusi
- Kelompok 1: bila muatan truk 2 sumbu ditertibkan (sumbu belakang 12 t menjadi 10 t), berapa CESA baru dan berapa sentimeter lapis pondasi bawah yang bisa dihemat?
- Kelompok 2: bila tanah dasar distabilisasi sehingga CBR menjadi 8%, susun ulang struktur perkerasan dengan kalkulator minggu 10.
- Kelompok 3: pada campuran AC-WC, apa akibatnya bila kontraktor memakai kadar aspal 6,2%? Gunakan data minggu 6.
- Kelompok 4: segmen pasar memakai beton dengan kuat lentur 4,0 MPa. Berapa tebal pelat baru?
Pembahasan soal terpadu
Kelompok 1. VDF truk 2 sumbu menjadi (6/5,40)⁴ + (10/8,16)⁴ = 1,524 + 2,255 = 3,779. ESA harian: 132,9 + 150 × 3,779 + 179,6 = 879,4. CESA = 879,4 × 365 × 0,5 × 29,69 = 4,76 juta ESA (turun 29%). Dengan kalkulator minggu 10, SN₃ turun dari 4,80 menjadi 4,56, sehingga lapis pondasi bawah perlu 20,8 cm (pakai 21 cm), hemat 6 cm.
Kelompok 2. MR = 1.500 × 8 = 12.000 psi. SN₃ turun menjadi 3,96; dengan lapis beraspal 18 cm dan LPA A 15 cm (SN₂* = 3,66), lapis pondasi bawah cukup 7 cm, praktisnya dipakai tebal minimum 15 cm (hemat 12 cm dibanding desain awal).
Kelompok 3. Dari data minggu 6, VIM pada 6,2% sekitar 2,5% (interpolasi antara 2,8% dan 2,1%), di bawah 3%, dan kelelehan sekitar 4,2 mm di atas 4 mm. Campuran berisiko kegemukan dan alur.
Kelompok 4. Dengan Sc = 4,0 MPa = 580 psi, kalkulator minggu 11 memberi D = 11,8 in = 30,0 cm: kuat lentur beton yang lebih rendah langsung menambah tebal pelat.
Bank soal semua topik
Cek pemahaman akhir
Soal 1Dari semua data desain, mana yang biasanya paling besar pengaruhnya terhadap tebal perkerasan lentur?
Daya rusak naik dengan pangkat empat beban sumbu, dan tanah dasar menentukan seberapa banyak perlindungan yang diperlukan.
Minggu 16 · CPMK-1 dan CPMK-2
Ujian Akhir Semester
Ujian tertulis seluruh materi Perkerasan Bahan. Dinilai dari ketepatan analisis, kelengkapan jawaban, dan integrasi seluruh konsep. Bobot 20%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | Porsi |
|---|---|---|---|
| 1 | Prosedur MDP 2017 dan pemilihan struktur | Uraian | 15% |
| 2 | Tebal perkerasan lentur | Hitungan | 25% |
| 3 | Perkerasan kaku: tebal, sambungan, tie bar | Hitungan + gambar | 20% |
| 4 | Lapis tambah dari lendutan | Hitungan | 20% |
| 5 | Kerusakan, SDI, dan penanganan | Uraian + hitungan | 20% |
Contoh soal dan pembahasan
Soal: Lendutan wakil jalan kolektor 1,2 mm, CESA rencana 2 × 10⁶ ESA. Apakah perlu lapis tambah? Bila perlu, berapa tebalnya (abaikan koreksi suhu)?
- Dstl = 22,208 × (2 × 10⁶)−0,2307 = 0,78 mm
- 1,2 > 0,78 → perlu lapis tambah
- Ho = [0,0358 + ln 1,2 − ln 0,78]/0,0597 = [0,0358 + 0,1823 + 0,2485]/0,0597 = 7,8 cm
Perlu lapis tambah sekitar 8 cm laston, misalnya AC-WC 4 cm + AC-BC 4 cm (tebal minimum lapis mengikuti spesifikasi).
Soal: Segmen 100 m: retak 8% lebar 2 mm, tanpa lubang, alur 0,5 cm, IRI 5,2. Tentukan kondisi dan penanganannya.
- SDI₁ = 5 ; SDI₂ = 5 ; SDI₃ = 5 ; SDI₄ = 5 + 2,5 = 7,5
- SDI 7,5 → baik ; IRI 5,2 → sedang ; dipakai sedang
Kondisi sedang: pemeliharaan rutin, termasuk menutup retak agar air tidak masuk.