RPS FT12437 · Ganjil 2026/2027
Rekayasa Lalu Lintas
Jalan yang sama bisa lancar pukul 10 pagi dan macet pukul 7. Rekayasa lalu lintas mengukur arus, menghitung kapasitas dan kinerja ruas serta simpang, lalu memilih penanganan yang paling aman dan efisien.
Kawasan pusat kota fiktif di Meulaboh: ruas empat lajur terbagi, simpang empat, dan kawasan sekolah. Seret untuk memutar, cubit atau gulir untuk memperbesar.
Cara belajar di kelas ini
Kasus berjalan: pusat kota Meulaboh (fiktif)
| Lokasi | Data | Minggu |
|---|---|---|
| Ruas kota "Jalan Utama" | 4 lajur 2 arah terbagi (4/2T), lajur 3,5 m, hambatan samping sedang, penduduk kota ±200 ribu | 2–7 |
| Survei jam puncak | Satu arah, 07.00–08.00: 942 kendaraan ringan, 68 kendaraan berat, 2.360 sepeda motor | 3–5 |
| Ruas luar kota | Meulaboh–Calang, 2/2TT lebar 7 m, medan datar, pemisah arah 55–45 | 6 |
| Simpang empat pusat kota | Tak bersinyal, arus total 2.400 skr/jam; alternatif sinyal, bundaran, atau pelebaran | 9–11, 14 |
| Kawasan sekolah | Penyeberang dan parkir antar-jemput di depan sekolah | 15 |
Capaian pembelajaran
| Kode | Rumusan |
|---|---|
| CPL-2 | Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif serta memanfaatkan teknologi informasi dan perangkat digital dalam pengembangan dan penerapan ilmu teknik sipil. |
| CPL-3 | Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dengan mengkaji implikasi ekonomi, sosial, lingkungan, keselamatan, dan keberlanjutan dari suatu solusi rekayasa. |
| CPL-5 | Mampu mengidentifikasi, merumuskan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah rekayasa kompleks di bidang struktur, geoteknik, transportasi, sumber daya air, dan manajemen konstruksi. |
| CPMK-1 | Mahasiswa mampu menganalisis karakteristik arus serta kapasitas dan kinerja ruas jalan dan simpang. |
| CPMK-2 | Mahasiswa mampu menentukan penanganan lalu lintas dengan mempertimbangkan keselamatan, biaya, dan dampak lingkungan. |
| CPMK-3 | Mahasiswa mampu mengolah data survei lalu lintas secara sistematis dengan lembar kerja. |
Rencana pembelajaran 16 minggu
| Mg | Materi | CPMK | Penilaian | Bobot |
|---|
Rencana evaluasi
| Unsur nilai | Metode | CPMK-1 | CPMK-2 | CPMK-3 | Total |
|---|---|---|---|---|---|
| Kuis | Kognitif – kuis | 4 | 6 | 5 | 15 |
| UTS | Kognitif – ujian tengah semester | 11 | 0 | 4 | 15 |
| UAS | Kognitif – ujian akhir semester | 10 | 6 | 4 | 20 |
| Partisipasi | Aktivitas partisipatif | 15 | 4 | 0 | 19 |
| Case method | Kognitif – tugas | 10 | 14 | 7 | 31 |
| Jumlah | 50 | 30 | 20 | 100 |
Pustaka
- Direktorat Jenderal Bina Marga. (2023). Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia. Kementerian PUPR.
- Direktorat Jenderal Bina Marga. (1997). Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Departemen Pekerjaan Umum.
- Roess, R. P., Prassas, E. S., & McShane, W. R. (2011). Traffic Engineering (4th ed.). Pearson.
- Pendukung: Khisty, C. J., & Lall, B. K. (2005). Dasar-dasar Rekayasa Transportasi, Jilid 1. Erlangga.
Satuan: kendaraan/jam, skr/jam, km/jam, detik. Desimal memakai koma. Media: Microsoft Excel, laptop, layar, proyektor.
Minggu 1 · CPMK-1
Pengemudi, kendaraan, dan jalan
Lalu lintas adalah interaksi tiga komponen. Pengemudi butuh waktu untuk melihat dan bereaksi, kendaraan butuh jarak untuk berhenti, dan jalan harus memberi ruang serta jarak pandang yang cukup untuk keduanya.
Kecepatan naik dari 40 ke 60 km/jam, jarak henti naik 50%? Atau lebih?
Jarak henti: jarak selama waktu reaksi ditambah jarak pengereman.
Konsep inti jarak henti
Bedah soal: jarak henti di depan sekolah kasus berjalan
Kendaraan melaju 60 km/jam di Jalan Utama yang datar dan basah (f = 0,35, tr = 2,5 detik). Bandingkan bila kecepatan diturunkan menjadi 30 km/jam di zona sekolah.
- 60 km/jam = 16,67 m/s → jarak reaksi 41,7 m ; pengereman 16,67²/(2 × 9,81 × 0,35) = 40,5 m → d = 82,1 m
- 30 km/jam = 8,33 m/s → 20,8 + 10,1 = 30,9 m
Menurunkan kecepatan setengahnya memotong jarak henti menjadi 38%. Inilah dasar batas kecepatan rendah di kawasan sekolah (minggu 15).
Cek pemahaman
Soal 1Jarak pengereman sebanding dengan…
v²/(2gf): kecepatan dua kali lipat, jarak pengereman empat kali.
Minggu 2 · CPMK-1
Makin padat, makin lambat
Arus (q), kecepatan (v), dan kepadatan (k) terhubung oleh q = k·v. Model Greenshields menganggap kecepatan turun linear dengan kepadatan, sehingga arus mencapai maksimum (kapasitas) pada setengah kepadatan macet.
Mengapa arus kendaraan yang lewat bisa sama pada dua keadaan yang sangat berbeda: lancar dan hampir macet?
Konsep inti q = k·v
Bedah soal: kapasitas dari data kecepatan dan kepadatan kasus berjalan
Hasil survei satu arah Jalan Utama (dalam skr): kepadatan 20, 35, 50, 65, 80, 95 skr/km dengan kecepatan rata-rata ruang 52, 46, 41, 35, 29, 24 km/jam.
- Regresi linear v = 59,41 − 0,3752k ; r = −0,9996
- vf = 59,4 km/jam ; kj = 59,41/0,3752 = 158,3 skr/km
- qmaks = 59,41 × 158,3/4 = 2.352 skr/jam pada km = 79,2 skr/km dan vm = 29,7 km/jam
Kapasitas empiris satu arah sekitar 2.350 skr/jam, dalam orde yang sama dengan kapasitas PKJI minggu 5 (2.822 skr/jam). Perbedaan muncul karena data survei tidak mencakup kondisi mendekati macet.
Cek pemahaman
Soal 1Menurut Greenshields, arus maksimum terjadi pada kecepatan…
vm = vf/2 dan km = kj/2.
Minggu 3 · CPMK-3
Satu truk tidak sama dengan satu sepeda motor
Hasil pencacahan dalam kendaraan per jam diubah menjadi satuan kendaraan ringan (skr) dengan nilai ekivalensi, karena setiap jenis kendaraan memakai ruang jalan berbeda. Jam puncak dan faktor jam puncak menunjukkan seberapa tajam lonjakan arus dalam satu jam.
Di Meulaboh lebih dari separuh kendaraan adalah sepeda motor. Bagaimana pengaruhnya pada perhitungan kapasitas?
Konsep inti Qskr = Σ ekr × Qkend
Bedah soal: survei jam puncak pagi kasus berjalan
Pencacahan satu arah Jalan Utama per 15 menit (KR, KB, SM): 07.00 (210, 18, 520); 07.15 (240, 20, 610); 07.30 (262, 14, 640); 07.45 (230, 16, 590).
- Jumlah satu jam KR 942 ; KB 68 ; SM 2.360 → total 3.370 kendaraan/jam ≥ 1.050 → ekr KB 1,2 ; SM 0,25
- Q = 942 + 1,2 × 68 + 0,25 × 2.360 = 942 + 81,6 + 590 = 1.613,6 skr/jam
- Per 15 menit dalam skr 361,6 ; 416,5 ; 438,8 ; 396,7 → maksimum 438,8
- PHF = 1.613,6/(4 × 438,8) = 0,92
Sepeda motor 70% dari jumlah kendaraan tetapi hanya 37% arus dalam skr. Arus rencana satu arah 1.614 skr/jam dipakai di minggu 5.
Tugas 1 · Case method
Bank soal soal per NIM
Cek pemahaman
Soal 1PHF = 0,80 berarti…
Arus 15 menit tersibuk setara 1/0,80 = 1,25 kali rata-rata jam itu.
Minggu 4 · CPMK-3
Kecepatan rata-rata ada dua macam
Kecepatan rata-rata waktu dihitung dari kendaraan yang melewati satu titik; kecepatan rata-rata ruang dihitung dari waktu tempuh sepanjang ruas. Yang kedua selalu lebih kecil dan dipakai dalam hubungan q = k·v. Metode kendaraan bergerak memperoleh arus dan kecepatan sekaligus.
Mengapa batas kecepatan sering ditetapkan dekat persentil ke-85 kecepatan kendaraan?
Konsep inti v̄t, v̄s, P85, metode kendaraan bergerak
Bedah soal: kecepatan setempat dan kendaraan bergerak kasus berjalan
20 kecepatan setempat (km/jam) di Jalan Utama: 42, 45, 38, 50, 47, 52, 40, 44, 48, 55, 36, 46, 43, 49, 41, 51, 39, 47, 45, 53. Survei kendaraan bergerak sepanjang 2 km: x = 62, y = 18, ta = 2,8 menit, tw = 3,2 menit.
- v̄t = 911/20 = 45,6 km/jam ; v̄s = 20/Σ(1/v) = 45,0 km/jam
- P85 = 51,2 km/jam ; P15 = 39,9 km/jam ; simpangan baku 5,2 km/jam
- Kendaraan bergerak q = (62 + 18)/(2,8 + 3,2) = 13,33 kendaraan/menit = 800 kendaraan/jam
- t̄ = 3,2 − 18/13,33 = 1,85 menit → v̄s = 2/(1,85/60) = 64,9 km/jam
Kecepatan rata-rata ruang selalu sedikit di bawah rata-rata waktu. P85 sekitar 50 km/jam cocok dengan batas kecepatan jalan perkotaan.
Bank soal soal per NIM
Kuis 1 latihan sebelum kuis
Soal 1Untuk hubungan q = k·v, kecepatan yang benar adalah…
Kepadatan adalah besaran ruang, sehingga kecepatannya juga rata-rata ruang.
Minggu 5 · CPMK-1
Kapasitas dasar dikoreksi kondisi setempat
Kapasitas ruas jalan perkotaan dihitung dari kapasitas dasar per lajur yang dikoreksi lebar lajur, pemisah arah, hambatan samping (pejalan, parkir, kendaraan keluar-masuk), dan ukuran kota. Derajat kejenuhan membandingkan arus dengan kapasitas.
Pedagang kaki lima dan angkot berhenti sembarangan di tepi jalan. Berapa kapasitas yang hilang?
Konsep inti C = C₀·FCLJ·FCPA·FCHS·FCUK
Bedah soal: kapasitas Jalan Utama kasus berjalan
4/2T, dua lajur per arah selebar 3,5 m, hambatan samping sedang, kota 0,2 juta jiwa. Arus jam puncak satu arah 1.613,6 skr/jam (minggu 3).
- C₀ = 2 × 1.650 = 3.300 skr/jam ; FCLJ = 1,00 ; FCPA = 1,00 (terbagi) ; FCHS = 0,95 ; FCUK = 0,90
- C = 3.300 × 1,00 × 1,00 × 0,95 × 0,90 = 2.821,5 skr/jam
- DJ = 1.613,6/2.821,5 = 0,572 → tingkat pelayanan C
- VB = 57 × 0,95 × 0,93 = 50,4 km/jam ; V = 50,4 × [0,5 + 0,5√(1 − 0,572)] = 41,7 km/jam
Ruas masih stabil (DJ 0,57). Hambatan samping sangat tinggi (FCHS 0,88) akan menurunkan kapasitas 7% dan menaikkan DJ menjadi 0,62.
Bank soal soal per NIM
Cek pemahaman
Soal 1Faktor pemisah arah tidak dipakai pada jalan 4/2T karena…
Pada jalan tak terbagi kedua arah berbagi badan jalan, sehingga pembagian arus memengaruhi kapasitas.
Minggu 6 · CPMK-1
Di luar kota, kecepatan dan menyalip menentukan
Jalan luar kota melayani perjalanan jarak jauh dengan kecepatan tinggi. Kapasitas dipengaruhi medan, lebar jalur, dan pemisah arah; pada jalan dua lajur, kemampuan menyalip menurun cepat seiring bertambahnya arus dari arah berlawanan.
Truk pengangkut sawit yang lambat di jalan dua lajur: berapa banyak kendaraan ringan yang setara dengannya?
Konsep inti jalan luar kota
Bedah soal: ruas Meulaboh–Calang kasus berjalan
2/2TT lebar 7 m, medan datar, pemisah arah 55–45, hambatan samping rendah. Arus jam puncak dua arah: 700 KR, 300 KB, 800 SM.
- Q = 700 + 1,3 × 300 + 0,5 × 800 = 1.490 skr/jam
- C = 3.100 × 1,00 × 0,97 × 0,95 = 2.856,7 skr/jam
- DJ = 1.490/2.856,7 = 0,522 → C
- VB = 68 × 0,95 = 64,6 km/jam ; V = 64,6 × [0,5 + 0,5√0,478] = 54,6 km/jam
Kendaraan berat hanya 17% dari jumlah kendaraan tetapi 26% arus dalam skr. Pada DJ di atas sekitar 0,5, iringan di belakang truk makin panjang; lajur pendakian atau lajur menyalip menjadi pilihan penanganan.
Bank soal soal per NIM
Kuis 2 latihan sebelum kuis
Soal 1Pemisah arah 70–30 dibandingkan 50–50 pada jalan 2/2TT…
FCPA 70–30 sekitar 0,88.
Minggu 7 · CPMK-1
Kapan ruas ini akan macet?
Analisis kinerja ruas tidak berhenti pada kondisi sekarang. Dengan pertumbuhan lalu lintas, derajat kejenuhan naik setiap tahun; analisis menentukan tahun ruas melewati batas yang diinginkan dan membandingkan pilihan penanganan.
Konsep inti Qn = Q₀(1 + i)n
Bedah soal: umur layanan Jalan Utama kasus berjalan
Q₀ = 1.613,6 skr/jam per arah, C = 2.821,5 skr/jam, pertumbuhan 5% per tahun, batas DJ = 0,85.
- n = ln(0,85 × 2.821,5/1.613,6)/ln 1,05 = ln 1,486/0,0488 = 8,1 tahun
- Tahun ke-9 DJ = 0,887 ; tahun ke-12 DJ = 1,03 (macet)
- Hambatan samping diturunkan ke rendah C = 2.880,9 → batas tercapai 8,5 tahun, hanya bertambah sekitar setengah tahun
- Tambah satu lajur per arah C = 4.232,3 → n = 16,4 tahun
Penertiban parkir dan pedagang memperbaiki keselamatan dan kenyamanan, tetapi kapasitasnya hanya naik sedikit. Untuk 10–15 tahun ke depan diperlukan tambahan lajur atau pengalihan arus.
Tugas 2 · Case method
Bank soal soal per NIM
Minggu 8 · CPMK-1 dan CPMK-3
Ujian Tengah Semester
Ujian tertulis materi pertemuan 1–7. Bobot 15%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | Porsi |
|---|---|---|---|
| 1 | Karakteristik lalu lintas dan jarak henti | Uraian + hitungan | 10% |
| 2 | Greenshields | Hitungan | 15% |
| 3 | Survei volume dan kecepatan | Hitungan | 25% |
| 4 | Kapasitas jalan perkotaan dan luar kota | Hitungan | 35% |
| 5 | Proyeksi kinerja | Hitungan | 15% |
Contoh soal dan pembahasan
Soal: Jalan 2/2TT perkotaan lebar 7 m, pemisah arah 60–40, hambatan samping tinggi, kota 0,6 juta jiwa. Hitung kapasitasnya.
- C = 2.900 × 1,00 × 0,94 × 0,88 × 0,94 = 2.255 skr/jam
C = 2.255 skr/jam (dua arah).
Minggu 9 · CPMK-1
Siapa yang mengalah di simpang?
Pada simpang tak bersinyal, pengemudi dari jalan minor mencari celah di arus jalan mayor. Kapasitas dipengaruhi lebar pendekat, ukuran kota, hambatan samping, serta proporsi belok kiri, belok kanan, dan arus jalan minor. Tundaan dan peluang antrean naik tajam saat derajat kejenuhan mendekati 1.
Arus simpang naik 10%, tetapi antrean menjadi dua kali lipat. Mengapa?
Konsep inti C = C₀·FLP·FM·FUK·FHS·FBKi·FBKa·FRmi
Bedah soal: simpang empat pusat kota kasus berjalan
Simpang 4 lengan, lebar rata-rata pendekat 3,5 m, tanpa median, kota 0,2 juta jiwa, FHS = 0,93, belok kiri 15%, belok kanan 12%, arus minor 25% dari total. Arus total 2.400 skr/jam.
- FLP = 0,70 + 0,0866 × 3,5 = 1,003 ; FUK = 0,88 ; FBKi = 0,84 + 1,61 × 0,15 = 1,082 ; FBKa = 1,00 ; FRmi = 1,19 × 0,25² − 1,19 × 0,25 + 1,19 = 0,967
- C = 2.900 × 1,003 × 1,00 × 0,88 × 0,93 × 1,082 × 1,00 × 0,967 = 2.489 skr/jam
- DJ = 2.400/2.489 = 0,964
- T = 1,0504/(0,2742 − 0,2042 × 0,964) − 2 × 0,036 = 13,5 detik/skr ; PA = 37–74%
Simpang sudah hampir jenuh: kemungkinan antrean muncul 37–74% dari waktu jam puncak. Alternatif penanganan dibandingkan di minggu 14.
Bank soal soal per NIM
Cek pemahaman
Soal 1Kapasitas simpang tak bersinyal naik bila proporsi belok kiri bertambah karena…
FBKi = 0,84 + 1,61pBKi naik dengan pBKi.
Minggu 10 · CPMK-1
Membagi waktu hijau secara adil
Lampu lalu lintas memisahkan arus yang berkonflik dalam fase. Kapasitas setiap pendekat sama dengan arus jenuhnya dikali rasio hijau; waktu siklus optimum Webster meminimalkan tundaan, dan waktu hijau dibagi sebanding rasio arus kritis setiap fase.
Mengapa siklus lampu yang sangat panjang tidak selalu mengurangi antrean?
Simpang APILL dua fase: utara–selatan hijau, timur–barat menunggu.
Konsep inti Webster
Bedah soal: simpang empat dengan dua fase kasus berjalan
Simpang pusat kota diberi lampu dua fase. Pendekat kritis: utara 700 skr/jam (fase 1), barat 550 skr/jam (fase 2). Lebar efektif 5 m, S = 600 × 5 × 0,88 × 0,93 = 2.455 skr/jam hijau. LTI = 2 × (3 + 2) = 10 detik.
- FR₁ = 700/2.455 = 0,285 ; FR₂ = 550/2.455 = 0,224 ; Y = 0,509
- c₀ = (1,5 × 10 + 5)/(1 − 0,509) = 40,7 detik
- g₁ = 30,7 × 0,285/0,509 = 17,2 detik ; g₂ = 13,5 detik
- C₁ = 2.455 × 17,2/40,7 = 1.037 skr/jam → DJ = 0,675 (sama untuk kedua fase)
- Tundaan rata-rata pendekat kritis ≈ 12,6 detik/skr
Dengan sinyal, DJ pendekat kritis turun ke 0,67 dan tundaan rata-rata sekitar 12,6 detik, sedikit lebih baik dari 13,5 detik saat tak bersinyal, dengan konflik yang jauh lebih terkendali. Dalam praktik siklus dibulatkan ke atas, misalnya 45 detik.
Bank soal soal per NIM
Cek pemahaman
Soal 1Bila Y mendekati 1, siklus Webster…
c₀ = (1,5LTI + 5)/(1 − Y).
Minggu 11 · CPMK-1
Antrean harus muat di ruang yang ada
Analisis simpang lengkap meliputi kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan, dan panjang antrean setiap pendekat. Antrean yang lebih panjang dari jarak ke simpang sebelumnya akan menghambat simpang itu juga.
Konsep inti panjang antrean
Bedah soal: antrean pendekat utara kasus berjalan
Pendekat utara: Q = 700 skr/jam, c = 40,7 detik, g = 17,2 detik, C = 1.037 skr/jam, DJ = 0,675, lebar masuk 5 m. Jarak ke simpang sebelumnya 120 m.
- NQ₁ = 0,25 × 1.037 × [(0,675 − 1) + √(0,675 − 1)² + 8 × 0,175/1.037] = 0,54 skr
- g/c = 0,423 ; NQ₂ = 40,7 × 0,577/(1 − 0,423 × 0,675) × 700/3.600 = 6,4 skr
- NQ = 6,9 skr → panjang antrean = 6,9 × 20/5 = 28 m < 120 m ✓
Antrean rata-rata 28 m, jauh di bawah jarak ke simpang sebelumnya, sehingga simpang tidak saling mengunci.
Tugas 3 · Case method
Bank soal soal per NIM
Minggu 12 · CPMK-2
Menambah jalan bukan satu-satunya jawaban
Manajemen lalu lintas mengoptimalkan jalan yang ada melalui tiga strategi: manajemen kapasitas (memanfaatkan ruang jalan sebaik mungkin), manajemen prioritas (mendahulukan angkutan umum, pejalan kaki, kendaraan darurat), dan manajemen permintaan (mengurangi atau memindahkan perjalanan).
Larangan parkir di badan jalan dan jam masuk sekolah yang digeser 15 menit: mana yang lebih besar dampaknya?
| Strategi | Contoh tindakan |
|---|---|
| Manajemen kapasitas | Larangan parkir di badan jalan, penertiban pedagang, jalan satu arah, larangan belok kanan, koordinasi sinyal |
| Manajemen prioritas | Lajur khusus angkutan umum, fasilitas pejalan kaki dan pesepeda, prioritas kendaraan darurat |
| Manajemen permintaan | Pengaturan jam masuk sekolah dan kantor, tarif parkir, pembatasan kendaraan berat pada jam tertentu |
Bedah soal: dua tindakan untuk Jalan Utama kasus berjalan
Kondisi sekarang DJ = 0,572 (hambatan samping sedang). Tindakan A: penertiban parkir sehingga hambatan samping menjadi rendah. Tindakan B: jam masuk sekolah digeser sehingga 8% arus jam puncak pindah ke jam lain.
- A C = 2.880,9 → DJ = 1.613,6/2.880,9 = 0,560
- B Q = 0,92 × 1.613,6 = 1.484,5 → DJ = 1.484,5/2.821,5 = 0,526
- A + B DJ = 1.484,5/2.880,9 = 0,515
Pada kasus ini manajemen permintaan (B) lebih efektif daripada penertiban parkir (A), dan hampir tanpa biaya. Penertiban parkir tetap penting untuk keselamatan pejalan kaki.
Cek pemahaman
Soal 1Lajur khusus bus termasuk strategi…
Ruang jalan diberikan lebih dulu kepada angkutan berkapasitas besar.
Minggu 13 · CPMK-2
Kecelakaan tidak tersebar merata
Data kecelakaan dibobot menurut tingkat keparahan dan dibandingkan dengan jumlah lalu lintas yang lewat. Lokasi yang tingkat kecelakaannya melampaui batas kontrol atas secara statistik ditetapkan sebagai lokasi rawan dan diprioritaskan penanganannya.
Ruas A mencatat 30 kecelakaan, ruas B 15 kecelakaan. Apakah ruas A pasti lebih berbahaya?
Konsep inti tingkat kecelakaan dan batas kontrol atas
Bedah soal: apakah Jalan Utama lokasi rawan? kasus berjalan
Ruas 2 km, data 3 tahun: 24 kecelakaan (2 meninggal, 5 luka berat, 20 luka ringan, 8 kerugian materi saja). LHRT 18.000 kendaraan/hari. Tingkat kecelakaan rata-rata jalan sejenis di kabupaten λ = 45 per 100 juta kendaraan-km.
- TK = 24 × 10⁸/(365 × 3 × 18.000 × 2) = 60,9 per 100 juta kendaraan-km
- m = 365 × 3 × 18.000 × 2/10⁸ = 0,394
- UCL = 45 + 2,576√(45/0,394) + 0,829/0,394 + 1/(2 × 0,394) = 75,9
- AEK = 12 × 2 + 3 × 5 + 3 × 20 + 8 = 107
TK 60,9 di atas rata-rata (45) tetapi di bawah UCL (75,9), sehingga secara statistik belum ditetapkan sebagai lokasi rawan. Namun AEK 107 dengan 2 korban meninggal menunjukkan perlunya audit keselamatan, terutama di depan sekolah.
Bank soal soal per NIM
Kuis 3 latihan sebelum kuis
Soal 1Membandingkan dua ruas dengan jumlah kecelakaan saja tidak tepat karena…
Karena itu dipakai tingkat kecelakaan per kendaraan-km.
Minggu 14 · CPMK-2
Sinyal, bundaran, atau pelebaran?
Setiap alternatif penanganan simpang dinilai dari kinerja (derajat kejenuhan dan tundaan), keselamatan (jumlah dan jenis titik konflik), biaya, dan dampak lingkungan (lahan, emisi selama menunggu). Nilai waktu tundaan yang dihemat dibandingkan dengan biaya penanganan.
Konsep inti perbandingan alternatif
Bedah soal: tiga alternatif simpang pusat kota kasus berjalan
Kondisi sekarang: tak bersinyal DJ 0,96, tundaan 13,5 detik/skr. Alternatif: (1) pelebaran pendekat menjadi 5 m tetap tak bersinyal; (2) sinyal dua fase (minggu 10); (3) bundaran satu lajur dengan arus masuk pendekat tersibuk 700 skr/jam dan arus melingkar 600 skr/jam.
- Pelebaran FLP = 0,70 + 0,0866 × 5 = 1,133 → C = 2.812 → DJ = 0,854 ; tundaan 10,2 detik/skr
- Sinyal DJ pendekat kritis 0,675 ; tundaan rata-rata ±12,6 detik/skr
- Bundaran satu lajur c = 1.130 × e−0,6 = 620 skr/jam < 700 → x = 1,13 (tidak cukup; perlu bundaran dua lajur)
Pelebaran memberi tundaan rata-rata terkecil tetapi DJ 0,85 sudah di batas dan perlu pembebasan lahan. Sinyal memberi cadangan kapasitas terbesar dan mengendalikan konflik. Bundaran satu lajur tidak cukup. Dengan angka contoh di kalkulator, penghematan nilai waktu saja memberi waktu balik modal sekitar 25 tahun (pelebaran) dan 33 tahun (sinyal), sehingga alasan utama penanganan adalah keselamatan (konflik bersilangan dikendalikan) dan cadangan kapasitas untuk pertumbuhan lalu lintas. Rekomendasi: sinyal dua fase sekarang, dengan pelebaran disiapkan untuk jangka menengah.
Tugas 4 · Case method
Bank soal soal per NIM
Minggu 15 · CPMK-2
Kawasan sekolah yang aman
Kawasan sekolah memadukan anak-anak yang menyeberang, kendaraan antar-jemput yang berhenti, dan arus lalu lintas menerus. Penanganannya: kecepatan rendah, fasilitas penyeberangan yang sesuai volume, rambu dan marka yang jelas, serta tempat antar-jemput di luar badan jalan.
Zebra cross saja, atau perlu lampu penyeberangan? Bagaimana menentukannya?
Kawasan sekolah: zona kecepatan rendah, penyeberangan, rambu, dan teluk antar-jemput.
Konsep inti kriteria P·V² dan kapasitas parkir
Bedah soal: penyeberangan dan parkir di depan sekolah kasus berjalan
Rata-rata 4 jam tersibuk: 300 penyeberang/jam, 1.000 kendaraan/jam (dua arah). Parkir antar-jemput: 20 petak, akumulasi maksimum 34 kendaraan, durasi rata-rata 10 menit selama jam antar-jemput 60 menit.
- P·V² = 300 × 1.000² = 3,0 × 10⁸
- Menurut tabel kalkulator ≥ 2 × 10⁸ → penyeberangan dengan lampu (pelikan)
- Indeks parkir = 34/20 = 1,7 ; kapasitas dinamis = 20 × 60/10 = 120 kendaraan/jam
Pasang lampu penyeberangan pelikan dalam Zona Selamat Sekolah dengan batas kecepatan rendah. Kebutuhan parkir antar-jemput 70% di atas petak tersedia: sediakan teluk antar-jemput di halaman sekolah dan atur jadwal penjemputan bertahap.
Tugas 5 · Case method
Bank soal campuran
Cek pemahaman
Soal 1Teluk antar-jemput di halaman sekolah terutama bertujuan…
Kendaraan berhenti di badan jalan menurunkan kapasitas dan menutupi pandangan pengemudi terhadap anak yang menyeberang.
Minggu 16 · CPMK-1 sampai CPMK-3
Ujian Akhir Semester
Ujian tertulis seluruh materi Rekayasa Lalu Lintas. Bobot 20%.
Kisi-kisi
| No. | Materi | Bentuk | Porsi |
|---|---|---|---|
| 1 | Simpang tak bersinyal | Hitungan | 20% |
| 2 | Simpang bersinyal | Hitungan | 25% |
| 3 | Manajemen lalu lintas dan alternatif | Uraian + hitungan | 20% |
| 4 | Keselamatan lalu lintas | Hitungan | 20% |
| 5 | Pengolahan data survei | Hitungan | 15% |
Contoh soal dan pembahasan
Soal: Simpang mencatat 9 kecelakaan dalam 3 tahun dengan arus masuk harian 25.000 kendaraan. Hitung tingkat kecelakaannya.
- TK = 9 × 10⁶/(365 × 3 × 25.000) = 0,33 kecelakaan per juta kendaraan masuk
TK = 0,33 per juta kendaraan.